Talaud, Barta1.com – Garam merupakan salah satu bahan yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi soal cita rasa masakan. Dengan menambahkan garam, tercipta suatu cita rasa dari makanan yang enak untuk dinikmati.
Kabupaten Kepulauan Talaud merupakan daerah bahari dengan luas lautnya sekitar 37.800 km² (95,24%) dan luas wilayah daratan 1.251,02 km². Kondisi geografis ini menyajikan berbagai kekayaan alam laut. Garam adalah satu dari sederet produk kekayaan laut di Kabupaten Kepulauan Talaud. Hingga dekade tahun 1990-an, masyarakat lokal masih menggunakan garam laut yang diolah secara individual.
Garam laut tersebut sudah dikonsumsi oleh masyarakat jauh sebelum ditemukan hingga diwajibkan penggunaan jenis garam lainnya yang memiliki yodium. Sehingga garam lokal ini ikut menjadi warisan dari generasi ke generasi selanjutnya.
Proses pembuatan garam yang dikonsumsi oleh masyarakat kala itu terdiri dari beberapa cara. Dijemur, direbus dan menuangkan langsung pada masakan. Hal ini diungkapkan oleh Apolos Lalesah, salah satu tokoh asal Desa Dapalan. Kakek yang sudah lanjut usia ini mengisahkan kehidupan masyarakat saat masih menggunakan garam laut buatan sendiri. “Ada garam yang dibuat dengan cara menjemur air laut. Dalam proses ini, air laut akan dijemur berhari-hari. Lama-kelamaan, air akan menguap. Saat air menguap, kandungan garam di dalamnya akan berubah menjadi butiran garam,” ujar Lalesah, Rabu (23/4/2021) lalu.
Air memiliki titik didih lebih rendah dari pada garam, sehingga ketika air laut terkena panas matahari, air akan menguap menginggalkan partikel-pertikel garam kemudian membentuk kristal-kristal garam.
Lanjut Lalesah, ada juga garam yang dihasilkan dengan cara merebus air laut. Proses perebusan air laut ini, biasanya menggunakan bahan bakar kayu damparan di pantai. Hal ini bertujuan agar garam yang dihasilkan memiliki rasa yang pas.
“Untuk kayu bakar, ada yang menggunakan kayu di pantai. Kayu tersebut adalah kayu yang terdampar ombak. Dengan menggunakan kayu damparan, maka rasa asinnya lebih pas,” kata Lalesah.
Ia juga menuturkan, ada beberapa jenis masakan yang langsung menuangkan air laut dalam wadah yang digunakan untuk memasak. Diantaranya adalah sawo sasi (Kuah asin). Menu masakan ini biasanya tidak menggunakan garam tetapi air laut yang sudah diambil langsung dimasukan dalam wajan atau belanga. Sama halnya dengan proses pembuatan ikan asin yang hanya mengandalkan siraman air laut saat ikan dijemur.
Disisi lain, pemakaian garam yang berlebihan dalam masakan bisa membuat masakan menjadi asin. Selain itu, bisa menyebabkan tekanan darah tinggi apabilah mengkonsumsi garam yang terlalu banyak.
Membandingkan garam lokal yang dikonsumsi masyarakat hingga dekade tahun 90-an dan saat ini, Erens Gumansalangi menjelaskan bahwa ada dua persoalan mendasar yaitu adanya pencemaran air laut. “Kondisi air laut saat ini sudah berubah. Sudah tercemar oleh efek berbahaya akibat masuknya bahan-bahan kimia yang berasal dari daratan ataupun laut. Adapun pencemaran oleh limbah,” tukasnya.
Gumansalangi menambahkan, persoalan kedua yaitu garam yang kita produksi saat itu tidak memiliki yodium sebagai salah satu mineral penting. “Seiring perkembangan ilmu teknologi, garam laut ternyata tidak memiliki yodium. Ini yang menyebabkan garam laut sudah jarang atau bahkan tidak lagi digunakan oleh masyarakat,” jelas Gumansalangi.
Peliput : Evan Taarae


Discussion about this post