Talaud, Barta1.com – Mangrove atau pohon bakau yang memiliki nama latin rhizhophora merupakan ekosistem yang terdapat di antara daratan dan lautan. Tumbuh di daerah pasang surut, pada kondisi yang sesuai, mangrove akan membentuk hutan yang ekstensif dan produktif.
Hutan mangrove sering disebut hutan bakau atau hutan payau. Dinamakan hutan bakau, karena sebagian besar vegetasinya didominasi jenis bakau. Dan disebut hutan payau karena hutannya tumbuh di atas tanah yang selalu tergenang oleh air payau.
Di Kabupaten Kepulauan Talaud sendiri memiliki sembilan belas lokasi mangrove tumbuh dan berkembang. Namun, kondisi kelompok tumbuhan dari marga rhizophora, suku rhizophoraceae ini sangat memprihatinkan.
Pasalnya, tumbuhan yang memiliki banyak fungsi dan manfaat ini sudah banyak yang ditebang oleh tangan-tangan nakal untuk berbagai macam keperluan. Kondisi hutan mangrove yang makin parah ini membuat membuat beberapa elemen angkat suara, Minggu (30/06/2019).
Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Talaud, Tonny Gagola mengatakan, mangrove mengandung desis osmosis, penangkal racun dari udara dan laut selain sumber penghidupan biota laut.
Dirinya juga mengutarakan rasa bangga karena dengan adanya program nawa cita Presiden Joko Widodo, Kabupaten Talaud sudah memiliki perangkat yang cukup lengkap. Salah satunya adalah Lanal Melonguane yang selalu eksis menjadi mitra kerja pemerintah daerah apalagi terkait pohon mangrove ini.
Ditambahkannya juga, mangrove ini, dari anggaran Rp 677 juta sewaktu dirinya Kadis Kehutanan itu sudah menanam 133 ribu pohon di tiga belas titik lokasi. Setelah dipantau, 174 pohon yang hidup. Karena apa? Selain faktor abrasi pantai, itu juga ada margin error. “Biasanya nelayan lokal memotong pohon mangrove untuk dijadikan lokasi tambatan perahu,” kata Gagola.
Lanjutnya, di stelit, satu pohon ditebang oleh masyarakat, maka kementrian lingkungan hidup dan kehutanan republik indonesia, disana langsung terdaftar bahwa di talaud satu pohon tumbang oleh karena perlakuan manusia yang tidak tahu apa manfaat dan fungsi daripada mangrove ini.
Selain itu, Gagola juga mengapresiasi kebijakan dari Danlanal yang setiap tahunnya memprogramkan penanaman bibit mangrove ini. “Saya ini sudah kali ketiga bersama dengan pak Danlanal dalam kegiatan penanaman bibit mangrove,” katanya.
Ia juga mengimbau agar masyarakat mengakrapi alam ciptaan Tuhan ini, sekaligus mencintai alam karena alam ini merupakan sumber penghidupan.
Terpisah, Danlanal Melonguane, Letkol Mar Augustinus Purba, menguraikan fungsi dan manfaat dari mangrove ini secara fisik, biologi dan pertahanan negara.
Mangrove memiliki manfaat penting bagi pesisir, air dan alam sekitarnya. Secara fisik pohon mangrove memiliki fungsi dan manfaat sebagai penahan abrasi pantai, penahan peresapan air laut, penahan ombak apabila terjadi tsunami, penahan angin, menurunkan kandungan gas beracun, mengatasi pencemaran di pesisir pantai.
Secara biologi, pohon mangrove berfungsi untuk tempat hidup, berlindung, mencari makan dan asuhan biota laut seperti ikan, udang dan burung. “Mangrove juga berfungsi sebagai pertahanan negara dalam hal ini sebagai tempat penghambat dan berlindung untuk mempertahankan wilayah daratan terhadap pihak yang tidak bertanggung jawab,” katanya.
Dia juga menambahkan, Kepulauan Talaud adalah daerah yang berhadapan dengan samudera pasifik yang merupakan kawasan sangat rawan akibat cuaca, perubahan permukaan air laut secara vertikal yang disebabkan oleh gempa bumi yang berpusat di bawah laut, sehingga dapat terjadinya abrasi pantai.
“Untuk mendukung hal tersebut sebagai bagian dari pertahanan negara, maka kita melaksanakan penanaman pohon mangrove. Kegiatan ini merupakan tanggungjawab kita semua,” kata Danlanal.
Lanal Melonguane mengajak masyarakat pesisir agar turut aktif dan menjaga kelestarian ekosistem pantai agar kerusakan-kerusakan yang terjadi dapat diminimalisir.
Kondisi ini direspon juga oleh Ketua Perkumpulan Literasi Muda Talaud (PLMT), Melky Halean menerangkan pentingnya hutan mangrove terhadap keberlangsungan makhluk hidup.
“Hutan mangrove menyimpan karbon lebih banyak 5 kali dari hutan tropis dataran tinggi, selain itu juga mangrove meredam gelombang besar termasuk tsunami, selanjutnya mangrove adalah tempat naungan bagi banyak habitat dan ikan lebih dari 100 jenis ikan hidup di areal hutan mangrove,” tutur tokoh pemuda asal Desa Dapalan tersebut.
Ia menambahkan, pentingnya manfaat hutan mangrove ini karena sebagai keberlangsungan hidup, marilah kita menjaga serta melestarikan keberadaan mangrove.
Halean juga mengajak seluruh pemuda yang ada di Kabupaten Talaud untuk menjaga, merawat dan melestarikan mangrove yang ada.
Di sisi lain, Kepala Desa Alo, Josua Larengka menegaskan, dirinya akan bertanggung jawab terhadap kelestarian pohon mangrove yang ada di desanya. Bahkan dirinya akan membuat peraturan desa (perdes) agar dapat memberikan efek jerah terhadap tangan-tangan nakal yang akan memotong pohon mangrove yang ada.
“Tentu sebagai pemerintah desa bersama masyarakat akan bertanggung jawab dalam pemeliharaan bibit mangrove yang sudah di tanam,” jelas Larengka.
“Langkah-langkah yang akan kami lakukan diantaranya adalah sosialisasi kepada masyarakat tentang fungsi dan manfaat dari pohon mangrove ini. Bahkan kepala desa akan berembuk dengan seluruh elemen masyarakat desa untuk membuat peraturan desa terkait upaya menjaga, memelihara dan melestarikan mangrove yang ada,” tegas Larengka.
Peliput : Evan Taarae


Discussion about this post