• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Minggu, April 19, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home News Edukasi

Dulu Kayu, Sekarang Baja Ringan: Apakah Kita Kehilangan Kearifan Lokal ?

by Meikel Eki Pontolondo
10 Februari 2024
in Edukasi
0
Rangka Kayu dan Baja Ringan. (foto: istimewa)

Rangka Kayu dan Baja Ringan. (foto: istimewa)

0
SHARES
29
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Noldie E. Kondoj,ST., MT. dan Ir. Aris Sampe, M.Th.

Dosen Politeknik Negeri Manado

Jika Anda berjalan ke desa-desa tua atau menyusuri perkampungan bersejarah, Anda akan menemukan satu ciri khas yang semakin langka: atap rumah dengan rangka kayu, tersusun rapi, kuat, dan estetis. Kayu jati, meranti, atau ulin bukan hanya berfungsi sebagai penopang atap, tetapi juga menyimpan jejak keahlian tukang lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi. Namun kini, hampir semua proyek pembangunan, dari kota hingga desa, beralih ke baja ringan. Pertanyaannya: apakah pergeseran ini hanya soal efisiensi, atau ada nilai-nilai lokal yang ikut hilang?

Baja ringan hadir dengan segala keunggulannya. Ia cepat dipasang, tahan rayap, dan relatif murah. Dalam dunia konstruksi modern yang mengejar kecepatan dan efisiensi biaya, baja ringan tentu masuk akal. Tak heran jika proyek pemerintah, pengembang perumahan, hingga bangunan pribadi, ramai-ramai meninggalkan kayu sebagai material utama atap.

Namun peralihan ini tak hanya membawa perubahan teknis. Ada kearifan lokal yang perlahan tergerus, bahkan dilupakan. Dulu, pembangunan rumah adalah proses kolektif: tukang kayu, warga sekitar, dan pemilik rumah saling bekerja sama. Pengetahuan tentang jenis kayu, teknik sambungan, hingga filosofi bangunan adat diwariskan secara lisan dan dipraktikkan langsung. Rangka atap kayu bukan sekadar struktur, tetapi karya budaya.

Kini, sebagian besar rangka baja ringan datang dalam bentuk paket siap pasang. Tukang tidak lagi ditantang untuk “mikir dan mengukur”, cukup mengikuti pola. Anak muda yang dulu belajar pertukangan dari ayahnya, kini lebih tertarik menjadi aplikator cepat baja ringan, tanpa perlu tahu tentang jenis-jenis kayu atau teknik pengikatan tradisional. Perlahan tapi pasti, kita kehilangan satu generasi pengrajin lokal yang kaya keterampilan dan rasa.

Tentu bukan berarti baja ringan adalah pilihan buruk. Dunia berubah, dan inovasi adalah keniscayaan. Namun, dalam proses adaptasi, kita perlu bertanya: apakah semua yang efisien harus menggantikan yang berakar? Mengapa tidak mempertimbangkan integrasi—menggunakan baja ringan untuk fungsionalitas, tapi tetap menjaga unsur kayu lokal sebagai identitas arsitektur ?

Sebagian arsitek kini mulai kembali ke pendekatan arsitektur tropis berkelanjutan, yang memadukan teknologi modern dengan material lokal. Rangka baja ringan bisa saja tetap digunakan, namun dengan finishing kayu yang mengangkat nilai estetika dan budaya. Rumah bukan hanya soal berdiri dan berfungsi, tetapi juga soal mewakili siapa kita dan dari mana kita berasal.

Pada akhirnya, kita tidak menolak baja ringan, tapi juga tidak boleh melupakan kayu sebagai bagian dari warisan teknik dan budaya lokal. Di tengah arus modernisasi, penting untuk menyeimbangkan antara kecepatan pembangunan dengan pelestarian nilai. Karena rumah bukan sekadar bangunan—ia adalah cerita tentang manusia, lingkungan, dan tradisi yang hidup di dalamnya. (*)

Barta1.Com
Tags: Aris SampeBaja RinganDosen Politeknik NegerI ManadoNoldie E. Kondoj
ADVERTISEMENT
Meikel Eki Pontolondo

Meikel Eki Pontolondo

Jurnalis di Barta1.com

Next Post
Sandi Tuhulele (foto istimewa)

Sandi Tuhelele Tektok ke Gunung Marijang, Budaya dan Keindahannya

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Dari Bibit Tomat hingga Rafting: Cara KMPA Tansa Rayakan Hari Bumi di Manado 19 April 2026
  • IKA Polimdo: Larangan Vape adalah Investasi Kesehatan Mahasiswa 19 April 2026
  • Kakanwil Kemenkumham Sulut Temui Gubernur Yulius Selvanus, Bahas Harmonisasi Ranpergub 19 April 2026
  • Mencari Grand Master Masa Depan dari Sulawesi Utara 19 April 2026
  • Pecatur Muda Memukau dan Ukir Prestasi di BNNP Sulut Cup 2026 18 April 2026

AmsiNews

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In