Makassar, Barta1.com – PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Tenggara dan Barat (UID Sulselrabar) secara proaktif meluncurkan program Home Charging Service (HCS) 2.0 dalam pameran otomotif terbesar di Sulawesi awal November 2025.
Langkah ini merupakan katalisator untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik (EV) di Indonesia Timur, sekaligus menegaskan komitmen membangun ekosistem transportasi ramah lingkungan.
General Manager PLN UID Sulselrabar, Edyansyah, mengungkapkan tujuan di balik kehadiran program tersebut.
“Lewat display home charging, kami ingin masyarakat lebih dekat mengenal teknologi ramah lingkungan, serta merasakan manfaat secara langsung,” ungkapnya Selasa (27/11/2025).
Edyansyah juga membeberkan tren positif adopsi EV di wilayahnya. Hingga Oktober 2025, tercatat 219 pelanggan di Sulsel telah menggunakan HCS, dengan jumlah mobil listrik yang telah melampaui 1.000 unit.
“Tentu ini akan membantu PLN mewujudkan komitmennya untuk terus mendorong percepatan ekosistem kendaraan listrik,” ujar Edyansyah.
Untuk memacu minat lebih lanjut, PLN menyediakan Program Stimulus Percepatan Penggunaan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB). Program ini memberikan insentif biaya penyambungan pasang baru dan tambah daya sebesar 50 persen, serta diskon 30 persen untuk pengisian daya di rumah (home charging) pada jam Luar Waktu Beban Puncak (LWBP), pukul 22.00–05.00 Wita.
Tidak hanya fokus pada pengisian di rumah, PLN memastikan kenyamanan mobilitas jarak jauh dengan menyiagakan 65 unit Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang tersebar di 51 lokasi strategis di wilayah Sulselrabar.
“Kami telah memetakan titik-titik strategis dan menyiapkan lounge di SPKLU untuk memastikan kenyamanan pelanggan. Melalui fitur di PLN Mobile, seperti EV Digital Services dan Trip Planner, pelanggan tidak akan kesulitan menemukan SPKLU dan merencanakan perjalanan,” lanjut Edyansyah.
Antusiasme masyarakat terhadap EV terbukti didorong oleh faktor ekonomi. Fauzan, warga Panakkukang, Makassar, membandingkan efisiensi kendaraannya.
“Kalau dihitung-hitung, mobil listrik saya ini mampu menghemat biaya operasional lebih dari 50 persen dibandingkan mobil bensin sejenis saat diisi di SPKLU. Bahkan lebih 70 persen saat pengisian di rumah,” akunya.
Fauzan merinci penghematannya,
“Saat menggunakan mobil bahan bakar minyak (BBM), estimasinya menghabiskan sekitar Rp1.100 per kilometer. Sementara dengan mobil listrik, biayanya hanya Rp300 per kilometer, sehingga lebih hemat Rp800 per kilometer.”
Senada dengan Fauzan, Kurniawan, warga Makassar lainnya, menekankan kenyamanan pengisian.
“Dibandingkan kendaraan bensin, listrik lebih hemat. Kalau menggunakan listrik sudah jelas ada, dibanding bensin yang kadang-kadang habis dan harus antre lama. Kalau mobil listrik tidak takut kehabisan dan tidak perlu antre,” tutup Kurniawan.
Kesiapan PLN dalam menampung lonjakan permintaan ini didukung oleh infrastruktur yang sangat memadai. Sistem kelistrikan Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel) memiliki daya mampu sebesar 2.293 Mega Watt (MW) dan beban puncak sebesar 1.411,2 MW, menyisakan cadangan daya sebesar 696,22 MW yang siap mengakomodasi pertumbuhan KBLBB masyarakat di Sulawesi Selatan. (**)
Editor:
Ady Putong


Discussion about this post