Oleh:
Iverdixon Tinungki
Tuhan tak pernah tidur saat seni dan budaya sebagai kurnia terindahNya dihancurkan dan dimatikan. Begitulah hari itu, Kamis, 16 Oktober 2025 di kompleks reruntuk Taman Budaya Sulut. Ratusan seniman dan budayawan berkumpul. Dan hujan mengguyur.
Para pemulia kebudayaan itu datang dari kepulauan Sangihe, Sitaro, Talaud, Bolmong Raya, Bitung, Minahasa, Manado. Dari komunitas sanggar-sanggar kampung, dari gereja, dari masjid, dari klenteng, bahkan dari jalanan, karena tak sedikit hari ini seniman tinggal hidup berkreasi di jalanan.
Di bawah takdir yang kejam model pembangunan yang menuhankan uang, para seniman itu menari di sana, di atas kubang lumpur, mereka melukis di atas lantai becek, mereka berpuisi, berdramatisasi. Para budayawan berorasi di pinggir beton dan tanah berumput, di samping jalan yang riuh oleh kendaraan.
Dan Tuhan pasti tersenyum. Karena niat baik harus bermula di ruang sanubari. Tanpa itu, kita sulit berjumpa kebenaran yang sejati.
Namun mengapa pemandangan memerihkan hati itu terjadi? Jawabannya tak lain, tak ada lagi rumah bagi seni budaya di Sulawesi Utara. Gedung Kesenian Pingkan Matindas telah ditutup, dan Taman Budaya bakal dialihfungsi menjadi SPBU.
Orang-orang di perkampungan itu datang menonton, yang melintas menoleh, namun delegasi pemerintah Sulut tak berkenan datang ke tempat hinah dina itu, padahal telah diundang untuk sama-sama urung rembuk kebudayaan.
Inilah pemandangan tak mulia dari wajah seni dan budaya kita di Sulawesi Utara, saat pemerintah hanya menempatkan uang sebagai bagian termulia dalam pembangunan dan hidup manusia.
Sejak waktu yang lalu, sejak gubernur yang kekuasaannya telah ikut berlalu, dengan alasan seni dan budaya tak berkontribusi pada Pendapatan Asli Daerah (PAD), maka harus dilenyapkan. Aset-aset seni budaya dialihfungsi agar menghasilkan uang.
Seni dan budaya seakan-akan dipandang sebagai dosa pembangunan yang sekadar tambah-tambah urusan, dan harus di lempar ke ruang liar sebagai anak tiri pembangunan.
Birokrat yang memimpin Dinas Kebudayaan yang barangkali tak celik urgensi kebudayaan hanya mangut-mangut, seperti tikus, seperti ngengat, ikut mengerat rumah budaya kita agar runtuh.
Tapi Gerakan Seniman dan Budayawan Sulut (GEMAS) tak surut semangat memuliakan seni dan budaya sebagai anugerah Tuhan untuk sejatinya jiwa dan pandangan hidup bangsa dan roh bagi daya hidup manusia.
Mereka bergerak, menari, melukis, bernyanyi, berpuisi, berdramatisasi, berorasi untuk menggugah Pemerintah Sulawesi Utara agar terpanggil pulang menghidupkan rumah badaya sebagai petak sejatinya hidup kita itu. Sebab, tanpa seni dan budaya, pergaulan bersama terkacaukan dan kehidupan manusia menjadi biadab.
Begitulah GEMAS tidak menggelar DEMONSTRASI hari itu. Mereka memilih DEMONTRAKSI yaitu Gerakan demo lewat atraksi karya seni dan budaya. Sebuah gerakan protes penuh amarah yang dikemas santun, dijiwai budi pekerti, kearifan dan profetis.
Karena sejatinya pula hakikat budaya kita tak mentransmisikan gerakan yang gaduh, yang huru hara. Maka GEMAS tidak bergerak MENGGUGAT tapi hadir MENGGUGAH pemerintah untuk ikut prihatin atas kematian eksistensi pemajuan kebudayaan kita.
Sayangnya, pemerintah Sulawesi Utara, tak mau datang, tak mau mengotori sepatu. Tak mau batik indah mereka terpecik becek saat Kabasaran menari, saat musik dan syair-syair tradisi dilantunkan.
Mereka mengutus polisi, mengawal aksi seniman dan budayawan ini. Para intel dikerahkan.
Namun seni selalu adalah tentang keindahan, para polisi dan intel justru guyup menyatu dengan suasaan indah itu. Ibu-ibu membawa kopi, roti dan kukis sagu untuk dimakan melengkapi suasana puitika hari itu. Yaitu sebuah kemuraman yang disuarakan dengan indah. Berani dan tanpa ragu.
Saat menjelang sore, kabar datang. Wakil Gubernur Sulut Dr. J. Victor Mailangkay, SH, MH. Berkenan melakukan pertemuan dengan perwakilan Gerakan Seniman dan Budayawan Sulut (GEMAS) di kantor Gubernur.
Dengan rendah hati pula delegasi para seniman dan budayawan yang kuyuh kehujanan, sepatu berlepotan becek, bau sengak oleh gerah seharian itu datang, ke gedung terhormat, bertemu di ruang mewah dengan Wakil Gubernur dan jajaran instansi terkait yang mengenakan seragam lincin mengkilap. Sepatu yang mampu membiaskan cahaya lampu, sisiran rambut yang apik yang tak bergerak dalam hembusan lembut udara AC.
Oh Tuhan! Pada beberapa detik, delegasi seniman dan budayawan yang menyimpan amarah dengan cara paling ramah ini saya yakin jengkel dengan gestik dan mimik para birokrat yang tak sedikit membiaskan dosa kebudayaan di wajah mereka saat “baku dapa”.
Namun seniman bukan sosok rapuh yang mudah goyah oleh senyuman yang dibuat-buat sedemikian palsu sebagaimana umumnya gestik dan mimik manusia politik di negeri ini. Seniman adalah para pemilik kebangsawanan jiwa, hingga mereka bisa permisif dengan senyuman sepalsu apapun.
Di ruang terhormat itu, syair Sasambo dilantunkan mewakili seni tradisi, puisi modern dibacakan, dan pidato kebudayaan disampaikan bersama tuntutan aksi yang intinya menggugah pemerintah Sulawesi Utara untuk setia melakukan gerakan pembangunan pemajuan kebudayaan di Sulawesi Utara. Memulihkan eksistensi asset-aset seni budaya sebagai rumah budaya, rumah seniman untuk berekspresi.
Di menit terakhir. Menjawab tuntutan delegasi seniman dan budayawan ini, Wakil Gubernur Sulut Dr. J. Victor Mailangkay, SH, MH. Hanya bisa BERJANJI akan menindaklanjuti tuntutan itu sebagaimana mestinya, setelah bertemu Gubernur Sulawesi Utara kembali dari Jakarta.
Delegasi pun pulang membawa harapan bahwa pemerintah Sulawesi Utara saat ini punya niat baik. Mereka pulang bergabung kembali dengan massa aksi demontraksi. Mereka kembali menari, bernyanyi, membaca puisi, melukis, berorasi, berdramatisasi di reruntuk Taman Budaya Sulut yang berkubang lumpur yang sebentar lagi jadi SPBU.
Mereka berendah hati seperti itu, karena Tuhan tak pernah tidur dan selalu hadir di tengah suara yang memuliakan kehidupan. Dan seniman adalah sebuah takdir yang kejam, yang terpilih untuk mengkritisi dan memuliakan kehidupan dengan cara paling absurd sekali pun.
Manado, 17 Oktober 2025
SELAMAT HARI KEBUDAYAAN NASIONAL


Discussion about this post