Manado, Barta1.Com — Seorang lelaki dengan rambut warna tembaga pulang dari laut, ia anak suku masih menyimpan Bajo dengan perahu kayu, kail layang-layang. Di tangannya ada sekeranjang ikan Sako mengisah tradisi gemilang rumah-rumah laut yang –harusnya– tak hilang.
Frasa di atas, pertama-tama dapat disebut sebagai Bajo yang puitis. Dan banyak penulis telah menulis Bajo, suku sea nomad, orang laut dan pengembara laut.
Persebaran Suku Bajo dalam catatan para peneliti, relative luas di pesisir Indonesia, Malaysia, Brunei, Philipina, Vietnam, dan Thailand.
Suku Bajo yang menetap akan mencari sebuah labuhan yang berdekatan dengan sumber air tawar, terhindar dari tiupan angin kencang, kedalaman air yang dangkal, kawasan karang, hutan bakau sehingga terdapat banyak sumber hasil laut.
Rumah Suku Bajo memiliki ciri khas, dibangun di atas perairan, sederhana dan mampu beradaptasi di lingkungan yang ekstrem, seperti ombak, arus laut, dan angin, yang menjadi denyut kehidupan mereka sehari-hari.
Di Sulawesi Utara, kita bisa bertemu orang-orang Bajo di teluk Sompini, Desa Tumbak, Minahasa Tenggara, atau di Desa Kimabajo Wori, Minahasa Utara dan di beberapa pulau di pesisir.
Tumbak adalah salah satu desa yang merekam kisah para penjelajah ini. Sejumlah literatur mencatat hal tersebut. Sebagian besar warga Tumbak adalah suku Bajo.
Berikut kami sajikan liputan puitis tentang orang-orang Bajo dan keseharian hidupnya saat ini, yang ditulis dalam bentuk refleksi puisi oleh Iverdixon Tinungki dari Barta1.com saat berkunjung ke Desa Tumbak, Minahasa Tenggara, dan Kimabajo, Minahasa Utara, belum lama ini. (*)
KIMABAJO
di pijar kumuh rumahrumah petak beralas pasir
kupandang kimabajo
rumahrumah apung surut ke darat
mereka dipaksa menepi
reruntuk gelagar penjemuran ikan asin
melepas anyir terakhir
di sana bajo tak lagi suku air
seorang lelaki dengan rambut warna tembaga pulang dari laut
ia anak suku masih menyimpan bajo dengan perahu kayu
kail layanglayang. sekeranjang ikan sako
mengisah tradisi gemilang rumahrumah laut yang hilang
dari sebuah hotel di pesisir , turisturis berlarian mengarahkan jepretan
kemiskinan bajo dibawa sebagai oleole riang
ke negaranegara mereka dipenuhi kisahkisah kemakmuran
bajo seakan fosil yang ingin dijual
dalam paketpaket pariwisata terus menjarah
tanah laut kita
tak jauh ada bangkai perahu
menceritakan wajah laut muram itu
bau pesing. sungai pucat di kening
menghanyutkan cahaya bulan teguh mendirikan isak hati karam
hari menggigil di tengah udara bajo. terik
sampansampan terapung. perempuan melilitkan kain ke pinggang
tak lagi menyanyikan angin saat menyeduh umbiumbian di belanga menggantung
sebuah tradisi telah punah
karena ketidaktahuan kita akan petapeta riang kehidupan
anakanak jadi pasir
menggelinding dalam permainan ombak para peselancar
bungabunga kopi di pesisir berubah bijibijian
disangrai air mata bajo yang kelam
sejarah masa kini tak lebih bangkaibangkai arkeologis menepis keyakinan
di mana seluruh jiwa melekat dalam ikatan hidup abadi
karena sebuah dosa berasal dari dosa lain
kimabajo kini seakan pantaipantai surealis dari kenangan tenggelam
menyimpanan rahasia masa lalu dengan apik ke tepi sepi
DARI BENTENAN KE TUMBAK
dari bentenan ke desa tumbak
kulayari kisah perangperang kuno
sebelum dan sesudah musafir barat menukar beras dan dammar
dan kolonialisme membaca peta nicolas desliens
tentang negeri timur menyusu di dua musim
jadi bujur baru pada syawat penghisapan sejak masa lalu
kapalkapal datang dengan perangai peperangan
tapi bentengbenteng air itu berdiri membentuk dinding
melatih pengayuh tak jerih bertahan melawan miskin
beribu martir bangkit dan tenggelam
masih saja di sana, dua arus bertemu menyuarakan gelisah desadesa
aku bersua janjijanji selalu mati di rumahrumah apung
para pemberaninya menjadi tulangtulang tak berarti
dari saman para bajak laut
perompakperompak selatan
mereka hidup dalam mitosmitos peperangan
terus mengganyang imprealis hingga merdeka itu datang
tapi kini setiap orang hanya punya sebuah legenda periperi riang
dikejarnya dengan susah payah, sekalipun menempuh mati yang sama
dalam musimmusim berjalan tertatihtatih di lengannya
kendati kemerdekaan tak memberi mereka senyuman
di pesisirpesisir jauh itu entah bagaimana, tetap saja terjaga suatu keyakinan
bahwa bila pohonpohon saling berbisik tentang bunga
akan ditabur ke atas pagi
maka tak siasia masa lalu punya harihari patut dikenangkan
selalu ada ketika seseorang mengayuh di undakan laut
memancarkan asin ke kecupannya
membuat ia menghargai hidup
lalu mereka akan mencari kerik belalang bernyanyi dikesunyian
mengganti kenangan burungburung murai lelap di dedahan
mengilhami pelukan di tengah rambutrambut basah terjurai ke suatu masa
tentang ubin kayu jati pecahpecah
beralas balacu masih putih
hati mereka rebah mensyukuri harihari
di balik tetiris atapatap rumbia membengkok bagai cemeti
lalu ada yang berjalan bersama Tuhan di malam dan siang hari
menamai laut dan bukit akan diingatnya hingga di suatu ketika nanti
saat merdeka benarbenar memberi mereka sebiji sesawi
buat mengubah hidup masih saja berkubang dari ratap ke ratap
atau melarung kembali peperangan ke laut tak henti menyemi dendam
KETIKA LAUT BERNYANYI
dari mana asal usulmu
pasirpasir menimbuni bangkai rumput
nafas siput, anak kura dikejar hiu
dari tanjung ke tanjung bau abu para hantu
merekatkan bebatu sebentar tumbuh benteng api
mendagangi tubuh tanahmu
dunia ketiga swalayan asing bagi diri
aku mau perang di sini
di atas laut bernyanyi
mengejar waktu begitu cepat berlari
bagaimana menyusun kembali
belulangbelulang retak ini
pupus berulangkali
dengan hati nabi
pertempuran harus dimulai
sebelum esok tak kita miliki
BERPERAHU DI TIMUR KITA
berperahulah di sini, di timur kita
dengan pinisi dan kora sendiri
di ruh pertempuran harga diri
biar perahu laut ini jadi cerita abadi
kita takkan lagi berlayar ke barat
ke sarang para penipu, pencoleng, perompak
ke otak penuh rancang kiamatkiamat
memerah rakyat bawah tak lagi punya suara
sekadar meratap
berperahulah di sini, di mimpimimpi kita
leluasa menenum kembali kisahkisah bandar
perahuperahu timur teguh menganyam
gemuruh demi gemuruh jadi lembaranlembaran buku
bacaan anak cucu
kayuhan demi kayuhan akan mendekatkan semua harapan
pernah tumbuh di batangbatang sejarah
hingga semua yang kita sesap dan makan
adalah buah jerih lelah, tiap jengkal tanah laut
yang kita rawat
sudah saatnya kita lupakah semua kepalsuan
dongengdongeng murah tak punya daya mengubah
berhektarhektar mimpi kita jadi untung selamat
bermilmil harapan kita bertemu bandarbandar rahmat
barangkali tak ada lagi kata tawar menawar
untuk pilihan harus ditegakkan ini
dimana saatnya kita berperahu di laut sendiri
Penulis: Iverdixon Tinungki

Discussion about this post