Manado, Barta1.com – Politeknik Negeri Manado (Polimdo) kembali menggelar kegiatan Pengabdian Berbasis Masyarakat (PBM), dengan mengangkat tema “Pelatihan Peningkatan Kecerdasan Emosional melalui Mindful Self-Compassion untuk Mendorong Motivasi Berprestasi pada Mahasiswa Jurusan Administrasi Bisnis Polimdo”.

Kegiatan ini berlangsung pada Kamis, 10 Juli 2025, di Lantai IV Gedung Kuliah Terpadu (GKT) Polimdo. Hadir sebagai narasumber utama, Dr. Yunita Sumakul, M.Psi., yang dikenal sebagai ahli dalam bidang kecerdasan emosional.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Wakil Direktur Bidang Perencanaan dan Kerja Sama Polimdo, Juliet Makingung, SE., M.Si., selaku Ketua Pelaksana. Ia didampingi oleh tim pelaksana yang terdiri dari Dr. Selfy Manueke, S.E., MHRMgt&IR, Meiske Manopo, S.E., M.Si., dan Nisba Silvana, SE., MM. Mereka tidak sendiri, melainkan dibantu oleh beberpa mahasiswa yang ada.

Dalam pemaparannya kepada puluhan mahasiswa Jurusan Administrasi Bisnis (AB), Dr. Yunita mengajak peserta untuk merefleksikan diri. Ia mengajak mahasiswa memahami pentingnya merasa berharga bukan karena pencapaian semata, tetapi karena menerima diri sendiri apa adanya.

“Siapa yang merasa dirinya paling pintar, paling menarik, dan lebih dari orang lain? Kita cenderung ingin merasa disukai agar merasa berharga. Tapi, apakah untuk merasa berharga, kita harus memiliki IPK tertinggi dan sempurna dalam segala hal? Apakah semua orang bisa ada di puncak secara bersamaan?” tanya Yunita, sambil tersenyum kepada peserta.

Ia menjelaskan bahwa tekanan untuk menjadi sempurna sering kali membuat kita membandingkan diri dengan orang lain, yang pada akhirnya menimbulkan perasaan tidak cukup baik, cemas, bahkan depresi.
“Contohnya, kita berpikir: kenapa si A punya banyak teman, sementara saya tidak? Kenapa si B jago main musik, tapi saya tidak bisa? Lalu kita mulai menghakimi diri sendiri, seperti merasa bodoh, tidak berguna, hingga kelelahan secara emosional,” ujarnya.
Menurut Dr. Yunita, pola pikir seperti itu harus diubah dengan pendekatan yang lebih sehat: self-compassion, atau kasih sayang terhadap diri sendiri.
“Self-compassion bukan berarti memanjakan diri, tapi mengakui keterbatasan dan tetap menyayangi diri sendiri. Misalnya, mengatakan: ‘Saya sudah berusaha, dan itu cukup untuk saat ini.’ Tidak apa-apa jika belum sempurna. Bahkan saat gagal sekalipun, kita tetap layak dicintai dan dihargai,” jelasnya.
Ia menyebut, self-compassion mencakup tiga hal penting: kebaikan pada diri sendiri, pemahaman bahwa tidak ada yang sempurna, serta penerimaan terhadap diri dalam menghadapi kegagalan.
“Ketika merasa gagal atau lelah, izinkan diri merasakan kekecewaan tanpa mengkritik atau membandingkan diri dengan orang lain. Beri ruang untuk memproses perasaan itu, lalu lanjutkan dengan penuh kasih,” tuturnya.
Menutup sesi, Dr. Yunita mengajak mahasiswa mempraktikkan teknik pernapasan sederhana yang bisa membantu mengelola stres. Ia memandu peserta meletakkan tangan di lengan sambil berkata dengan lembut, “Sudah capek, ya? Sekarang istirahat. Saya semakin rileks,” sembari menarik napas dalam menggunakan teknik pernapasan perut.
Kegiatan ini mendapat antusiasme tinggi dari para mahasiswa, yang terlihat aktif mengikuti setiap sesi. Diharapkan, pendekatan mindful self-compassion ini dapat mendorong motivasi dan kesejahteraan emosional mahasiswa Polimdo dalam menjalani studi dan kehidupan sehari-hari.
Salah satu tim tim pelaksana PBM, Nisba Silvana, ketika diwawancarai mengatakan. “Pelatihan ini saya laksanakan berdasarkan hasil observasi selama mengajar satu semester di Jurusan AB Polimdo. Dari pengalaman tersebut, saya menemukan banyak mahasiswa yang memiliki tingkat self-compassion yang rendah.”
“Saya melihat banyak mahasiswa sulit menerima diri mereka sendiri. Mereka cenderung fokus pada kekurangan diri dan membandingkan diri dengan kelebihan orang lain, hingga tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka juga memiliki kelebihan,” jelas Nisba.
Dampak buruknya, lanjut Nisba, ketika self-compassion seseorang rendah, mereka merasa tidak memiliki potensi.
“Mereka merasa hidupnya tidak berarti bagi orang lain dan sering kali merasa dipandang rendah melalui stigma-stigma negatif. Hal ini akhirnya menurunkan kecerdasan emosional dan kepercayaan diri mereka. Dari hasil observasi itulah, saya ingin memberikan mereka pemahaman betapa pentingnya mencintai diri sendiri. Tujuannya supaya apapun yang diinginkan, sebesar apapun mimpinya, pasti bisa diwujudkan,” tutupnya. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post