Manado, Barta1.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) melakukan kunjungan ke Kampus Politeknik Negeri Manado (Polimdo) pada Kamis (25/09/2025). Kunjungan ini dipimpin langsung oleh Kepala BPS Sulut, Aidil Adha, yang disambut hangat oleh Direktur Polimdo, Dra. Mareyke Alelo, MBA, didampingi Wakil Direktur Bidang Perencanaan dan Kerja Sama, Juliet Makingung, SE, M.Si. Pertemuan berlangsung di Laboratorium Coffee Polimdo.

Dalam kunjungan tersebut, dibahas rencana kerja sama antara BPS dan Polimdo melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU). Salah satu poin utama kerja sama ini adalah pembentukan Pojok Statistik di kampus Polimdo.
“Pojok statistik ini merupakan bagian dari program jemput bola kami, sehingga mahasiswa tidak perlu lagi datang ke kantor BPS,” ungkap Aidil Adha sambil tersenyum.
Pojok Statistik ini nantinya akan menyediakan data-data dari BPS dan akan dikelola langsung oleh mahasiswa Polimdo. Tujuannya adalah agar mahasiswa dapat mengakses serta memanfaatkan data statistik secara langsung untuk keperluan akademik dan penelitian.
Aidil menambahkan, kolaborasi ini juga mencakup program-program yang berdampak langsung kepada masyarakat, seperti pembinaan desa dan partisipasi dalam kegiatan mengajar, bekerja sama dengan Polimdo.
“Mahasiswa Polimdo itu kan siap pakai, jadi harapannya mereka bisa langsung memberikan dampak nyata di masyarakat,” tambahnya.
Kerja Sama Saling Menguntungkan
Direktur Polimdo, Dra. Mareyke Alelo, MBA, menyambut positif kerja sama ini. Menurutnya, kolaborasi dengan BPS sangat bermanfaat, baik bagi institusi pendidikan maupun lembaga pemerintah.
“Data statistik dari kantor pusat BPS nantinya bisa diakses oleh mahasiswa Polimdo. Selain itu, mahasiswa juga bisa turut serta dalam program pendampingan desa, seperti program Desa Cantik,” jelas Mareyke.
Ia menambahkan, melalui program tersebut, mahasiswa Polimdo dapat berperan dalam pelatihan dan pemberdayaan masyarakat desa.
“Harapannya, kerja sama ini bisa memberikan dampak nyata kepada publik. Langkah selanjutnya adalah segera merealisasikan MoU antara Polimdo dan BPS,” tambahnya.
Mahasiswa Akan Terlibat Aktif
Wakil Direktur Bidang Perencanaan dan Kerja Sama, Juliet Makingung, SE, M.Si, menjelaskan bahwa kehadiran BPS di kampus Polimdo bertujuan untuk membangun kolaborasi strategis, salah satunya melalui pendirian pojok statistik yang akan dikelola mahasiswa.
“Mahasiswa maupun dosen yang membutuhkan data bisa langsung mengakses pojok statistik. BPS akan memfasilitasi pelatihan untuk mahasiswa agar mereka bisa mengelola data dengan baik,” ujarnya.
Juliet juga menyoroti permasalahan yang kerap dihadapi di tingkat desa dan kelurahan, yakni keterbatasan dan ketidakmutakhiran data.
“Banyak desa kesulitan mencari data karena keterbatasan teknologi. Maka dari itu, mahasiswa akan dilatih untuk membantu desa mengelola dan memperbarui data mereka, tentu dengan dukungan BPS,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa beberapa jurusan di Polimdo, seperti Administrasi Bisnis, memiliki mata kuliah Statistik dan Metodologi Penelitian. Dalam konteks ini, BPS siap berkontribusi sebagai dosen praktisi dari industri.
“Dalam satu semester dengan 16 kali pertemuan, bisa dibagi: 8 kali diajar oleh BPS, dan 8 kali oleh dosen kampus. Ini bentuk kolaborasi nyata dunia pendidikan dengan industri,” tuturnya.
Kolaborasi Konkret: Dari Desa Cantik hingga Pengajaran Industri
Juliet mengungkapkan bahwa kolaborasi semacam ini sebenarnya telah berjalan sejak 2014, khususnya di Jurusan Administrasi Bisnis. Bahkan, beberapa mitra industri lain seperti Bursa Efek Jakarta dan perusahaan sekuritas juga telah ambil bagian dalam mengajar.
Ia juga menyebut program Desa Cantik (Desa Cinta Statistik) sebagai salah satu bentuk sinergi yang akan dilanjutkan bersama BPS. Contohnya, keterlibatan Polimdo dalam membina Desa Budo dan saat ini, Desa Darunu.
“Ketika BPS melihat apa yang sudah dilakukan Polimdo, mereka ingin kami mendampingi lebih banyak desa. Mahasiswa akan turun ke lapangan sesuai kompetensi jurusan masing-masing,” jelas Juliet.
Ia menutup pernyataannya dengan menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan mitra eksternal.
“Kalau perguruan tinggi berjalan sendiri tentu kurang optimal. Tapi kalau ada mitra dari pemerintah, BUMN, seperti BPS ini, kontribusinya akan jauh lebih besar dan benar-benar berdampak,” pungkasnya. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post