BARTA1.COM–Di antara riak ombak Laut Sulawesi yang memeluk gugusan Kepulauan Sangihe dan Talaud, tersembunyi sebuah kisah heroik yang jarang terlukis di buku-buku sejarah besar. Ini adalah kisah tentang Daluga, atau yang oleh penduduk lokal dipanggil Kiha, si umbi rawa berkarbohidrat tinggi.
Ia bukanlah padi, bukan pula gandum, melainkan sejenis Cyrtosperma merkussi dari keluarga Araceae, yang tumbuh sabar di tanah-tanah berpasir dan berlumpur.
Namun, di tengah gemuruh krisis global dan desingan peluru Perang Dunia II, Daluga naik takhta, diangkat sebagai simbol ketahanan dan penyelamat nyawa, jauh sebelum istilah ketahanan pangan menjadi jargon modern.
Tahun 1939. Eropa telah berubah menjadi palagan darah, dan getaran perang itu menjalar hingga ke sudut terdalam Nusantara. Bagi Kerajaan Tagulandang, salah satu kerajaan kecil di kepulauan itu dengan populasi sekitar 11.401 jiwa, bencana datang dari arah yang tak terduga: ekonomi.
Harga kopra, urat nadi kehidupan mereka, anjlok ke titik nadir, menyeret kerajaan ke jurang kemiskinan dan kelaparan yang mencekik. Dinding-dinding rumah pun terasa dingin, dan perut-perut mulai bernyanyi lagu kesedihan.
Di tengah kekacauan itu, muncul sosok Raja Tagulandang, Willem Philips Jacobz Simbat (memerintah 1936-1942). Sebagai pemimpin, ia tidak bisa tinggal diam menyaksikan rakyatnya didera lapar.
Pada awal tahun 1939, dalam sebuah kebijakan yang tak terhindarkan namun berani, Raja Simbat mengeluarkan apa yang dikenal sebagai ‘Titah Raja’. Titah itu bukan dekret perang, melainkan perintah sederhana namun radikal: rakyat diwajibkan menjadikan Daluga sebagai menu pokok.
“Mulai sekarang, pesta kita cukup dengan Daluga, lemper, dan umbi-umbian lokal lainnya,” tegas Raja Simbat, titahnya menggema di seantero negeri.
Mengutip catatan dari Ensiklopedia Hindia-Belanda tahun 1939, kebijakan ini sedemikian ketatnya sampai-sampai gula dan teh menjadi barang mewah yang dilarang untuk dikonsumsi.
Kue kering pun ditabukan jika dibuat dari tepung impor. Itu adalah pertimbangan penghematan yang murni, sebuah siasat Raja untuk menambal lubang ekonomi dan perut rakyat di tengah badai perang dunia.
Sembilan puluh kilometer di selatan Tagulandang, cerita serupa terukir di Kerajaan Siau. Raja Frans Pieter Parengkuan (dilantik 1930), seorang pemimpin visioner, juga menempatkan umbi-umbian lokal sebagai benteng pertahanan pangan.
Sejarawan Adrianus Kojongian mencatat bahwa bersama Daluga dan sagu, Raja Parengkuan menjadikan kawasan Mburake dan Danau Kapeta sebagai sentra produksi pangan.
“Krisis 1941 akibat Perang Dunia II tidak menjatuhkan kita karena ada cadangan,” mungkin itulah yang ada di benak Raja Parengkuan. Ia tidak hanya mengandalkan Daluga yang tumbuh liar; ia membangun sistem.
Lumbung pangan didirikan di beberapa kampung, dan konon, ia berhasil menyimpan hingga 6.000 karung padi sebagai penyangga.
Ketika krisis pangan menghantam keras daerah lain, Kerajaan Siau tertolong berkat ketersediaan dan kebijakan Raja yang antisipatif.
Namun, keberadaan Daluga sebagai penyelamat bukan hanya terikat pada Perang Dunia II. Sejarah Sangihe Talaud adalah sejarah yang berulang kali dihantam bencana, mulai dari wabah kolera tahun 1820 hingga wabah flu 1920 yang memorakporandakan dunia.
Dalam setiap episode krisis, Daluga dan umbi-umbian lokal lainnya selalu menjadi jawaban instingtif, sebuah kearifan lokal yang terbukti ampuh di tengah keterbatasan.
Merunut ke belakang, krisis pangan adalah momok yang melintasi peradaban. Di Romawi kuno, seperti diungkap oleh Peter Garnsey dalam Famine and Food Supply in the Graeco-Roman World, gangguan air dan politik seringkali berujung pada kelaparan massal.
“Selalu ada hubungan sebab akibat antara perang, penduduk lokal dan asing, dengan kelaparan,” tulis Garnsey dalam karyanya yang lain.
Dari Athena hingga Roma, dari Tiongkok Kuno hingga Mesir di zaman Firaun, peperangan, wabah penyakit, dan penyimpangan iklim selalu melahirkan kisah horor yang sama: kelaparan.
Dalam buku Empires of Food, Evan Fraser dan Andrew Rimas mengungkap bagaimana Tiongkok Utara pada periode 1876-1878 dilanda kekeringan yang menewaskan hampir 13 juta jiwa.
Bayangkan sebuah wilayah luas yang tak diguyur hujan selama bertahun-tahun, yang kemudian memicu tindakan kriminalitas, bunuh diri, bahkan kanibalisme.
Di Mesir, banjir berkepanjangan pada tahun 967 Masehi menimbulkan kelaparan yang merenggut 600.000 jiwa di sekitar Fustat. Kelaparan adalah bencana alam terburuk yang dampaknya bisa bertahan bertahun-tahun.
Kisah-kisah kelam itu menjadi latar belakang yang menegaskan betapa pentingnya peran Daluga. Umbi ini, dengan kandungan karbohidrat tinggi, terbukti efektif menjadi sumber energi utama. Masyarakat Sangihe dan Talaud mengolahnya secara sederhana, direbus, dikukus, dipanggang, digoreng, atau bahkan diubah menjadi “kue katan”—kue tradisional.
Kini, Daluga telah naik kelas. Ia tak lagi sekadar makanan penyelamat dari masa kelam. Belakangan, umbian lokal ini mulai tampak disajikan pada pesta-pesta bergengsi: di pesta perkawinan, ulang tahun, bahkan acara adat dan jamuan di kalangan pemerintahan di Sangihe Talaud.
Ia menjadi simbol kebanggaan lokal, sepotong warisan sejarah yang kini berfungsi sebagai pangan alternatif yang “seksi“.
Para pakar pun mengakui nilai pentingnya. Penelitian menunjukkan Daluga vital dalam menunjang program pemerintah untuk meningkatkan kemandirian pangan daerah.
Di era modern, kesadaran akan bahaya kelangkaan pangan telah menjadi agenda global, ditandai dengan penetapan 16 Oktober sebagai Hari Pangan Sedunia (HPS) oleh FAO sejak 1981.
Namun, jauh sebelum resolusi PBB lahir, rakyat Sangihe Talaud sudah punya pahlawannya sendiri: Daluga. Umbi rawa yang membuktikan, bahwa terkadang, solusi terbesar untuk krisis paling modern, terletak pada kearifan dan kekayaan tanah leluhur yang paling sederhana. (*)
Penulis/Editor:
Iverdixon Tinungki


Discussion about this post