Sangihe, Barta1.com — Hasil penelusuran di lapangan yang dilakukan oleh tim dari bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) dan tenaga Puskesmas, Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Sangihe menunjukkan bahwa faktor perilaku, khususnya kebiasaan merokok dalam keluarga, menjadi salah satu determinan non-kesehatan yang kuat memengaruhi kejadian stunting di Kabupaten Kepulauan Sangihe.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Sangihe, Handry Pasandaran, menegaskan bahwa temuan tersebut berdasarkan data konkret dari lapangan dan perlu menjadi perhatian serius.
“Berdasarkan hasil penelusuran dan analisis yang dilakukan oleh tim kami di lapangan, kami menemukan bahwa sekitar 94 persen anak yang mengalami stunting berasal dari keluarga perokok. Ini merupakan temuan penting yang mengarah pada kesimpulan bahwa faktor perilaku, khususnya kebiasaan merokok dalam rumah tangga, menjadi salah satu determinan non-kesehatan yang signifikan terhadap kejadian stunting di wilayah kita,” ujar Pasandaran saat dihubungi, Jumat (11/7/2025).
Ia menjelaskan bahwa paparan asap rokok selama masa kehamilan dan masa pertumbuhan anak dapat mengganggu perkembangan fisik dan kognitif anak secara signifikan.

“Rokok mengandung berbagai zat toksik yang tidak hanya membahayakan perokok itu sendiri, tetapi juga orang-orang di sekitarnya, termasuk ibu hamil dan anak-anak. Paparan asap rokok sangat berpotensi menghambat pertumbuhan anak. Ini memperkuat berbagai temuan ilmiah sebelumnya yang menunjukkan adanya korelasi kuat antara kebiasaan merokok dalam keluarga dan gangguan pertumbuhan anak,” lanjutnya.
Menindaklanjuti temuan tersebut, Dinas Kesehatan telah menginstruksikan seluruh tenaga kesehatan di Puskesmas untuk menggencarkan kampanye Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), dengan fokus khusus pada edukasi bahaya rokok dan pentingnya menciptakan rumah yang bebas asap rokok.
“Kami mendorong tempat kerja dan fasilitas umum untuk mematuhi regulasi kawasan tanpa rokok, atau setidaknya menyediakan ruang khusus merokok yang tertutup dan terpisah dari area umum. Kami juga mengajak para kader kesehatan untuk aktif mendampingi ibu hamil, memberikan edukasi dan pemahaman bahwa menciptakan rumah yang sehat dan bebas rokok adalah bagian dari upaya pencegahan stunting sejak dini,” ujar Pasandaran.
Lebih lanjut, Dinas Kesehatan membuka peluang kerja sama dengan perguruan tinggi untuk melakukan penelitian lanjutan mengenai pengaruh paparan rokok dalam keluarga terhadap kejadian stunting.
“Ke depan, kami melihat perlunya kerja sama dengan perguruan tinggi dan lembaga penelitian untuk melakukan kajian lebih mendalam mengenai pengaruh kebiasaan merokok terhadap kejadian stunting, khususnya di Sangihe. Penelitian ini penting agar kebijakan intervensi yang kami lakukan berbasis bukti ilmiah dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” tutupnya.
Peliput: Rendy Saselah


Discussion about this post