oleh

Kisah Pendeta GMIM Esentrik dan Revolusioner di Masa Pergolakan

Nicolas Rogahang, dikenal sebagai pendeta esentrik di zamannya. Khotbah-khotbahnya tajam dan menakjubkan, sarat nuansa perlawanan. Kurun 1933 -1947 suasana panas pergolakan politik dan revolusi ikut terasa di tubuh oragnisasi gereja Sulawesi Utara, tulis Sem Narande dalam “Vadula Paskah”.Pergolakan politik dalam tubuh organisasi gereja, tulis dia disebabkan Gereja Protestan Belanda (Indische Staats Kerk) di tanah Minahasa sebagai akar GMIM, mendapatkan saingan baru saat berdirinya Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM) pada 21 April 1933 oleh DR. Sam Ratulangi.

KGPM bernafaskan semangat kebangkitan nasional, ikut berjuang untuk kemerdekaan Indonesia,sangat merisaukan Pemerintah Belanda. Raja Belanda kemudian mengistruksikan pendirian GMIM pada 30 September 1934. Dua organisasi Gereja Protestan pun berdiri di tanah Minahasa. KGPM dengan semangat Pelayanan dan Nasionalisme, sedangkan GMIM murni bertumpu pada misi pelayanan dan kesaksian semata, tanpa mencampuri urusan politik.

(baca juga: Sisi Lain Permesta, Perang Yang Dipicu Oleh Kopra)

Di tengah perang mengakhiri kekuasaan Belanda, serta masa-masa pendudukan Jepang, hingga perang kemerdekaan yang berpuncak pada proklamasi 17 Agustus 1945 itu, diperkirakan sebagai periode pelayanan pendeta Robert Nicolas Rogahang di Paroki Singkil. Sinode GMIM di Tomohon saat itu dipimpin Ketua pertama Ds De Vreede.

Ketika terbentuk Barisan Pemuda Nasional Indonesia yang berfungsi sebagai TKR di Sulawesi Utara pada bulan September 1945, dimana John Rahasia sebagai Hulubalang, yang juga anggota jemaat Paroki Singkil, menyebutkan pendeta Rogahang telah menjadi pelayan di Paroki Singkil, sekaligus melayani tahanan-tahanan pemberontak di penjara Manado oleh Pemerintah Kolonial Belanda.

Rogahang dilahirkan di Ratahan, Minahasa pada 6 Oktober 1883. Ijazah kependetaannya dikeluarkan Perhimpoenan Commissie Segala Pandita di Tanah Minahasa di negeri Manado pada 13 Oktober 1911, atau 23 tahun sebelum GMIM lahir.

Pada masa perang kemerdekaan, ia digelar sebagai Pendeta Merah Putih karena khotbah-khotbahnya yang selalu membakar semangat juang para pemuda untuk membela tanah air Indonesia dari cengkraman penjajahan. Tindakannya itu merisaukan pemerintah Belanda dan gereja.

Rogahang tidak seperti rekan pendeta NZG lainnya yang ketika itu selalu berdoa untuk keselamatan dan kelestarian kekuasaan raja dari pemerintahan Kolonial Belanda. Di tengah para pemuda pejuang yang ditahan pemerintah kolonial di penjara Manado, ia berdoa agar Tuhan memberikan kekuatan, ketabahan dan semangat juang bagi para pejuang untuk mencapai cita-cita kemerdekaan.

Pendeta Rogahang dalam khotbah-khotbahnya, ungkap Narande, menekankan kesetaraan hidup umat manusia di dunia dan pentingnya kemerdekaan bagi sebuah bangsa. Ia menolak semua upaya kekerasan dan penjajahan oleh manusia terhadap manusia, dan oleh bangsa terhadap bangsa. Bagi Rogahang, kehidupan adalah anugerah terindah dari Tuhan yang tak bisa dirampas oleh siapa pun dari seseorang.

(baca juga: Mau Tahu Susunan Lengkap Organisasi Pasukan Permesta, Ini Dia…)

Kesaksian D.C David yang dikutip di tahun 1980 mengemukakan, khotbah pendeta Rogahang sangat tajam dan tanpa tendeng aling-aling. “Ia dengan tegas menegur setiap kesalahan dan tindakan buruk anggota jemaatnya,” ungkap David.

Ia juga sosok yang rajin sebagaimana diceritakan penatua tua Frits Carel Commettie. Tanpa mengenal lelah ia mendatangi setiap pelosok Paroki pelayanannya untuk menunaikan tugas pengembalaannya. Ia juga melakukan tugas-tugas penginjilan ke daerah-daerah lain di luar Paroki Singkil, termasuk ke pulau-pulau di depan pesisir Manado hingga ke pulau-pulau depan Likupang serti Talise, Gangga dan Bangka.

Apa sebenarnya yang menjadi visi Pendeta Nicolas Rogahang yang tampak kontroversial di tengah zamannya?

Dari beberapa kesaksian disebutkan ia benar-benar sosok yang meneladani sikap kepemimpinan Yesus Kristus. Model kepemimpinan yang melayani. Secara sungguh-sungguh masuk ke dalam pergumulan jemaat-jemaat dan merasakan apa yang dirasakan jemaat. Ia tidak hanya berdoa dari tempat tertutup untuk menjaga kekudusannya, tapi langsung masuk ke tengah persoalan jemaat dan masyarakat. Ia mendukung upaya-upaya perjuangan kemerdekaan agar masyarakat tidak tertindas. Ia menegur sikap hidup masyarakat yang malas bekerja agar mereka tekun hingga mendapatkan penghidupan yang layak. Ia datang memberikan semangat dan pengharapan yang teguh kepada mereka yang terpenjarah oleh karena memperjuangkan hal-hal yang benar.

Ia mengajarkan semangat yang sungguh-sungguh kepada setiap orang agar selalu berserah pada kemurahan Tuhan dalam menyelesaikan setiap persoalan hidup. Sebab penyerahan totol kepada Allah untuk menuntun hidup setiap orang adalah penting dan utama dilakukan semua kaum Kristiani.

Penindasan, kelaparan, penyakit, putus asa di tengah bangsa tak berterima baginya. Sebab dianggapnya tak sesuai dengan maksud asali Allah. Itu sebabnya hatinya iba melihat korban-korban dari semua itu. Amarah dan iba hati merupakan suatu kombinasi yang kuat dalam dirinya. Tentang sikap ini seorang penulis bernama Robert Greeleaf pernah memaparkan penekannya dimana, “orang harus menentang hal-hal yang dianggap tidak benar”.

Kondisi sosial masyarakat yang menjadi arena pelayanannya ketika itu benar-benar menuntut luapan amarah dan kemurkaan yang sejati atas kejahatan-kejahan yang merupakan penghinaan bagi Allah. Penjajahan yang menyulut kemiskinan dan penindasan atas hak-hak hidup seorang anak manusia adalah juga penghinaan bagi Allah. Maka kemarahan moral yang diletupkan Pendeta Rogahang saat itu mentransformasikan suatu sikap keteladanan seorang pemimpin Kristiani.

Pemimpin itu tidak sinonim dengan menjadi tuan. Kepemimpinan Kristiani adalah panggilan untuk melayani, bukan untuk menguasai. Panggilan untuk menjadi hamba dan bukan menjadi raja di raja. Otoritas kepemimpinan yang dijalankan dengan kasih dan kerendahan hati. Bukan kekerasan tapi keteladanan, bukan paksaan tapi persuasi.

Tentang sikap kepemimpinan seperti ini, teolog John Stott memberi penekanan pada satu frase tulisannya yang menawan dimana, “sesuatu yang besar tak mungkin tercapai, kalau dibaliknya tak ada suatu impian yang besar, suatu visi yang besar”. Demikian sikap dan visi pelayanan Pendeta Rogahan di tengah jemaatnya.

Bila sejenak bercermin pada kondisi masa kini, visi kepemimpinan Kristiani yang diemban Pendeta Rogahang nyaris sulit ditemui lagi di tengah kepemimpinan Kristiani saat ini. Pada saat ini jabatan-jabatan gerejani sering hanya dijadikan alat legitimasi dan batu loncatan guna menerobos ke tujuan-tujuan politis, bahkan dijadikan alat untuk melangkah ke panggung politik praktis. Tak bisa dipungkiri dimana saat ini tidak sedikit mereka yang mengantongi atribut jabatan gerejani yang mendekam dalam penjara akibat tindak kejahatan mereka.

Ada juga kecenderungan dari segelintir pemimpin Kristiani yang melakukan politik ‘dagang sapi’ untuk mencapai tujuan praktis yang ingin disasarnya. Bila sebuah jemaat sedang membangun gedung gereja, maka lobi-lobi yang jauh dari makna transenden dipraktekan. Mereka mendatangi para pemimpin partai politik untuk membicarakan transaksi kontraktual yang bernuansa politis dalam meloloskan proposal bantuan dana bagi pembangunan. Lebih miris lagi ketika gol-gol itu harus ditebus dengan janji-janji palsu dimana anggota jemaat akan mendukung partai yang dimaksud dalam sebuah arena politik praktis. Ada juga yang serta merta menjaminkan peresmian sebuah gedung gereja kepada seorang pemimpin politik. Ini sebuah fakta dari sekian banyak fakta kemelencengan visi dalam kepemimpinan Kristiani saat ini yang perlu mendapatkan permenungan lagi.

Kembali ke masa kepemimpinan Pendeta Rogahang. Dari hasil kerja keras dan keteladanannya, di kurun kepemimpinanya jemaat-jemaat baru terus tumbuh dan terhimpun di aras Paroki Singkil. Sistim pelayanan di jemaat-jemaat mulai terurus dengan baik. Penempatan resmi pendeta dan guru-guru jemaat lewat SK Sinode GMIM dilakukan, terutama jemaat-jemaat yang telah memiliki bagunan gereja sendiri. Hal tersebut terbukti dengan penempatan Guru Jemaat Estefanus Takonselang ke jemaat Nazaret Tuminting melalui SK BPS GMIM angka 60 tertanggal 31 Desember 1942 (2602, Syoowa), dan penempatan Pendeta Gustaaf Adolf Pangemanan tahun 1935 di Jemaat GMIM Bengkol.

Menurut Penatua Commettie, kutip Narande, Pendeta Rogahang sangat menikmati hobinya nonton film dan minum sampai mabuk.Tentang keesentrikannya ini, kita mungkin boleh bercerminapa yang dikatakan Peter Drucker adalah benar, “orang kuat, kelemahannya kuat juga”. Sebuah iklan motor yang sering ditayangkan di televisi di negara kita mengutip sebuah dagelan menarik yang menyebutkan, ’Motor juga Manusia’. Arti yang dimaksudkan dalam iklan ini adalah sedang manusia punya kekurangan apalagi motor. Demikian juga pemimpin, mereka hanya terdiri dari darah dan daging bukan dari batu atau metal.

Pemimpin-pemimpin besar yang disaksikan Alkitab juga memiliki cacat yang fatal. Dalam cerita Alkitab, Nuh yang taat kepada hukum, adalah peminum. Musa adalah seorang pemarah. Daud melanggar lima hukum Allah, yaitu berzinah, membunuh, mencuri, mengucapkan saksi dusta dan menginginkan istri orang. Masih banyak lagi pemimpin-pemimpin dalam kisahan Alkitab yang diwarnai kelemahan-kelemahan. Dan ini sesuatu yang tak dapat dipungkiri dan mesti dikoreksi.

Dan kini kita bisa mengenag Pendeta Rogahang dengan segala sisi hitam putihnya sebagaimana sitiran 2 Timotius 4:7 sebagai “sosok (aku) yang telah mengakhiri pertandingan yang baik, sosok (aku) yang telah mencapai garis akhir, dan sosok (aku) yang telah memelihara iman. Ia telah bertekun sampai akhir. (*)

Penulis: Iverdixon Tinungki

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed