Manado, Barta1.com – Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI)/BP2MI bersama Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Sulawesi Utara (Sulut) menggandeng Politeknik Negeri Manado (Polimdo) menggelar kegiatan peningkatan kapasitas bagi Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) dan Pekerja Migran Indonesia (PMI) Tahun 2026.

Kegiatan yang berlangsung di Ruangan Theater Polimdo, Jumat (18/09/2026), tersebut diikuti 40 peserta yang akan menjalani pelatihan selama 52 hari.
Agenda diawali dengan laporan kegiatan yang disampaikan Ketua Pelaksana Peningkatan Kapasitas, Dimas Ero Permana, SST.Par., M.Par. Ia menjelaskan, dari total 40 peserta, sebanyak 12 orang merupakan perempuan dan 28 orang laki-laki.

“40 peserta itu terdiri dari 12 orang perempuan dan 28 orang laki-laki yang akan dilaksanakan selama 52 hari,” ungkapnya.
Menurut Dimas, pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan bahasa Inggris, keterampilan, serta kompetensi para peserta sehingga nantinya mampu bekerja secara optimal.
Sementara itu, Direktur Polimdo, Dra. Maryke Alelo, MBA, dalam sambutannya menekankan bahwa setiap peserta memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan dirinya sendiri.
“Ada tanggung jawab yang tidak bisa digeser kepada orang lain. Tanggung jawab itu ada pada kita. Bapak Dirjen dan BP3MI Sulut sudah mengambil tanggung jawabnya,” ujar Maryke.
Ia pun mengajak para peserta memanfaatkan kesempatan yang telah diberikan pemerintah untuk mempersiapkan diri menghadapi masa depan.
“Adik-adik peserta, ayo. Otoritas untuk mengembangkan diri diberikan Tuhan kepada adik-adik. Tuhan sudah buka jalannya, untuk mengembangkan skill-nya, dan jalan terbuka bagi adik-adik untuk meraih masa depan,” katanya.
Maryke mengingatkan bahwa kesempatan tersebut tidak boleh disia-siakan. Menurutnya, pemerintah telah membuka peluang bagi para calon pekerja migran untuk mengembangkan kemampuan dan mempersiapkan diri sebelum memasuki dunia kerja.
“Otoritas itu sudah diberikan di tangan kalian semua. Jangan sia-siakan kesempatan untuk meraih masa depan yang indah,” tegasnya.
Ia juga mendorong para peserta untuk membangun profil yang baik melalui media sosial.
“Pemerintah sudah membuka peluang ini. Kepada peserta migran, kiranya membangun profile di sosial media dengan baik. Sekali lagi, buat adik-adik, manfaatkan kesempatan ini,” jelasnya.
Lebih lanjut, Maryke menegaskan bahwa setelah mengikuti pelatihan, para peserta diharapkan memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang baik.
“Adik-adik harus menunjukkan bahwa saya bisa memperkenalkan diri dalam bahasa Inggris, saya bisa mengenal pekerjaan saya, saya bisa bercerita dalam bentuk bahasa Inggris,” tuturnya.
Bahkan, selama masa pelatihan, para peserta diharapkan terbiasa menggunakan bahasa Inggris dalam berbagai aktivitas.
“Nanti kami akan meminta agar adik-adik harus perform. Ada acara, adik-adik harus bisa berbicara, berpidato, bercerita, semuanya harus perform dalam bahasa Inggris,” ungkapnya.
Menurut Maryke, pelatihan tersebut merupakan langkah awal bagi para peserta untuk menatap masa depan yang lebih baik.
“Ini adalah jalan awal adik-adik untuk menuju masa depan yang gilang dan gemilang. Kita harus berterima kasih kepada Tuhan sudah mengirimkan pemerintah yang peduli. Kita perlu mendoakan agar bangsa kita ini boleh keluar dari semua permasalahan, dan kita bagian yang ada di dalamnya, serta seharusnya mengambil bagian di dalamnya,” katanya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Promosi dan Pemanfaatan Peluang Kerja Luar Negeri Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia/BP2MI, Dwi Setiawan Susanto, S.E., M.Si., Ak., mengapresiasi motivasi yang disampaikan Direktur Polimdo kepada para peserta.
“Luar biasa motivasi dan semangatnya dari Ibu Direktur Polimdo, Dra. Maryke Alelo, MBA. Ini merupakan kelas perdana dengan kapasitas bahasa Inggris. Ini bagian dari sukses untuk menuju talenta kalian,” ujar Dwi melalui video conference Zoom.
Ia menambahkan, para peserta pelatihan tidak hanya dipersiapkan sebagai duta Sulut, tetapi juga sebagai bagian dari tenaga kerja Indonesia yang nantinya akan berada di berbagai negara di dunia.
“Teman-teman peserta harus mempersiapkan bahasa Inggrisnya sebagai bentuk kesuksesan yang mendunia,” jelasnya.
Menurut Dwi, kemampuan bahasa Inggris menjadi salah satu kualifikasi penting yang dibutuhkan di hampir semua negara.
“Hampir semua negara, kualifikasi pertama itu adalah bahasa Inggris. Pelatihan ini menjadi bagian dari mendorong adanya kompetensi awal, serta mendorong penguasaan keahlian teknis yang akan dipersiapkan,” katanya.
Ia mencontohkan, peserta dapat diarahkan untuk memiliki keterampilan tertentu, seperti menjadi barista, sesuai dengan bidang pekerjaan yang nantinya dipilih.
“Misalnya, bisa menjadi seorang barista dan sebagainya. Tinggal peserta akan memilih kerja apa yang akan dimasuki. Kami akan terus memverifikasi prosedural yang ada, guna memperhatikan kepastian hukum kepada teman-teman peserta,” imbuhnya.
Di sela-sela kegiatan, Kepala BP3MI Sulut, AKBP Hendrick Situmorang, SH., S.IK., M.Si., turut memberikan arahan dan motivasi kepada seluruh peserta.
Ia mengatakan, para peserta tidak hanya dibekali keterampilan untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi juga dipersiapkan agar mampu membuka peluang kerja seluas-luasnya.
“Kalian dibekali untuk bagaimana membuka lapangan pekerjaan yang seluas-luasnya. Namun pemerintah juga bertanggung jawab dalam hal bagaimana pekerja-pekerja yang kita latih ini diberangkatkan ke luar negeri secara proporsional,” ucap Hendrick.
Hendrick juga meminta peserta untuk yakin terhadap peluang yang saat ini telah dibuka pemerintah.
“Yakin dan percayalah, pemerintah saat ini membuka peluang seluas-luasnya. Dan program ini akan terus bergulir, tidak hanya berhenti di sini,” katanya.
Ia menjelaskan, pemerintah melalui kementerian hingga BP3MI memiliki tanggung jawab dalam memberikan perlindungan kepada para pekerja migran, bahkan sejak proses persiapan sebelum keberangkatan.
“Di kita kementerian memiliki unit perlindungan, jadi percayalah. Pasca pelatihan, langsung berangkat. Sebenarnya perlindungan ini dilakukan bukan saat keluar negeri, dari sekarang sudah dimulai. Makanya adik-adik dari saat ini kami pantau, kami perhatikan, serta dievaluasi,” imbuhnya.
Hendrick juga mengingatkan para peserta agar tidak hanya mengandalkan keterampilan teknis, tetapi juga harus memiliki mental kerja yang kuat.
“Adik-adik ini selain disiapkan untuk bekerja di luar negeri, tapi harus memiliki mental kerja. Tidak cengeng, tidak banyak mengeluh, dan harus bisa mengembangkan diri sendiri dengan apa yang ada,” tegasnya.
Ia berharap seluruh peserta dapat mengikuti pelatihan dengan sungguh-sungguh selama 52 hari di Polimdo.
“Saat ini sudah dibukakan jalan, tinggal adik-adik ikuti dan mengembangkan diri. Mudah-mudahan, Insyaallah, 52 hari ke depan adik-adik akan dilatih di Polimdo,” tuturnya.
Terpantau Barta1.com, turut hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan Dikdas Sulut, Dinas Ketenagakerjaan Provinsi Sulut, Kepala Seksi Pelatihan dan Produktivitas Kerja, Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kota Manado, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Manado, serta jajaran pimpinan Polimdo.
Di antaranya Wakil Direktur I Bidang Akademik Polimdo, Dr. Diane Tangian, SH., M.Si., Wakil Direktur II Bidang Keuangan dan Umum Polimdo, Selvie R. Kalele, SE., M.Si., serta Wakil Direktur IV Bidang Perencanaan dan Kerja Sama Polimdo, Juliet P.T. Makinggung, SE., M.Si. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo

Discussion about this post