Oleh: Noldie E. Kondoj,ST., MT. dan Ir. Aris Sampe, M.Th.
Dosen Politeknik Negeri Manado
Jika Anda berjalan ke desa-desa tua atau menyusuri perkampungan bersejarah, Anda akan menemukan satu ciri khas yang semakin langka: atap rumah dengan rangka kayu, tersusun rapi, kuat, dan estetis. Kayu jati, meranti, atau ulin bukan hanya berfungsi sebagai penopang atap, tetapi juga menyimpan jejak keahlian tukang lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi. Namun kini, hampir semua proyek pembangunan, dari kota hingga desa, beralih ke baja ringan. Pertanyaannya: apakah pergeseran ini hanya soal efisiensi, atau ada nilai-nilai lokal yang ikut hilang?
Baja ringan hadir dengan segala keunggulannya. Ia cepat dipasang, tahan rayap, dan relatif murah. Dalam dunia konstruksi modern yang mengejar kecepatan dan efisiensi biaya, baja ringan tentu masuk akal. Tak heran jika proyek pemerintah, pengembang perumahan, hingga bangunan pribadi, ramai-ramai meninggalkan kayu sebagai material utama atap.
Namun peralihan ini tak hanya membawa perubahan teknis. Ada kearifan lokal yang perlahan tergerus, bahkan dilupakan. Dulu, pembangunan rumah adalah proses kolektif: tukang kayu, warga sekitar, dan pemilik rumah saling bekerja sama. Pengetahuan tentang jenis kayu, teknik sambungan, hingga filosofi bangunan adat diwariskan secara lisan dan dipraktikkan langsung. Rangka atap kayu bukan sekadar struktur, tetapi karya budaya.
Kini, sebagian besar rangka baja ringan datang dalam bentuk paket siap pasang. Tukang tidak lagi ditantang untuk “mikir dan mengukur”, cukup mengikuti pola. Anak muda yang dulu belajar pertukangan dari ayahnya, kini lebih tertarik menjadi aplikator cepat baja ringan, tanpa perlu tahu tentang jenis-jenis kayu atau teknik pengikatan tradisional. Perlahan tapi pasti, kita kehilangan satu generasi pengrajin lokal yang kaya keterampilan dan rasa.
Tentu bukan berarti baja ringan adalah pilihan buruk. Dunia berubah, dan inovasi adalah keniscayaan. Namun, dalam proses adaptasi, kita perlu bertanya: apakah semua yang efisien harus menggantikan yang berakar? Mengapa tidak mempertimbangkan integrasi—menggunakan baja ringan untuk fungsionalitas, tapi tetap menjaga unsur kayu lokal sebagai identitas arsitektur ?
Sebagian arsitek kini mulai kembali ke pendekatan arsitektur tropis berkelanjutan, yang memadukan teknologi modern dengan material lokal. Rangka baja ringan bisa saja tetap digunakan, namun dengan finishing kayu yang mengangkat nilai estetika dan budaya. Rumah bukan hanya soal berdiri dan berfungsi, tetapi juga soal mewakili siapa kita dan dari mana kita berasal.
Pada akhirnya, kita tidak menolak baja ringan, tapi juga tidak boleh melupakan kayu sebagai bagian dari warisan teknik dan budaya lokal. Di tengah arus modernisasi, penting untuk menyeimbangkan antara kecepatan pembangunan dengan pelestarian nilai. Karena rumah bukan sekadar bangunan—ia adalah cerita tentang manusia, lingkungan, dan tradisi yang hidup di dalamnya. (*)


Discussion about this post