• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Sabtu, Mei 16, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home News Edukasi

Sandi Tuhelele Tektok ke Gunung Marijang, Budaya dan Keindahannya

by Meikel Eki Pontolondo
11 Februari 2024
in Edukasi
0
Sandi Tuhulele (foto istimewa)

Sandi Tuhulele (foto istimewa)

0
SHARES
279
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Manado, Barta1.com – Setiap gunung pasti akan memiliki sejarahnya, bahkan akan melekat dengan adat dan budaya dari masyarakat setempat. Begitupun, dengan pegunungan Marijang Tidore, Maluku Utara, Indonesia.

“Gunung Marijang Tidore ini bukan sekedar dinikmati keindahannya, melainkan juga menjadi tempat berdoa bagi masyarakat setempat, mengingat budaya dan adat masyarakat Tidore masih terjaga dengan baik,” ungkap  Sandi Tuhulele kepada Barta1.com, Minggu (11-02-2024).

Bahkan di gunung Marijang Tidore itu, kata anggota Mapala Palamik (Pencinta Alam Ilmu Kelautan) Unsrat itu, bahwa ada lokasi yang namanya batas suci,  di mana setiap pendaki tidak diijinkan untuk membuang sampah, air kecil maupun besar.

“Adapun larangan dari masyarakat setempat, ketika  berada di gunung yang memiliki 6 pos ini untuk tidak melakukan keributan,” singkat anak pertama dari pasangan Ridwan Tuhulele dan Ainun Dotulung.

Untuk menghormati budaya tersebut, tambah Sandi, dirinya  sudah menyiapkan beberapa wadah untuk membawa  kembali sampah, setelah melakukan pendakian. Sedangkan membuang air kecil dan sebagainya, dirinya sudah menyiapkan wadah yang berisikan air dari pos 1.

“Ketika melakukan pendakian di gunung Marijang Tidore, saya dan teman hanya melakukan tektok (kegiatan naik turun gunung dalam waktu satu hari) dengan waktu 6 jam sampai puncak, kemudian turun lagi. Mengingat, saya  akan melakukan pandakian lanjutan di gunung Gamkonora,” terang pemuda kelahiran Manado, 10 Maret 2000 itu.

Sandi menambahkan, di luar dari berbagai hal yang harus diikuti karena  adat dan budaya setempat, tapi gunung yang memiliki ketinggian 1.750 Mdpl itu menyimpan keindahan dari puncaknya, seperti melihat keindahan Kota Ternate, lautan, bahkan bisa melihat langsung keindahan  3 gunung lainnya, seperti Gamalama, Kie Besi dan Maitara.

“Intinya, ketika ingin melakukan pendakian yang bukan di tempat kita, sedianya mempelajari dahulu budaya dan adat dari masyarakat setempat. Kemudian, ketika melakukan pendakian tentunya hal yang utama adalah mental dan fisik, serta perlengkapan yang memadai,” tuturnya.

Lanjut Sandi, jika setiap pendaki tidak menyiapkan fisik dan mental secara baik, tentunya tidak bisa mencapi puncak dari gunung Marijang Tidore ini, mengingat medannya sangat beresiko, apalagi secara administrasi wilayah Tidore sampai pada gunung Marijang ini  belum masuk Kawasan Konservasi, terbukti dengan tidak adanya pengurusan simaksi.

“Kemudian dengan  beberapa gunung yang sudah dijejaki, saya berencana ke depannya akan melakukan ekspedisi lagi dengan membawa nama Indonesia Mountain Sandi Tuhulele. Saya akan melakukan pendakian gunung-gunung di Indonesia, sembari ingin menambah jejaring dan pengetahuan,” kata kader HMI itu sambil tersenyum.

Saat ditanya kenapa suka dengan pendakian, Sandi menjawab, semua berawal dari teman-temannya yang menyuguhkan keindahan dari gunung yang dituju. Melihat hal itu, dirinya kemudian mendaftarkan diri menjadi calon anggota Mapala Palamik Unsrat, yang akhirnya menjadi anggota penuh.

“Dari setiap pengetahuan yang didapatkan, apalagi saya suka membaca materi mounteneering, yang di mana bisa mengetahui tujuan dari pendakian itu dilakukan, apakah itu untuk rekreasi atau olahraga,” ucapnya.

Dalam pendakian itu juga, setiap orang pastinya akan belajar tentang apa itu  kesabaran dan pembelajaran hidup, apalagi akan dipertemukan dengan medan-medan yang menantang. (*)

Peliput: Meikel Pontolondo

 

Barta1.Com
Tags: gunung MarijangMaluku UtaraSandi TuhuleleTIidore
ADVERTISEMENT
Meikel Eki Pontolondo

Meikel Eki Pontolondo

Jurnalis di Barta1.com

Next Post
Foto: PJ. Bupati Sangihe bersama Pam Pemilu 2024. (Dok. Istimewa)

Personil Polres Sangihe Siapkan Pengamanan Pemilu 2024

Discussion about this post

Berita Terkini

  • 13 Tahun Putusan MK.35: Negara Masih Ingkar terhadap Hak-Hak Masyarakat Adat 16 Mei 2026
  • Dukungan Modal Usaha Dorong Pemberdayaan UMKM di Gorontalo 16 Mei 2026
  • Daya 66.000 VA Menyala di Melonguane, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Beranda Utara NKRI 16 Mei 2026
  • Meningkatkan Akses Desa, Bantuan TJSL Wujudkan Jalan Paving di Tempang Dua 16 Mei 2026
  • PLN UID Suluttenggo Pastikan Kelistrikan Andal Saat Kunjungan Presiden Prabowo di Gorontalo 16 Mei 2026

AmsiNews

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In