BARTA1.COM– Di tengah gemuruh ombak Kepulauan Utara Sulawesi, sebuah transformasi sunyi sedang berlangsung di abad ke-17. Ini bukan tentang perang, melainkan tentang pena, sekolah, dan sakramen baptis yang mengubah wajah sosial masyarakat Tagulandang selamanya.
Semua bermula ketika Raja Bawise alias Anthony Bapias memutuskan untuk memeluk Kristen Protestan. Daghregister Batavia mencatat momen haru ketika sang raja, istrinya, dan 183 penduduk dibaptis oleh Pendeta Petrus Sibelius.
“Nama baptis Anthony diambil dari nama depan Gubernur Anthony van Voorst,” ungkap Adrianus Kojongian, peneliti sejarah lokal.
Namun, tantangan muncul saat putra mahkota, Philip Anthonisz, masih sangat muda dan menderita penyakit kulit yang parah—apa yang disebut Gubernur Padtbrugge sebagai lazerij. Padtbrugge awalnya skeptis, namun kehendak terakhir President Monia sebelum wafat meminta agar sang raja muda tetap dipertahankan dan dididik.
Gubernur Padtbrugge kemudian menawarkan solusi yang kelak mengubah jalannya sejarah: Philip harus dikirim ke Benteng Malayu, Ternate.
“Raja muda akan dijinakkan dan ditundukkan selagi masih muda, sebelum terlambat,” tulis Padtbrugge. Di sana, sang calon raja dididik secara intensif dan penyakitnya pun disembuhkan.
Pendidikan tersebut membuahkan hasil luar biasa. Philip kembali ke Tagulandang bukan hanya sebagai raja, melainkan sebagai seorang intelektual yang mencintai ilmu pengetahuan.
Di bawah asuhannya, sekolah-sekolah mulai bermunculan. Pada tahun 1689, sekolah di Tagulandang sudah memiliki 117 siswa, sebuah angka yang besar di masa itu.
Raja Philip tidak bekerja sendiri. Ia membawa guru-guru muda yang telah dilatih di Ternate, seperti Francisco Matbons yang ditempatkan di Minanga. “Sang raja telah melakukan yang terbaik,” puji Gubernur Jenderal Joannes Camphuys dalam surat resminya pada tahun 1691.
Transformasi ini juga menyentuh aspek religius. Gereja-gereja yang baik mulai dibangun dan dipelihara. Pada tahun 1695, Tagulandang mencatat memiliki 1.764 orang Kristen dengan dua sekolah yang aktif.
Iman dan pendidikan menjadi dua pilar utama yang menyatukan masyarakat di bawah kepemimpinan Philip.
Keberhasilan model pendidikan Philip ini bahkan menjadi rujukan bagi kerajaan tetangga. Putra mahkota Siau, Pangeran Xavier, kemudian dikirim ke Ternate untuk mengikuti jejak Philip—sebuah bukti bahwa Tagulandang telah menjadi pelopor dalam pengembangan sumber daya manusia di kawasan tersebut.
Kesejahteraan pun meningkat seiring dengan stabilitas sosial. Penduduk yang terdidik mampu mengelola sumber daya alam mereka, termasuk produksi kapur, kayu, dan minyak kelapa yang melimpah, untuk memperkuat posisi tawar kerajaan di mata dunia internasional saat itu.
Estafet ini kemudian diteruskan oleh raja-raja selanjutnya, termasuk Josef Tamarel yang memerintah dengan sangat lama. Ia menjaga fondasi pendidikan dan iman yang telah diletakkan oleh para pendahulunya, memastikan masyarakat Tagulandang tetap memiliki karakter yang kuat.
Menengok kembali ke abad ke-18, kita melihat bahwa kemajuan Tagulandang tidak datang dari kekuatan militer, melainkan dari keberanian para rajanya untuk membuka diri terhadap ilmu pengetahuan dan perubahan keyakinan tanpa kehilangan jati diri.
Kini, lonceng gereja dan sekolah di Tagulandang tetap berbunyi, sebuah gema panjang dari visi besar seorang raja muda yang pernah “dijinakkan” di benteng asing demi kemajuan bangsanya sendiri.(*)
Penulis/Editor:
Iverdixon Tinungki


Discussion about this post