• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Kamis, April 30, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Kultur Sastra

Amato Assagaf, Buku Puisi 1994 dan Catatan Kecil Tentangnya

by Iverdixon Tinungki
24 Januari 2026
in Sastra
0
Buku Puisi karya Amato Assagaf

Buku Puisi karya Amato Assagaf

0
SHARES
53
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Iverdixon Tinungki

Dalam sebuah puisinya berjudul Arum, Puitika Amato Assagaf adalah bagian dari apa yang digambarkan Enrique Molina, seseorang yang melintas sendiri dalam gelombang El Bosco. Seperti menyelam ke Luka Tunggal Sang Pencinta, Alejandra Pizarnik. Ia adalah sesuatu yang halus. Begitu halus, sunyi dan sekarat namun tak memecah.

Kulepaskan Jubahku.
Telanjang mencari wahyu tak bermula.
Tempat dari mana udara ketakutan
Mengisi paru-paru sejarah.

Imajinasinya melayang jauh meninggalkan postulat sistem logika formal masa kini. Dengan birahi yang menggeletar ia meninggalkan segala pengetahuan yang menjadi rutin sebagai pencatat kebenaran. Sesuatu yang dipandangnya telah menempatkan keabadian sebagai hal mencekam. Khotbah-khotbah yang disebutnya tanpa daun manakala embun mengkristal saat senafas ketakutan dihembuskan.

Ia pergi meninggalkan semua itu. Hasrat daging, perayaan tubuh dan pertukaran nafsu. Ia meninggalkan segala yang tak suci dan patut dimaki. Ia meninggalkan semua mimpi yang tak menemukan pagi. Semua warna-warni hidup yang kekurangan imajinasi.

Sekujur puisinya berisi udara cinta dan tanda tanya. Ia hidup sendiri dengan rindu yang membuat hidup. Ia pergi kepada bunda yang dicatat para nabi namun dilupakan kaum samawi. Bahkan pelacur yang terbuang dari logika kebenaran aksiomatis.

Bagi saya, puisi-puisi Amato selalu diwarnai atmosfer muram dan absurd. Sejalan dengan itu ia terasa riil namun dipenuhi mimpi buruk.

SAMO

Bagaimana kau akan menafsirkan tembok
dengan tangan yang melupakan puisi?

Jarak pada ruang adalah dunia dua dimensi
dan di situ kau bisa menemukan tubuhmu.

Bahasa berulang dalam gambar dan gambar
menjadi gambar; puisi pada tembok untuk
nasib berbau sunyi.

Aku melihatmu berduka dan tembok itu
masih kosong. Aku tahu, Samo sudah mati.

Puisi Amato adalah apa yang disebut kaum formalis sebagai bahasa dengan fungsi estetik yang dominan. Dalam pemaknaan semiology Roland Barthes sebagai kata kerja intransitive, atau suatu aktivitas berbahasa yang mengacu pada dirinya sendiri.

Di penghujung 1980-an, Amato adalah anak SMA yang sering datang menemui saya untuk menunjukan puisinya. Lewat karya puisinya di masa itu, saya melihat bakat kepenyairan yang sangat kuat bercokol dalam diri anak berkacamata tebal ini.

Ada banyak hari saya sempatkan mendiskusikan puisinya, mengarahkan teknik menulis dan pemahaman tentang apa itu puisi. Saya mendorong dia untuk mengirimkan puisi-puisinya untuk diterbitkan di koran yang ada di Manado ketika itu. Dan ada beberapa kali, saya membuat bedahan puisi-puisi dia yang kemudian dilansir media massa.

Amato memang bukan anak biasa dibanding rekan-rekan seusianya ketika itu. Ia kutu buku tulen. Saat SMA kelas 3, ia sudah mendalami nihilism Nietzche. Bahkan ia telah berada dalam penjelajahan berbagai mazhab dalam filsafat. Kemampuan bahasa inggrisnya yang lumayan bagus ketika itu membuat referensi berat seperti Das Kapital, Karl Marx yang berseri-seri mulai dilahapnya.

Selepas dari studinya di SMA Garuda Manado, saya mendorong dia untuk mengambil studi Teater di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Ke sanalah kemudian ia menghilang beberapa lama, namun tetap intens berkomunikasi dengan saya.

Sekembalinya ke Manado dalam sebuah liburan tahun 1997, ia menyutradarai “Ritus Manusia” sebuah lakon yang saya tulis dan dipentaskan di Ricardo Pub, Winangun. Pada saat itu, bacaan saya tentang Amato telah menjadi seniman dengan pondasi pengetahuan dan kreatifitas yang telah melampaui sejawatnya ketika itu di Manado.

Karya puisi-puisi dia telah jauh berkembang melambung tinggi. Ia telah berada pada pemahaman puisi sebagai bahasa yang bukan bertumpu pada makna atau konsep, melainkan sebagai materi, sebagai tubuh.

Sudah berada pada apa yang kita pahami lewat konsep Kristeva mengenai le semiotic, yang dalam rumusan Goenawan Mohamad di sebut sebagai pasemon. Sebuah aktivitas berbahasa yang main-main dengan makna yang timbul tenggelam namun tidak apriori hadir dalam suatu konteks dan selalu tidak pernah final. Kaum romantic seperti Wordsworth menyembut puisi semacam ini sebagai sastra perlawanan terhadap dominasi rasionalisme pencerahan, atau sebuah penolakan terhadap ideologi secara ideologis.

Amato telah menggiring puisi sebagai estetika sekaligus sebagai filsafat.

SIUL

di dunia ini hanya ada dua orang yang bisa bersiul
siddharta gautama dan kekasihku ariana

ketika matahari terbit
gautama menjadi buddha
udara berubah tipis
di bawah pohon boddhi
burung-burung enggan berkicau
gautama bersiul

dunia memasuki abad dua satu
ariana hanya dongeng
yang aku ciptakan
di hari pemakamanmu
ketika matahari tenggelam
dan hari enggan jadi malam

ariana bersiul
aku tak pernah pulang

di dunia ini hanya ada dua orang yang bisa bersiul
siddharta gautama dan kekasihku Ariana

Amato memanggil saya guru atau suhu, tapi banyak orang tak percaya. Karena pada akhirnya pula, saya sendiri sangat tahu bahwa Amato jauh lebih cerdas dari saya dalam segala hal. Saya telah menulis ribuan puisi, buku-buku puisi saya yang telah terbit terpilih sebagai karya sastra terbaik Indonesia dan menerima beberapa pemenghargaan nasional berupa piala dan puluhan juta rupiah pada tahun 2013 dan 2014.

Namun pada awal 2000-an, ketika saya ditunjuk sebagai kurator untuk buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia”, saya harus berdebat keras ketika itu dengan panitia nasional yang menolak biografi Amato Assagaf sebagai penyair yang layak ikut masuk dalam buku prestisius tersebut dengan alasan Amato belum ada buku puisi yang terbit dengan ISBN.

Ketika itu, saya telah mengkurasi 33 penyair dari Sulawesi Utara untuk direkomendasikan masuk dalam buku tersebut, dan Amato dinyatakan tidak layak masuk. Saya bilang ke panitia nasional, kalau Amato tidak masuk, maka 33 nama yang saya kurasi termasuk saya sendiri hendaklah tidak masuk.

Alasan saya sederhana, karena bagi saya puisi karya saya dan juga karya kawan-kawan penyair dari Sulawesi Utara tidak lebih baik dari karya puisi Amato. Maka mengabaikan Amato dalam buku itu, setara dengan memutarbalikan sejarah perkembangan kesastraan di Sulawesi Utara. Dan itu pengkhianatan.

Puisi Amato dikenal mampu menyihir pembaca, dan dibicarakan pada berbagai diskusi kalangan sastrawan dan intelektual di Sulawesi Utara. Ia termasuk penyair lumayan banyak melahirkan puisi, setiap puisinya memiliki estetika yang tinggi dan nilai puitika yang dalam.

MANODI MENYAMBUT SENJA

adapun kesedihan muncul dengan sia-sia
dan aku masih di sini
bukan menunggu
tidak menghitung
hanya mengabur

sebuah garis merah
pada hari ke dua belas
kabar itu tiba
kau bunuh diri dengan mata
yang masih menyanyi

apakah aku harus menangis
atau mengingat bau rambutmu?

adapun kesedihan muncul dengan sia-sia
dan aku masih di sini
hujan tidak turun
hari belum senja

Setiap kali puisinya muncul di media massa bahkan di media sosial, langsung menjadi bahan diskusi di mana-mana. Puisinya benar-benar ditunggu para penggemarnya. Kendati puisinya sangat layak dibukukan, ia mengaku tak memikirkan hal itu.

“Urusan menerbitkan buku bukan urusan saya. Tugas saya adalah menulis,” ungkapnya.

Nyaris setiap akhir pekan, ia berkeliling dari satu tempat ke tempat lain di beberapa kota di Sulawesi Utara untuk membaca puisi atau mementaskan teater bersama kelompoknya, lalu menggelar diskusi. Ia mengabdikan hidupnya untuk puisi, teater dan filsafat.

PANGGUNG UNTUK JENADI

Di atas panggung, Jenadi adalah mimpi tua
yang tak pernah bisa mati. Suaranya melengking
dari semangat yang getir. Geraknya sekelibat
duka dalam puisi-puisi Sapardi.

Dia selalu menolak untuk senantiasa ada
dengan membunuh dirinya di dalam lakonnya.

Lalu penonton terpanggang haru, waktu berjalan
mundur, dan setiap kata yang dia ucapkan berubah
menjadi burung-burung kecil yang meneteskan
cemas dari kepak sayapnya. Tapi dia akan lahir
kembali setelah itu. Setelah lakon usai dan
kesepiannya dimulai.

Di atas panggung, Jenadi adalah tubuh yang mudah
untuk kita lupakan.

Keindahan yang membunuh nafsu
makan.

Kebenaran yang murung dan menjengkelkan
seperti cerita Tuhan yang terluka di bukit Golgotha.
Tapi dia bertahan.

Naif bagi kebebalan kita, sengak
bagi kecemburuan kita. Menyusuri Jakarta dengan
setangkai mawar patah, dia mencari panggung untuk
sebentar melupakan satu-satunya takdir yang selalu
mengganggu tidurnya; dirinya sendiri.

Di tempat itu,
di bawah cahaya, di luar dirinya, di depan berpasang-
pasang mata, dia akan menafsirkan ulang seluruh
pengetahuan kita tentang manusia.

Panggung untuk Jenadi adalah Karbala bagi Husain,
padang darah dan air mata.

Amato Assagaf sejatinya telah merefleksikan kematiannya sejak lama. Jauh sebelum ia tutup usia pada 6 Januari 2025 atau atau 8 hari sebelum ulang tahunnya yang ke 54 tahun (14 Januari 1970- 6 Januari 2025). Baginya, kematian adalah sesuatu yang puitis.

Terkait kematian itu, ia tak saja menuliskannya lewat puisi di antaranya “Kematian Berwarna Biru”, juga dalam sejumlah cerpen, esai filsafat dan juga karya teater sebagaimana yang terakhir dipertunjukannya yaitu ”Belajar Melipat Kertas” 2024.

Beberapa waktu dalam perawatan di rumah sakit jelang kepergiaannya ia pun masih aktif di lama FB-Pro pribadinya menulis beragam pasemon. Ia mempersoalkan penghianatan tubuhnya terhadap eksistensi hidupnya. Pasemon terakhir yang ditulisnya 7 jam sebelum menghembuskan nafas terakhir yang dapat dilacak di lama FBnya yaitu tentang kematian sebagai pilihan kedua, sementara pilihan pertama adalah perasaan sia-sia dalam hidup. Hidup adalah sysyphus baginya.

Di rumah duka, Kampung Arab, pagi 7 Junuari 2025, tak sedikit sahabatnya datang melayat. Semua sahabat datang dengan wajah yang tak biasa sebagaimana dalam tradisi kabung umumnya. Semua seakan dihantui pasemon beruntun yang ditulis Amato di laman fbnya. Semua orang seakan ingin menjadikan rumah duka itu sebagai ajang diskusi yang telah dipicu dengan sebegitu jenius oleh almarhum lewat pasemon filsafat kematian.

Seakan tak ada yang bisa menahan diri untuk tak membicarakan apa yang di sebut Eagleton (1990) itu yaitu estika sebagai filsafat atau usaha filsafat dengan pikirannya untuk menaklukan tubuh. Pemikir sekaliber Reiner Emyot Ointoe, dengan sangat berhati-hati merefleksi pasomon-pasemon terkahir Amato dengan menyebut almarhum sebagai sartrean sejati.

Sebagaimana pandangan filsafat eksistensialisme Jean Paul Sartre, Reiner melihat Amato sebagai individu yang bebas. Manusia adalah bebas untuk melakukan dan mendefinisikan dirinya sendiri secara individual. Manusia tidak lain adalah bagaimana ia menjadikan dirinya sendiri.

Ada persoalan yang membuat Reiner harus berhati-hati mengaitkan pemikiran Sartre dengan filsafat kematian Amato yang ditulisnya berkali-kali itu yaitu tentang pandangan peniadaan Tuhan. Sartre mengasumsikan bahwa tanpa bantuan Tuhan, manusia dapat bebas mendefinisikan dirinya sendiri untuk mencapai tujuan hidupnya.

Reiner pun mengasumsikan adanya anasir lex devina dari perspektif filsafat Erich Pinchas Fromm dan Soren Kierkegaard dalam pasemon-pasemon Amato. Tapi bagi saya, pernyataan terkahir Reiner Ointoe itu tak lebih dari upaya memberi esensi sublim bagi makna kabung semata. Karena, sajauh ini, arah pemikiran Amato sulit ditebak dan sulit didefinisikan. Ia semacam kegelisahan yang tak hasi-habisnya.

Dalam sebuah diskusi dengan saya beberapa tahun lampau ia mendefinisikan hidup sebagai imakulata. Dari padangan itu pula ia merumuskan teater konsep yang dipertunjukkannya terakhir pada 2024 dan karya-karya puisinya sepanjang ini. Ada secaman hudan linnas di sana.

Sebelumnya, karya-karya teaternya lebih banyak melakukan eksplorasi tubuh dengan berangkat dari psikoanalisis radikal Jacques Lacan. Ia menempatkan hidup sebagai The Imaginary (Yang Imajiner), The Symbolic (Yang Simbolik), dan The Real (Yang Nyata).

Sementara puisi-puisinya kental berangkat dari perspektif sartrean sejati. Renungan-renungannya dalam beragam esai diwarnai kekaguman mendalam pada esoterisme. Begitu yang saya tangkap dari karya-karya Amato yang dapat dirumuskan sebagai pemberontakan atas perangkap dominasi rasionalisme pencerahan.

Dengan licensia poetica Amato membangun dunia tandingan yaitu aku sejati dan dunia sejati dan itu di luar kecenderungan sastra modern yang tengah menderas saat ini.

Akhir Januari 2025, kawan-kawan dari Padepokan Puisi Amato Assagaf mengontak saya untuk memberi pengantar pada buku ini, sebuah Kumpulan Puisi Amato Assagaf yang akan diterbitkan dalam rangka tribute terhadap sang penyair dan dramawan itu. Saya bahagia menerima ajakan tersebut, karena setidaknya, karya-karya puisi Amato tidak akan tercecer ke mana-mana, bahkan dapat dinikmati dan diapresiasi lewat sebuah buku kumpulan puisi karyanya, kendati buku ini belum memuat semua puisi yang ditulis Amato.

Sampai di sini, di tengah rasa duka yang mendalam, saya menyambut dengan rasa penuh suka cita atas penerbitan puisi-puisi Amato Assagaf dalam buku ini. Bagi saya penerbitan buku ini adalah dedikasi yang amat bernilai bagi jejak sejarah kepenyairan Amato, juga untuk khazanah sastra di Sulawesi Utara bahkan Indonesia.

Manado, Januari 2026.
Iverdixon Tinungki

 

Barta1.Com
ADVERTISEMENT
Iverdixon Tinungki

Iverdixon Tinungki

Jurnalis dan sastrawan. Pendiri dan Editor senior di Barta1.com

Next Post
Antalogi Puisi Percakapab Empat Perempuan Karya Sri Rahmillah Ukoli dan Nurila Lasene (Gambar Ilustrasi: AI)

Membincang Antalogi Puisi “Percakapan Empat Perempuan” Karya Sri Rahmillah Ukoli dan Nurila Lasene

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Ajang Talenta SMP 2026, Ruang Pembinaan Prestasi dan Karakter Siswa Sangihe 30 April 2026
  • RSUD Liun Kendage Akui Kekosongan Obat, Sebut Dampak Transisi Pengadaan 29 April 2026
  • RSUD Liun Kendage Gandeng Dekopinda untuk Menata Usaha di Lingkungan Rumah Sakit 29 April 2026
  • Menyiapkan Generasi Vokasi di Era Digital: Kuliah Umum Polimdo Angkat Isu Digital Marketing dan Keuangan Praktis 29 April 2026
  • RDP DPRD Sulut: Pokir Lenyap, Bantuan Rumah Ibadah Tak Ada di Tomohon 29 April 2026

AmsiNews

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In