PELAGOS
moyangku pelaut yang tahu
di mana letak tujuh belas mata angin
luas cakrawala
persegi bintang pembujur arah
dan arus tak bisa sembunyi darinya
perahunya menderap sebijak mantra
syair tubuh menjelma diri yang nyata
karena itu…
karena itu datudatu bernyanyi;
mendetaki laut ini
mendetaki gelombang dalam diri
begitu kami menebah pagi
pada semua suara burung
mengicaukan pulau
bagai katakata bestari
di puncak cempaka dan turi
mantra tak pernah mati
menegakkan tradisi
dari zaman flake dan blade
setelah batu
moyangku menempa perunggu
mengolah lempung di sulur sejarah periuk
karena ia ingin menggarami hidup
–dan kami mau hidup
logamlogamku akan berdencing
serupa moyangku menghalau bajak laut
di medan perang yang kukenduri
aku dan moyangku pelaut
kami tahu di mana letak maut;
hanya sejauh khilaf
dan sungut
KEMBALILAH RAS NAGA
kembalilah ras naga
kembali ke laut
nyanyian camar
jangan sampai samar
di sajakku lembayung mencair
rupa kata menetas di altar air
ia mengalir bersama perahu cadik
mencari bandar dan hilir
sejarahkan padaku bau rempah
barus dan damar
buat sejakku
kembali berlayar
kembalilah ras naga
kembali ke Tamil, ke Madagascar
orangorang menantimu
muncul kembali
di kabut laut berwarna hijau toska
kembalilah
dan penari menyambutmu
dalam pesta copla*)
karena sejarah kusajakkan ini
kisah nira di tembikar tua
menuai kembali penghibur
cadik perahumu yang gemerlapan
kembalilah ras naga
kembali ke timur jauh sajakku
*) Copla:Puisi rakyat Spanyol yang mirip dengan Puisi rakyat Sangihe Sasambo.


Discussion about this post