Bitung, Barta1.com – Melihat kisah pemuda Desa Posokan, Lembeh Utara, Kota Bitung, bernama Riswanto Pudinaung (30) kita pasti terkagum-kagum.
Aktivitasnya sederhana tapi konsisten yakni menjaga, mengedukasi dan mengajak anak-anak, remaja hingga orang dewasa untuk menjaga dan merawat lingkungan di kampungnya.
Ia merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Lahir pada 21 April 1990, dari keluarga sederhana, ayah bernama Gustav Pudinaung seorang nelayan dan ibunya Peniati Besinung, sehari-hari berprofesi ibu rumah tangga.
Memulai kepeduliannya akan lingkungan hidup pada tahun 2019. “Memang dari dulu takut dengan namanya pencemaran lingkungan. Baik sampah plastik dan sampah lainya, terkait pencemaran di Laut,” kata Riswanto kepada Barta1.com, Kamis (2/7/2020).
Hal yang mendorong keterlibatannya pada lingkungan hidup karena dirinya tumbuh dan besar dari hasil laut. “Papa saya seorang nelayan. Sangat disayangkan jika laut kita tercemar dengan berbagai sampah. Dan saya memiliki inisiatif dengan menjaga laut sehingga harus berbuat. Bagi saya menjaga laut dari pencemaran sampah plastik dan sampah lainya, bagian dari rasa syukur dan ucapan terima kasih bagi sang pencipta,” ujarnya.
Jika kita tidak jaga dan cinta akan lingkungan termasuk laut ada kemungkinan masyarakat akan makan hasil tangkapan ikan yang telah tercemar. Dan itu tidak baik untuk kesehatan.
“Kalau ekosistem pantai rusak maka bencana alam akan terjadi, maka dampak buruk bagi generasi berikutnya. Karena tidak akan menikmati keindahan alam ini,” kata pemuda lulusan Universitas Negeri Manado, Jurusan Seni dan Kerajinan.
Bagaimana cara mengedukasi masyarakat? Tentu tidak mudah, pertama melakukan pendekatan kepada teman-teman di kampung dan mencoba mengubah pola pikir dengan tidak membuang sampah sembarangan dimana pun dan kapan pun berada. Buanglah sampah pada tempatnya atau dibuat hiasan darii sampah plastik.
“Begitu pendekatan saya. Mengajak orang-orang ke tempat wisata atau lokasi lain, jangan tinggalkan sampah. Dan itu rutin dilakukan. Membersihkan pantai sekali atau dua kali seminggu dengan teman-teman pemuda dan anak-anak. Kegiatan menanam pohon dan pembuatan papan nama kampung yang menggunakan limbah kayu. Itu diantaranya yang saya bikin,” ujarnya ajakan kebersihan itu hampir diseluruh pantai di Pulau Lembeh bersama anak-anak muda.
Hasil dari sampah yang diangkat, tidak bisa didaur ulang atau dimusnakkan dengan cara dibakar. Sedangkan yang bisa didaur ulang dibuat kerajinan.
Kerajinan dari sampah bekas tersebut digunakan sebagai bahan ajar bagi anak-anak untuk membuat vas bunga dari botol bekas atau pun pembuatan ukiran kayu dan lukisan.
“Saya juga mengedukasi anak-anak dengan menggambar lukisan bertemakan lingkungan. Membuat vas bunga dari botol bekas dan mengajak anak-anak kecil membersihkan pantai. Tujuannya ada generasi yang mau menjaga dan merawat lingkungan beserta alam yang dititipkan Tuhan bagi manusia,” ujar Riswanto lagi.
Ketika terjadi pandemi? “Saya tetap melaksanakan kegiatan menjaga lingkungan dengan memperhatikan protokol kesehatan. Menarik, ada yang menyebut apa yang saya lakukan adalah pencitraan, padahal sebenarnya itu adalah kebaikan bagi kita semua. Karena bagiku kepuasaan ketika melihat lingkungan itu bersih,” tegasnya.
“Jika disebut pencitraan, apa untungnya bagi mereka dan saya pribadi. Selama kegiatan mengangkat sampah saja menggunakan uang sendiri untuk membeli karung. Apalagi di tengah pandemi ini, dengan pendapatan menurun memobilisasi kegiatan sangat sulit. Akan tetapi sampai saat ini bagi saya pribadi mengutamakan lingkungan itu tetap bersih, terutama laut yang menjadi tempat mata pencaharian warga Lembeh,” ujarnya.
Peliput : Meikel Pontolondo



Discussion about this post