Angin Desember berdesir dingin, membawa aroma cengkeh yang baru dipanen dan sedikit wangi kue jahe dari rumah-rumah di Woloan. Di sebuah desa Minahasa yang damai, Tante Usi, perempuan 68 tahun itu duduk di bangku kayu di teras rumah panggung tuanya. Rambutnya yang memutih disanggul sederhana, dan matanya yang teduh menatap lekat jalan setapak di depan. Sudah bertahun-tahun ia hidup sendiri di rumah warisan ini, ditemani keheningan yang kian terasa pekat menjelang hari besar.
Bulan ini, nuansa Natal mulai terasa kuat. Pohon-pohon Natal plastik mulai dihias lampu berkelap-kelip di banyak jendela. Di hati Usi, harapan itu kembali membuncah, setebal kabut pagi di perbukitan. Ia sangat merindukan kehadiran anak-anaknya—tiga putra dan seorang putri—dan cucu-cucunya. Inilah saatnya, pikirnya, saat yang paling tepat untuk sebuah reuni.
Setiap sore, sekitar pukul empat, Usi punya ritual. Ia akan menyarungkan kain sarung, mengenakan sweter tebal rajutan, dan berjalan perlahan menuju tikungan jalan utama, tak jauh dari batas kebunnya. Di sana, ia akan berdiri, menanti bunyi klakson mobil asing atau teriakan anak-anak yang ia kenali. Ia menanti kedatangan mereka dari Manado atau dari seberang pulau, membawa pulang kehangatan yang hilang.
Namun, penantian itu selalu berujung pada keheningan. Anak-anaknya, sibuk dengan pekerjaan dan kehidupan kota yang serba cepat, selalu punya alasan. Pesan via ponsel yang sesekali datang berisi permintaan maaf; tuntutan karier, rapat mendadak, atau tiket pesawat yang mahal. Kampung halaman, seolah telah menjadi memori yang tersimpan rapat di laci kehidupan mereka.
Sore itu, dua hari sebelum Malam Kudus, Tante Usi kembali pada posisinya di pinggir jalan, di bawah pohon jambu yang rindang. Ia membawa selembar sapu tangan yang ia pegang erat. Matanya menyapu setiap mobil pick-up yang lewat, setiap motor yang menderu.
Tiba-tiba, dari arah belakangnya terdengar suara tawa sinis yang familiar. “Tunggu lagi, Usi? Belum bosan berdiri di sana, seperti patung penunggu jalan?” Wanita itu adalah Marta. Perempuan 48 tahun, tetangga yang terkenal usil dan suka mencampuri urusan orang lain. Wajahnya yang berminyak dan matanya yang tajam memancarkan energi negatif.
Usi berbalik, mencoba tersenyum meskipun hatinya menciut. “Marta. Saya cuma mau lihat suasana. Siapa tahu ada anak-anak yang mampir dari kota.”
“Mampir? Usi, Usi… Kau ini masih saja bermimpi. Sudah berapa Natal berlalu? Empat?
Lima? Anak-anakmu itu sudah lupa jalan pulang. Di kota sana kehidupan mereka enak, kerjaan nyaman. Mana mau mereka repot-repot menempuh jalan berkelok ini, cuma untuk makan nasi jaha buatanmu?” Marta menyilangkan tangan, nadanya menusuk.
Wajah Usi memerah. Rasa sakit menusuk relung dadanya. “Marta, jaga bicaramu! Mereka tidak lupa. Mereka cuma sibuk. Mereka pasti datang, suatu saat nanti. Mereka itu darah dagingku!” Suara Usi bergetar menahan tangis.
Marta tergelak keras. “Percaya diri sekali. Jangan berharap yang tidak-tidak, Usi. Kalau mereka sayang, mereka sudah ada di sini, membantu kau bersihkan rumah, bukan membuat kau berdiri kayak orang gila di pinggir jalan begini. Sudah, pulang sana! Kau hanya mengejek dirimu sendiri.” Perdebatan sengit pun tak terhindarkan, suara mereka meninggi, merusak damai sore itu.
Tepat ketika Marta siap melontarkan ejekan yang lebih pedas, sebuah sosok tenang mendekat. Ibu Ute, perempua 58 tahun, yang rumahnya beberapa langkah dari sana, menghampiri mereka dengan langkah mantap. Ia membawa keranjang berisi sayuran dan rica dari kebun.
“Stop, Marta!” kata Ibu Ute dengan nada tegas yang membuat Marta terdiam. “Mengapa kau harus usil dengan harapan orang? Biarkan Usi berdiri di sini kalau itu yang membuatnya kuat. Setiap orang berhak punya harapan, Marta. Tanpa harapan, manusia itu mati di dalam,” ucapnya sambil menatap Marta lurus-lurus.
Marta mendengus kesal, namun tatapan tajam Ibu Ute membuatnya tak berkutik. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Marta berbalik dan berjalan cepat, meninggalkan sisa-sisa perdebatan di udara.
Ibu Ute kemudian mendekati Usi, merangkul bahu wanita tua itu dengan lembut. “Ayo, Usi, jangan dengarkan dia. Kau sudah kedinginan.” Usi memeluk Ibu Ute erat, air mata yang ia tahan sejak tadi akhirnya tumpah, membasahi bahu sahabatnya. “Terima kasih, Ute. Terima kasih karena kau selalu ada.”
Ibu Ute tersenyum hangat, seperti mentari yang baru muncul di balik Gunung Lokon. “Usi, kenapa kau harus menunggu sendirian? Malam Natal nanti, datang ke rumah saya. Kita rayakan bersama. Ada anak-anak saya, ada cucu-cucu saya. Anggap saja mereka cucu-cucumu juga. Kita makan tinutuan dan babi putar sama-sama. Kau adalah keluarga kami di sini.”
Ajakan tulus itu menghujam Usi. Ia tidak tahu harus berkata apa. Hatinya yang dingin karena kekecewaan bertahun-tahun mendadak terasa hangat. Ia memeluk Ibu Ute sekali lagi, tangis haru menyelimuti ucapan terima kasihnya yang lirih. Mungkin, anak-anak kandungnya lupa jalan pulang, tetapi Tuhan telah mengirimkan keluarga lain di desa Minahasa ini. Usi mengangguk, menyambut Natal dengan sebuah harapan baru yang tidak lagi berdiri di pinggir jalan yang sepi. (*)


Discussion about this post