• #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial
Kamis, Juli 16, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Kultur Sastra

Membincang Antalogi Puisi “Percakapan Empat Perempuan” Karya Sri Rahmillah Ukoli dan Nurila Lasene

by Iverdixon Tinungki
26 Januari 2026
in Sastra
0
Antalogi Puisi Percakapab Empat Perempuan Karya Sri Rahmillah Ukoli dan Nurila Lasene (Gambar Ilustrasi: AI)

Antalogi Puisi Percakapab Empat Perempuan Karya Sri Rahmillah Ukoli dan Nurila Lasene (Gambar Ilustrasi: AI)

0
SHARES
53
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Iverdixon Tinungki

“Perempuan adalah rahim semesta,
Dari selangkangannya yang koyak, keluar Musa, Daud, Ibrahim, juga
Muhammad. Bahkan Maria tak perlu sperma untuk bisa melahirkan Yesus,
Laki-laki sang juru selamat.” — (Perempuan, Sri Rahmillah Ukoli)

Membaca antologi puisi “Catatan Empat Perempuan” karya Sri Rahmillah Ukoli dan Nurila Lasene, bagi saya adalah memasuki apa yang dipahami sebagai aisthetikos. Sebuah dunia yang halus, lembut bertabur keindahan, sensitivitas , dan kesadaran, yang erat kaitannya dengan persepsi sensorik.

Dalam puisi keduanya, pada akhirnya perempuan punya dunianya sendiri. Sebuah semesta batin yang tak dapat dimasuki oleh orang lain. Sebuah universe dalam pandangan filsafat estetika Amato Assagaf disebut sebagai keindahan yang dinaungi “cahaya ketiga” yaitu cahaya puitika yang hanya bisa dilihat oleh mata batin semiotika perempuan.

Diksi, majas, irama atau kebebasan berbahasa dalam puisi-puisi mereka menciptakan efek artistik (lisensi puitika) yang bertumpu pada sebuah “ethics of care” yang mendepani isu-isu global melalui nuansa yang halus namun tajam menghujam jantung persoalan.

“Malam ini akan kubacakan padamu sebuah mantra lengkap dengan cinta dari kedua mata Majnun kepada Layla.
Hum, biarkan tuhan menari. Aku akan merayuNya dan meminta kau bersemayam di dalam dada.
Hum, Biarkan tuhan bernyanyi. Akan aku panjatkan doa, dan membiarkan kita berada di satu takdir yang sama.
Lalu akan kuletakkan kedua bola mataku. Dengan itu, kau akan melihat wajah tuhan yang cemburu.”— (Kegilaan. Nurila Lasene)

Secara intertekstual puisi berjudul “Kegilaan” karya Nurila Lasene di atas, sebagai misal, menawarkan ruang yang kaya untuk dibedah menggunakan teori semiotika lewat pembacaan heuristic dan hermeneutic ala Michael Riffaterre, atau analisis tanda-petanda Ferdinand de Saussure.

Lewat pembacaan heuristic, “Kegilaan” menggambarkan seorang “Aku lirik” yang sedang melakukan ritual puitis. Ia menggunakan mantra dan rujukan kisah klasik “Layla-Majnun” untuk merayu Tuhan agar menyatukan dirinya dengan sang kekasih “Kau”. Puisi diakhiri dengan metafora ekstrem: mencopot bola mata agar kekasih bisa melihat “kecemburuan” Tuhan.

Lewat pembacaan hermeneutic, puisi ini tak sekadar puisi cinta romantis, melainkan puisi tentang penunggalan (unio mystica), yang menyatukan tiga subjek: Aku, Kau, dan Tuhan dalam satu ruang dada dan takdir. Penggunaan kata “Hum” berfungsi sebagai mantra atau dhikr yang membangun suasana meditatif. Ketegangan muncul di akhir: kecemburuan Tuhan menandakan bahwa cinta subjek lirik telah mencapai tingkat transendental—cinta yang begitu kuat sehingga menandingi cinta kepada Sang Khalik itu sendiri.

Secara semiotic penyebutan “Majnun kepada Layla” bukan sekadar hiasan. Dalam tradisi sastra sufistik, Majnun adalah simbol kegilaan cinta yang melampaui logika duniawi. “Mantra” di sini bukan bermakna klenik, melainkan intensitas doa yang setara dengan kegilaan Majnun. Cinta manusia diposisikan sebagai pintu masuk menuju yang Ilahi.

Penggunaan personifikasi Tuhan yang “cemburu” dan “menari” memberikan warna humanis pada entitas yang biasanya kaku dalam teks keagamaan, menjadikannya sebuah karya yang berani secara puitis.

Di saat lain, saat berselancar dalam puisi Sri Rahmillah Ukoli, saya dipertemukan dengan keindahan yang sublim dalam larik-larik yang manis namun menampar:

“Menulismu di sajakku
Hurufku telah berkali-kali jatuh
Pada matamu yang purnama
Pada ucapmu yang duka:

“Perpisahan tak melulu tentang akhir,
Bisa jadi, ia adalah batas. Luka yang pamit pulang, untuk menyilakan bahagia esok.”

Lalu kecemasan apa yang harus ku eja?
Kau yang berlari jauh di depanku atau aku yang tertatih lampau dibelakangmu dan sesak di banyak nafas?

Pada lembar cerita ini
Kau terlalu banyak menekan tombol spasi
Meninggalkan banyak baris yang mati sia-sia

Lalu kecemasan mana yang harus ku tulis?
Sajakku kehilangan titik
Sedang kata-kata masih terikat akad”— (Sebelas. Sri Rahmillah Ukoli)

Dalam puisi berjudul “Sebelas”, saya dipertemukan dengan apa yang disebut sebagai representasi relasi dan hierarki emosional. Dalam perspektif sosiologi sastra, puisi ini menggambarkan sebuah ketimpangan relasi antara “Aku” dan “Kau”.

Dalam larik: //Kau yang berlari jauh di depanku atau aku yang tertatih lampau di belakangmu// menunjukkan adanya stratifikasi posisi. Dalam konteks sosial, ini mencerminkan kondisi individu yang merasa tertinggal oleh kemajuan atau perubahan yang dilakukan pasangannya.

Ada alienasi pada tokoh “Aku” yang mengalami keterasingan di dalam ceritanya sendiri. Ruang-ruang kosong yang diciptakan oleh “tombol spasi” adalah simbol dari jarak sosial dan kegagalan komunikasi yang sering terjadi dalam masyarakat modern yang serba cepat.

Secara sosiologis, puisi Sri Rahmillah Ukoli di atas mencerminkan konstruksi sosial tentang “ketabahan”. Masyarakat cenderung menuntut individu untuk selalu melakukan romantisasi terhadap penderitaan (toxic positivity) agar tetap berfungsi secara sosial. Perpisahan tidak dilihat sebagai tragedi, melainkan “proses” yang diwajibkan demi kebahagiaan masa depan.

Puisi “Sebelas” pada akhirnya bukan sekadar puisi cinta melankolis, melainkan potret manusia modern yang gagap menghadapi transisi. Secara sosiologis, puisi ini mengkritik bagaimana jarak komunikasi (spasi) dan beban komitmen (akad) seringkali menciptakan ruang hampa yang menyiksa bagi individu yang tertinggal dalam sebuah perubahan relasi.

Dan selebihnya, membaca antologi puisi “Catatan Empat Perempuan” karya Sri Rahmillah Ukoli dan Nurila Lasene, yang masing-masing berjumlah 25 puisi, bagi saya —dengan mengutip pandangan Jacques Derrida— puisi keduanya telah melampaui apa yang dipahami sekadar mimesis, dan mendekontruksikannya menjadi realitas baru. Mereka menantang asumsi biner dengan mengungkap kontradiksi tersembunyi dan ketergantungan makna pada hal yang dipandang baku.

Pada titik itu, sebagaimana Aristoteles meyakini bahwa sastrawan berdiri lebih tinggi dari sekadar tukang, kedua penyair perempuan ini berhasil menenun kembali serpihan nasib menjadi kodrat manusia yang abadi. Mereka tidak hanya menulis; mereka sedang melakukan pencarian kebenaran universal di tengah carut-marutnya situasi sosial-budaya yang melatarbelakangi kelahiran karya mereka.

Selamat atas penerbitan antologi puisi ini.

Manado, 7 Januari 2026
Iverdixon Tinungki

 

Barta1.Com
ADVERTISEMENT
Iverdixon Tinungki

Iverdixon Tinungki

Jurnalis dan sastrawan. Pendiri dan Editor senior di Barta1.com

Next Post
Ilustrasi petugas PLN tengah menyambungkan listrik ke rumah pelanggan yang memesan layanan Pasang Baru melalui aplikasi PLN Mobile. (foto: Humas PLN)

Layanan Pasang Baru PLN Kini Full Digital, Pastikan Transparansi dan Bebas Pungli

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Berstatus Definitif, Sekwan Niklas Silangen kembali Berdiri di Mimbar Paripurna 15 Juli 2026
  • AKP Nofri Sadia Pimpin Apel Pengamanan Aksi Demo Organisasi Pedagang Kota Bitung 15 Juli 2026
  • Penanggulangan Kemiskinan dan Pengangguran Bukan Utama, Begini Catatan Banggar Sulut ke Pemprov 15 Juli 2026
  • Potongan Zakat 2,5 Persen Pegawai Berbuah Manis, YBM PLN Gorontalo Tebar ‘Hadiah Muharram’ hingga Khitan Gratis 15 Juli 2026
  • Tancap Gas Menuju Ekonomi Hijau, PLN Cetak Ahli Konversi Motor Listrik dari Pelajar SMKN 2 Luwuk 15 Juli 2026

AmsiNews

  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In