• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Kamis, April 30, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home News

Kenaikan BBM Alibi Pemerintah Stabilkan Ekonomi

by Redaksi Barta1
8 September 2022
in News
0
Kenaikan BBM Alibi Pemerintah Stabilkan Ekonomi

Demonstrasi yang dilakukan mahasiswa tergabung dalam PMII Cabang Manado di Gedung DPRD Sulut. (foto: meikel/barta1)

0
SHARES
72
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

 

Manado, Barta1.com – PMII Cabang Manado melakukan demonstrasi di Gedung DPRD Sulut, Jumat, (02/09/2022) lalu. Tuntutan yang dilayangkan terkait kenaikan BBM bersubsidi jenis pertalite dan bio solar. “Presiden Jokowi Widodo pernah mengatakan dengan kenaikan harga BBM jenis pertalite dan bio solar merupakan langkah untuk menstabilkan ekonomi nasional, itu dalam kaca mata presiden. Tetapi, tujuan dari stabilisasi ekonomi nasional untuk mensejahterakan masyarakat secara luas,” ungkap Koordinator Lapangan, Arya Djafar.

 

Selanjutnya, jika bicara soal masyarakat, bukan bicara mengenai  masyarakat secara khusus. Artinya, masyarakat yang hanya memiliki kepentingan dan modal saja. “Saat ini, kita bicara soal masyarakat secara umum, yakni masyarakat dengan ekonomi kelas ke bawah,” terangnya.

 

“Terkait dengan kenaikan BBM guna menekan lajunya inflasi di Indonesia.  Hal ini pernah terjadi di masa kepemimpinan Soeharto dan SBY dengan kenaikan BBM, dengan alibi stabilisasi ekonomi nasional untuk menekan kenaikan inflasi  Indonesia,” ujarnya.

 

Ia menambahkan, selama 32 tahun  Soeharto memimpin. Setiap tahunnya terjadi kenaikan BBM. Begitupun, dengan jaman SBY pernah beberapa kali terjadi kenaikan BBM dengan alibi yang sama untuk menstabilkan ekonomi nasional.

 

“Kita tau bersama, disisi lain sudah ada penentuan anggaran pembelanjaan negara, yang dimana sudah ditentukan sebesar  502 triliun. Kemudian, terjadi pembengkakan sehingga di potong kurang lebih ratusan triliun. Anggaran itu di potong dan dialokasikan ke angaran pembelajaran Negera non perioritas, diantaranya pembelian gorden DPR RI,” imbuhnya.

 

Lanjutnya, APBN sektor non prioritas, yang tidak di prioritaskan itu membuat masyarakat tidak sejahtera. Satu teori pemerintah sustainable development atau pembangunan berkelanjutan alah  pemerintah, membangun sistem pemerintah yang baik bagian dari membangun infrastruktur. Hari ini, kita bisa lihat secara bersama bahwa masyarakat tidak sejahtera dengan konsep yang dibuat oleh pemerintah,” ucapnya.

 

Setelah mendengarkan tuntutan tersebut dari PMII Cabang Manado, langsung ditanggapi oleh Sekretaris DPRD Sulut, Glady Kawatu. “Evaluasi dan pengamatan dari  PMII cukup jeli. Perlu kita satukan persepsi. Jika kita masih berbeda persepsi itulah Indonesia, kita harus menanamkan dalam diri kita bahwa perbedaan pendapat bagian dari  dinamika dalam negara demokrasi,” tuturnya.

 

“Apa yang menjadi usulan dan tuntutan dari adik-adik ini akan diteruskan kepada pimpinan DPRD Sulut, agar disampaikan kepada pemerintah pusat,” jawabnya.  Lanjut Kawatu, apa yang adik-adik amati sesuai pengalaman saat kenaikan BBM, guna menekan laju inflasi justru berdampak sebaliknya. “Kiranya tuntutan ini bisa disampaikan ke pemerintah pusat,” cetusnya.

 

“Ada keraguan juga dari pak Presiden untuk melihat masyarakat yang terdampak, atau ekonomi lemah. Nyatanya, data dinas sosial berbeda, data dinas kesehatan berbeda. Sehingga perlu berhati-hati menyajikan data yang valid dan komprehensif. Kita mengurus Negera yang begitu besar. Parameter-parameter kemiskinan itu berbeda-beda dari lintas sektor, mungkin itu perlu disatukan,” pungkasnya.

 

Peliput : Meikel Pontolondo

Barta1.Com
Tags: demo kenaikan BBMdemo mahasiswamanado
ADVERTISEMENT
Redaksi Barta1

Redaksi Barta1

Next Post
Politeknik Negeri Manado Terima Hibah Laboratorium Solar PV dari Swiss

Politeknik Negeri Manado Terima Hibah Laboratorium Solar PV dari Swiss

Discussion about this post

Berita Terkini

  • RSUD Liun Kendage Akui Kekosongan Obat, Sebut Dampak Transisi Pengadaan 29 April 2026
  • RSUD Liun Kendage Gandeng Dekopinda untuk Menata Usaha di Lingkungan Rumah Sakit 29 April 2026
  • Menyiapkan Generasi Vokasi di Era Digital: Kuliah Umum Polimdo Angkat Isu Digital Marketing dan Keuangan Praktis 29 April 2026
  • RDP DPRD Sulut: Pokir Lenyap, Bantuan Rumah Ibadah Tak Ada di Tomohon 29 April 2026
  • Polresta Manado Perang Lawan Bandar Narkoba: 141 Paket Sabu dan 5.264 Butir Obat Keras Gagal Beredar 29 April 2026

AmsiNews

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In