Musim kemarau yang melanda 19 Kecamatan di Kabupaten Kepulauan Talaud dalam 3 bulan akhir ini berimbas duka bagi warga perbatasan Indonesia ini. Kondisi itu dilatari kebakaran dan kekeringan.
Kebakaran rumah dan lahan sudah beberapa kali terjadi di selama sebulan terkhir ini. Berdasarkan pantauan di lapangan, kebakaran rumah dan tempat usaha terjadi beberapa wilayah yaitu Lirung, Melonguane dan Beo. Sedangkan untuk kebakaran terjadi di wilayah Pulau Kabaruan, Pulau Salibabu, Pulau Karakelang dan Pulau Miangas.
Kebakaran lahan paling parah terjadi di Pulau Karamelang yakni Rainis yang memberangus puluhan hektar lahan perkebunan warga dan di Pulau Miangas nyaris membakar Mercusuar yang terletak di atas bukit pulau paling utara Indonesia ini. Peristiwa ini tak bisa dilepaskan dari faktor musim kemarau dan angin kencang yang membuat kobaran api sulit dijinakan oleh petugas dan warga. Apalagi di beberapa lokasi kebakaran hanya menggunakan peralatan sederhana untuk memadamkan api.
Tak hanya itu, para petani harus menelan pil pahit ketika tanaman unggulan berupa cengkeh dan pala layu dan mati karena kekeringan di musim kemarau. Alternatifnya, petani harus mengeluarkan tenaga ekstra dalam mengangkat air untuk menyirami tanaman, apalagi kebun yang jauh dari lokasi mata air.
Tak hanya itu, ratusan hewan peliharaan berupa sapi harus diungsikan ke wilayah yang jaraknya sangat jauh dari lokasi biasanya yang sudah dilahap panas matahari guna mencari rumput hijau.
Lain jenis tanaman, lain juga persoalannya. Pohon kelapa yang berjejer nampak kokoh di tengah kemarau panjang. Akan tetapi, petani cabe, tomat dan bawang harus berpeluh ketika sungai kecil yang biasanya dijadikan sumber air menyiram tanaman, mengering seiring panas berkepanjangan. Pemandangan lazim di beberapa desa, tanah perkebunan nampak pecah-pecah. Petani berharap akan turun hujan untuk memberi kehidupan bagi tanaman.
“Cingkeh, pala dan tanaman lain berupa rica, tomat dan bahan pokok lainnya banyak mengalami kekeringan. Hal ini sangat menguras tenaga untuk menimba air dari lokasi mata air,” ungkap Yosias Maradesa warga Desa Dapalan Minggu (29/09/2019).
Maradesa menambahkan, kalau tidak menguras tenaga, maka tanaman tersebut akan mati karena kekirangan air di tengah kemarau yang sudah beberapa bulan ini.
Terpisah, Novel Taarae salah seoarang warga Desa Kabaruan menerangkan, jenis tanaman berupa cengkeh dan pala yang paling berpotensi mengalami kekeringan yaitu tanaman yang masih berusia remaja 1-4 tahun.
“Cengkeh dan pala yang masih berusia remaja sangat membutuhkan air dalam proses perkembangannya. Makanya tenaga ekstra harus dikeluarkan untuk menyiram tanaman yang berusia remaja ini,” ujar Taarae.
“Beruntung saat ini sudah ada pembangunan jalan produksi di wilayah perkebunan oleh pemerintah desa. Kalau tidak ada jalan produksi, kami akan kewalahan untuk mengangkut air karena akses jalan tidak bisa dilewati oleh kendaraan bermotor,” jelasnya. (*)
Peliput : Evan Taarae

Discussion about this post