Oleh: Frans Eka Dharma K atau Ances
SEBELUM tragedi Trisakti 12 Mei 1998, gerakan mahasiswa di berbagai kota besar, terutama yang memiliki kampus atau perguruan tinggi negeri mulai melakukan aksi-aksi demonstrasi menentang rezim Soeharto. Sementara di Manado, khususnya di Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), terlihat adem ayem. Berita gejolak perlawanan mahasiswa yang sudah memakan korban di Jogyakarta belum mampu menggugah nurani mahasiswa Unsrat apalagi Senat Mahasiswanya.
Sebelum peristiwa tragedi Trisakti 12 Mei 1998, hanya segelintir mahasiswa yang merespon gejolak gerakan mahasiswa di Manado. Segelintir mahasiswa ini pun adalah mahasiswa yang terlibat SMID (Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi) yang pada tahun 1996 dicap organisasi terlarang karena menjadi underbow Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang jadi kambing hitam dan dituduh merencanakan makar dengan menunggangi peristiwa 27 Juli 1996.
Dibawah ancaman pihak militer orde baru, SMID Manado bergerak mengorganisir mahasiswa dengan membentuk organisasi taktis untuk muncul dalam gerakan mahasiswa maupun gerakan sosial. Berdirilah FOSMI (Forum Solidaritas Mahasiswa Indonesia) sekitar tahun 1997 yang mengorganisir diskusi-diskusi dan terlibat advokasi bersama YLBHI Manado.
Dari diskusi-diskusi FOSMI dan interaksi dengan YLBHI Manado berkembanglah rencana-rencana aksi demonstrasi mendukung perjuangan demokratisasi dan menyuarakan persoalan-persoalan rakyat yang terjadi saat advokasi.
Sejak peringatan May Day 1998 dan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 1998, bentuk aksi yang dipilih adalah aksi mimbar bebas. Aksi yang dihadiri hanya tidak lebih dari 10 orang mahasiswa. Uniknya, aksi-aksi mimbar bebas yang diselenggarakan di kampus FISIP Unsrat mendapat tentangan dari Senat Mahisiswa. Begitu juga ketika mimbar bebas di halaman PKM Unsrat, Senat Mahasiswa Unsrat bersikeras membubarkan demonstrasi dibantu aparat polisi dan militer orde baru.
Pasca terjadinya penembakan 4 mahasiswa Universitas Trisakti pada tanggal 12 Mei 1998, barulah ada kesadaran baru dari mahasiswa. Tapi peristiwa tersebut tidak mampu membuat organisasi ekstra kampus atau Cipayung mau terlibat. Beberapa aktivis kelompok Cipayung lebih memilih bergabung secara pribadi mengikuti demonstrasi mahasiswa pada waktu itu. Senat Mahasiswa? Jangan harap mereka punya empati! Maklum saat itu Soeharto masih berkuasa dan mereka sedang menikmati fasilitas kekuasaan, begitu juga dengan birokrat kampus.
Semenjak tragedi Trisakti, gerakan mahasiswa juga mendapat dukungan dari beberapa dosen yang cukup kritis melihat situasi bangsa dan daerah. Begitu juga dari tokoh-tokoh lokal terutama dari mereka yang selama ini disingkirkan oleh orde baru, termasuk para loyalis Bung Karno yang ada di Sulawesi Utara. Beberapa tokoh-tokoh gereja yang memahami situasi juga ikut bergabung salah satunya adalah dr. Bert Supit dan pendeta Nico Gara, kecuali Ketua Pemuda GMIM yang secara terbuka mengutuk demonstrasi mahasiswa di Manado saat itu. Tapi, sekali lagi, maklum pada saat itu Soeharto belum tumbang.
Dari peristiwa Trisakti inilah di Manado juga mulai mengorganisir demonstrasi besar-besaran yang menggabungkan kekuatan mahasiswa diberbagai kampus di Sulawesi Utara. Unsrat, UKIT, UNIMA, Politeknik Manado, mulai dikonsolidasikan. Konsolidasi ini jelas melibatkan berbagai aktivis mahasiswa termasuk aktivis mahasiswa dari kelompok Cipayung yang kritis sekalipun tidak bisa membawa bendera organisasi masing-masing.
Aksi demonstrasi besar direncanakan berbarengan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 1998. Dihari yang sama juga akan diadakan seminar yang melibatkan tokoh-tokoh dan dosen-dosen yang mendukung perjuangan mahasiswa di FISIP Unsrat. Seminar tersebut akan didorong oleh tokoh-tokoh untuk memberi dukungan terbuka sekaligus menyerukan aksi bersama. Mobilisasi mahasiswa dari kampus-kampus lainpun diarahkan ke FISIP Unsrat dengan alasan ikut seminar.
Seminar itu sendiri tidak berlangsung lama. Seruan turun kejalan bergema. Tuntutan agar Soeharto mundur dan mencabut Dwi Fungsi ABRI jadi isu utama menjadikan gerakan mahasiswa Manado memperjuangkan isu bersama seperti yang dilakukan mahasiswa yang sedang menduduki kantor DPR/MPR pada waktu itu.
Lebih dari 20 ribu mahasiswa turun ke jalan berbaris menuju kantor Gubernur Sulawesi Utara. Pada esok harinya tanggal 21 Mei 1998 Soeharto menyatakan mengundurkan diri, dan menyerahkan kekuasaan ketangan BJ Habibie yang waktu itu sebagai Wakil Presiden. (*)
Penulis adalah Aktivis mahasiswa Manado 1998 dan mantan Ketua PRD Sulut


Discussion about this post