Manado, Barta1.com — Ratusan seniman dan pelaku budaya siap turun ke jalan dalam aksi damai yang dipelopori Gerakan Seniman Sulut (Gemas). Demonstrasi bakal bergulir Kamis (16/10/2025) di Taman Budaya dan Kantor Gubernur Sulawesi Utara. Tuntutan mereka jelas, menolak pengalihan fungsi lahan Taman Budaya menjadi SPBU.
“Rencana demonstrasi sudah tuntas dan kami pastikan ini aksi damai dan tidak anarkis, seniman punya cara untuk menyuarakan aspirasinya dan ini yang akan ditunjukan besok di Taman Budaya dan Kantor Gubernur, mudah-mudahan pihak berkompeten dan para pengambil kebijakan bisa ada saat kami bersuara,” tegas Aldes Sambalao, koordinator aksi, Rabu (15/10/2025).
Gerakan melindungi Taman Budaya dari pengalihan fungsi adalah isu sentral yang merebak di kalangan seniman serta pelaku budaya dari seantero Sulut sepanjang beberapa pekan terakhir. Mereka menilai ini adalah ‘musibah kebudayaan’.
Anggapan itu, menurut Alfred Pontolondo —perupa lukis— tidak keliru. Taman Budaya merupakan aset yang dibangun pemerintah daerah era 80-an yang menjadi rumah bersama para seniman dan pelaku budaya. Tetapi sejak beberapa tahun lalu, Taman Budaya di kawasan Rike Manado ditinggal kosong oleh instansi teknis, karena dianggap tidak menghasilkan pendapatan untuk daerah. Bangunan itu kini tak terawat.
“Jadi anggapan keliru apabila fasilitas yang benefitnya sebagai tempat berkesenian, pencurahan aspirasi, ide dan kreativitas kemudian diwajibkan menghasilkan profit, sangat aneh bila nilai Taman Budaya diukur dari bagaimana dia bisa dikapitalisasi,” terang Alfred.
Ekspektasi pada Gubernur
Aldes Sambalao menyatakan para seniman dan pelaku budaya serta pemerhati lainnya yang bergabung dalam Gemas punya ekspektasi terhadap pemerintahan daerah saat ini yang dipimpin Gubernur Yulius Selvanus.
Sebagaimana Gubernur Yulius Selvanus langsung mengambil langkah penyelamatan pada museum daerah yang bertahun-tahun terbengkalai, sepatutnya juga langkah sama bisa diambil untuk Taman Budaya.
“Apalagi yang kami ikuti lewat konten salah satu media daring, para pejabat pemerintah provinsi menjelaskan bahwa pak Gubernur kita punya jiwa seni dan kepedulian besar pada kebudayaan, juga kata mereka seni dan budaya adalah modal besar untuk mendorong program pariwisata daerah,” tutur Aldes.
“Jadi ada ekspektasi positif dari para seniman, bahwa pak Gubernur saat ini berbeda dengan pemimpin-pemimpin daerah sebelumnya, yang sebelum-sebelumnya lebih memikirkan kapitalisasi tapi melupakan persoalan jadidiri bangsa dalam kesenian dan kebudayaan,” tambah dia lagi.
Terkait aksi besok, koordinator lapangan Vick Baule menjelaskan, upaya penyampaian aspirasi secara komprehensif akan dimaklumatkan lewat orasi peneliti budaya Pitres Caroles Sombowadile. Yang paling menarik lanjut dia adalah, mengingat aksi digawangi para seniman maka tentu warna seni akan ditonjolkan.
Antara lain live painting, Kabasaran, Tagonggong, musikalisasi puisi, gitar akustik. Juga Rikson Karundeng akan mendendangkan syair-syair Kalelon serta happening art dari komunitas Teater Sonder yang dipimpin Sylvester Ompi Setligt.
“Untuk warga Manado, besok, kami mohon maaf maaf bila iring-iringan aksi mengganggu perjalanan anda atau pun memicu kemacetan, mudah-mudahan aksi ini bisa dilihat secara positif sebagai upaya penyelamatan Taman Budaya,” ulas Vick Baule. (*)
Editor:
Ady Putong


Discussion about this post