Talaud, Barta1.com — Memasuki hari terakhir bulan Januari 2019, cuaca ekstrim masih melanda wilayah laut Kabupaten Kepulauan Talaud. Cuaca Hujan ringan hingga deras disertai angin kencang terjadi di seluruh wilayah di tanah Porodisa.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mengeluarkan peringatan gelombang tinggi di sejumlah wilayah di Indonesia. Berdasarkan rilis dari BMKG peringatan dini gelombang tinggi capai 4 sampai 6 meter landa perairan di Indonesia, terutama di wilayah laut kepulauan talaud mulai 29-30 Januari 2019.
Dilansir akun Twitter @InfoHumasBMKG, peringatan dini gelombang tinggi di wilayah perairan Indonesia berlaku dari tanggal 29 Januari 2019 hingga 30 Januari 2019. Prediksi gelombang tinggi tersebut berdasar pada adanya pola tekanan rendah di Samudera Pasifik dan Laut Cina Selatan yang berdampak di daerah laut Kepulauan talaud .
Sedangkan kecepatan angin tertinggi terpantau ada di Selat Sunda, Perairan Kepulauan Seribu, Laut Sulawesi, Perairan Kepulauan Sangihe dan Kepulauan Talaud, Perairan utara Halmahera hingga Laut Banda.
Terkait kondisi cuaca ekstrim yang melanda perairan kepulauan kabupaten Talaud dalam beberapa hari ini dihimbau kepada masyarakat yang melakukan aktifitas di laut untuk terus waspada dengan kondisi laut yang tidak bersahabat.
Dari pantauan media ini , dimana untuk situasi pelayaran di pelabuhan Melonguane dan pelabuhan Lirung , masih terpantau aman dan belum ada peringatan serta larang untuk berlayar.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan Talaud Yance Balanehu melakukan berbagai persiapan dalam mengantisipasi dampak yang ditimbulkan akibat cuaca ekstrim.
“Bentuk kesiapan BPBD Talaud menghadapi cuaca ekstrim tersebut dengan menerbitkan surat edaran perihal antisipasi cuaca ekstrim yang ditandatangani Bupati untuk seluruh camat, kepala desa dan lurah se-Kabupaten Talaud memantau langsung sejumlah wilayah yang dinilai rawan terjadi tanah longsor, banjir dan wilayah yang rawan diterjang gelimbang laut besar,” Kata Balanehu.
Ia menjelaskan sejauh ini belum ada dampak yang timbul akibat cuaca ekstrim. Namum pihaknya tetap siaga dan mengimbau masyarakat tetap waspada khususnya mereka yang bermukim di daerah rawan bencana.
“Saya sudah sampaikan kepada staf untuk tetap siaga kemungkinan yang akan terjadi baik buruk ataupun tidak,” ungkap Balanehu.
Sementara itu, untuk aktifitas payaran laut, Shobjan Mahengkeng Nakhoda KM. Simba 1 mengatakan, saat ini pihaknya sudah menerima informasi terkait kondisi cuaca tersebut.
“Untuk kondisi cuaca, kami sudah menerima informasi yang di rilis oleh BMKG,” kata Mahengkeng saat di konfirmasi via telpon, Rabu (30/01/2019).
Lanjutnya, Selagi belum ada surat resmi atau perintah dari pihak syahbandar pihaknya mengaku akan tetap melsanakan pelayaran namun tetap mengedepankan keselamatan penumpang.(*)
Peliput : Evan Taarae


Discussion about this post