Manado, Barta1.com – Dalam upaya menciptakan lingkungan belajar yang lebih segar, inklusif, dan produktif, Politeknik Negeri Manado (Polimdo) terus melakukan berbagai terobosan. Salah satunya melalui program peningkatan fasilitas zona outdoor learning sebagai bentuk komitmen menghadirkan ruang belajar alternatif yang nyaman dan inspiratif, Sabtu -Jumat, 28 Juli – 1 Agustus 2025

Ketua tim pelaksana, Dr. Ir. Herman Alfis Tumengkol, SST., MT, didampingi sejumlah dosen seperti Dr. Beldie Aryona Tombeng, ST., M.Ars, Dr. Ir. Carter E. Kandou, ST., M.Ars, serta Ir. Hendrie Joudi Palar, SST., MPSDA, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat yang memperoleh pendanaan internal Polimdo tahun 2025.
“Pendanaan ini berdasarkan SK Direktur Nomor 644/PL12/KP/2025. Fokus kegiatan kami adalah pengembangan ruang belajar alternatif di luar kelas,” ujar Dr. Herman dengan senyum ramah.
Lebih dari sekadar fasilitas fisik, zona ini diharapkan menjadi katalisator terciptanya atmosfer akademik yang lebih inspiratif dan kolaboratif.
“Kampus bukan hanya soal ruang kelas dan laboratorium. Lingkungan terbuka yang dirancang dengan baik bisa menjadi ruang belajar aktif, yang mendorong kreativitas, kolaborasi, bahkan mendukung kesehatan mental civitas akademika,” lanjut akademisi dari Jurusan Teknik Sipil Polimdo tersebut.
Menurutnya, Polimdo memiliki lahan terbuka yang luas, namun belum dimaksimalkan untuk aktivitas akademik. Melalui program ini, area tersebut diubah menjadi zona outdoor learning yang dilengkapi bangku taman permanen, elemen peneduh alami, jalur akses yang ramah, serta fasilitas pendukung seperti WiFi dan colokan listrik.
“Fasilitas ini bukan sekadar tempat belajar non-formal. Kami merancangnya sebagai ruang interaksi akademik terbuka untuk mentoring, relaksasi edukatif, hingga diskusi lintas program studi,” jelasnya.
Desain Fungsional dan Berwawasan Lingkungan
Zona outdoor learning ini dibangun dengan pendekatan desain modular, ramah lingkungan, serta tahan terhadap berbagai kondisi cuaca. Bangku taman dibuat dari material kayu berkualitas yang diperkuat dengan struktur beton pada bagian kakinya, menjamin ketahanan jangka panjang.
Menariknya, mahasiswa turut dilibatkan dalam proses desain dan pembangunan sebagai bagian dari metode project-based learning.
“Melalui keterlibatan langsung mahasiswa, mereka tak hanya memahami teori, tapi juga mendapatkan pengalaman nyata dalam merancang ruang publik edukatif,” jelas Dr. Carter E. Kandou, anggota tim pengabdian.
Lebih jauh, Dr. Carter mengungkapkan bahwa hasil dari program ini bukan hanya dalam bentuk fisik, namun juga dampak positif terhadap semangat belajar mahasiswa, kualitas interaksi akademik, serta tumbuhnya budaya kolaboratif di lingkungan kampus.
Tim pengusul juga menargetkan adanya publikasi ilmiah, liputan media, serta dokumentasi digital berupa video dan poster sebagai bagian dari diseminasi hasil kegiatan.
“Dengan hadirnya fasilitas ini, Polimdo menegaskan komitmennya untuk menjadi kampus yang tak hanya unggul secara akademik, tetapi juga nyaman dan adaptif terhadap kebutuhan belajar generasi masa kini,” pungkasnya.
Harapan serupa disampaikan oleh Dr. Beldie Tombeng. Ia menambahkan, zona ini diharapkan dapat direplikasi di berbagai titik lain di lingkungan kampus.
“Kampus yang unggul bukan semata dilihat dari teknologi tinggi yang dimiliki, tapi juga dari bagaimana ia menyediakan ruang belajar yang sehat, kreatif, dan menyenangkan bagi seluruh warganya,” tutupnya. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post