Manado, Barta1.com Keindahan rumput savana, tumbuhan pakis, edelweiss, beserta pohon cemara merupakan salah satu kekayaan alam yang ditemukan di Gunung Merbabu.
Bahkan Gunung yang keberadaanya di Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah itu terkenal dengan 3 puncaknya, di antaranya puncak triangulasi, kenteng songo dan syarif.

Gunung yang memiliki ketinggian 3124 MDPL itu menyuguhkan keindahan alamnya di waktu cerah, di mana setiap pendaki akan melihat beberapa gunung dari puncak Merbabu, seperti gunung Lawu, Sindoro, Sumbing, Prau, Andong, Telomoyo dan Ungaran. Hal itulah yang diceritakan oleh Stivo Glendy Sumilat kepada Barta1.com, kamis (28/04/2024).
“Merbabu memiliki 5 pos dan 2 sabana untuk area camping. Untuk mencapai lokasi camping membutuhkan waktu tracking 6 sampai 9 jam, dari pintu gerbang taman nasional Merbabu via Selo,” ungkap anak kedua dari tiga bersaudara dari pasangan Stenly Sumilat dan Nova Sondakh.
Kemudian, kata Stivo, dari area camping menuju puncak triangulasi hanya membutuhkan 1 sampai 2 jam. Bahkan medannya juga, tidak terlalu menantang, karena terawat dan terjaga. “Kita juga bisa melihat berbagai jenis fauna saat melewati kecamatan Selo via Selo, seperti monyet dan beberapa jenis burung,” ujar pemuda kelahiran Tompaso, 28 Maret 1999 itu.
Ia menambahkan, sebuah pendakian mengajarkan banyak pengetahuan dan pengalaman, di antaranya melihat perbedaan cara pengelolaan dan pemanfaatan Gunung di Sulut dan Jawa. Selain itu juga, bisa mempelajari nilai sosial masyarakatnya. Di sana, orang-orangnya baik dan ramah kepada setiap pendatang.
“Di sisi lain, setiap orang yang akan melakukan pendakian di Gunung Merbabu. Jika tidak membawa sampahnya kembali, akan didenda sesuai dengan harga yang ditetapkan oleh petugas taman nasional,” ucapnya.
Adapun hal yang tidak bisa dilakukan ketika berada di puncak Kenteng songo, seperti dilarang menginjakkan kaki di bebatuan artefak, apalagi perempuan yang sedang menstruasi, ketika menyentuh batu artefak itu akan membawa kesialan.
“Selain beberapa tantangan yang sudah disebutkan di atas, adapun tantangan lainnya pada saat pendakian yaitu suhu. Di Sulut suhunya hanya 15 derajat, sedangkan di Merbabu itu 7 derajat Celsius, berarti sangat dingin,” terangnya.
Sedangkan untuk administrasi pendakian, menurut Stivo, setiap pendaki terlebih dahulu harus melakukan pendaftaran secara online, kemudian membuat surat kesehatan agar bisa diijinkan naik.
“Berkaitan dengan biaya menuju Merbabu, saya hanya menghabiskan uang sebesar Rp 2 Juta. Saya memulai perjalanan dari Kota Bitung ke Surabaya menggunakan Kapal Pelni. Selanjutnya dari Surabaya ke Jogja menaiki transportasi darat kereta api, kemudian menaiki mobil hingga ojek online untuk sampai ke lokasi,” jelasnya.
Lanjut Mahasiswa Universitas Negeri Manado ini, bahwa menuju Gunung Merbabu itu tidak memakan biaya yang begitu besar, ketika mengikuti jalur laut dan darat. Dan untuk melakukan pendakian, setiap pendaki harus memperhatikan fisik dan mentalnya. Kemudian menyiapkan perlengkapan yang memadai, sesuai dengan kondisi waktu dan tempat yang akan dituju.
“Jika ada yang ingin ke sana (Merbabu). Hanya ingin menyampaikan, tidak sia-sia perjalanannya. Kelelahan dalam perjalanan akan terbayarkan dengan satu keindahan ketika menginjakkan kaki di antara 3 puncak Gunung Merbabu ini,” pungkasnya.
Diketahui, Stivo menjadikan pendakian sebagai hobinya sejak duduk di bangku SMP kelas 8, dan hingga hari ini masih bergiat. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post