Melonguane, Barta1.com – Malam-malam di Desa Tule, Kecamatan Melonguane, Kabupaten Kepulauan Talaud, kini tak lagi membawa kekhawatiran bagi keluarga Gritje Maabuat. Bertahun-tahun lamanya, kegelapan malam tangga rumah tangga prasejahtera ini hanya diterangi pendar pelita minyak yang berkedip menantang angin perbatasan.
Namun, penantian panjang itu kini usai setelah PT PLN (Persero) Unit Layanan Pelanggan (ULP) Melonguane merajut asa mereka menjadi nyata melalui program Light Up The Dream (LUTD), menghadirkan cahaya listrik gratis yang mengubah drastis kualitas hidup keluarga tersebut.
Langkah strategis PLN menyalakan listrik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) seperti Kepulauan Talaud yang berbatasan langsung dengan perairan negara tetangga ini, merupakan bagian krusial dari akselerasi pencapaian Rasio Elektrifikasi (RE) nasional.
Pemerintah Republik Indonesia bersama PLN terus memacu pemerataan akses listrik yang targetnya terus didorong menyentuh angka 100 persen. Kehadiran listrik di beranda utara negeri ini menjadi bukti sahih bahwa pembangunan infrastruktur energi tak lagi sekadar Jawa-sentris, melainkan merata menyentuh nadi kehidupan masyarakat kepulauan.
Menariknya, program Light Up The Dream bukanlah sekadar intervensi anggaran korporat biasa, melainkan sebuah inisiatif murni yang lahir dari empati para insan PLN. Lewat program ini, para pegawai dengan kesadaran dan sukarela menyisihkan sebagian dari penghasilan pribadi mereka demi membiayai seluruh ongkos penyambungan listrik baru bagi keluarga prasejahtera.
Tetesan keringat kolektif pegawai BUMN ini menjelma menjadi ‘pelita’ sungguhan bagi warga yang sebelumnya tersisih dari modernisasi akibat himpitan ekonomi.
General Manager PLN UID Suluttenggo, Usman Bangun, memberikan atensi khusus terhadap realisasi program mulia di ujung utara Sulawesi ini. Ia menegaskan kepedulian sosial yang ditunjukkan jajarannya adalah manifestasi nyata dari komitmen perseroan dalam mewujudkan keadilan energi inklusif di seluruh pelosok Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Gorontalo.
“Listrik adalah pendorong utama kesejahteraan masyarakat. Melalui kepedulian insan PLN dalam program Light Up The Dream, kami ingin memastikan negara hadir hingga ke wilayah terluar seperti Kepulauan Talaud. Kami berharap hadirnya cahaya listrik di rumah Ibu Gritje tidak hanya menerangi kegelapan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru, mendampingi anak-anak belajar lebih baik, dan meningkatkan taraf hidup keluarga secara berkelanjutan,” cetus Usman.
Semangat keadilan energi tersebut dieksekusi dengan sigap oleh jajaran di tingkat operasional. Bagi tim PLN ULP Melonguane, merentangkan kabel-kabel listrik ke rumah warga miskin di wilayah kepulauan selain target kerja teknis tapi juga yang terpenting sebagai panggilan kemanusiaan.
Manager PLN ULP Melonguane, Adithya Pranata, mengutarakan bahwa perusahaannya memikul tanggung jawab moral yang besar untuk membagikan manfaat energi agar tak ada lagi masyarakat yang tertinggal dalam kegelapan.
“Listrik bukan sekadar menyalakan lampu. Di balik setiap rumah yang terang, ada kenyamanan dan kesempatan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. Melalui program Light Up The Dream, kami hadir membawa wujud nyata kepedulian itu,” ujar Adithya.
Bagi Gritje Maabuat dan keluarganya, sakelar lampu yang kini menempel di dinding rumah mereka ibarat tombol ajaib yang mengubah banyak hal. Ketiadaan listrik pada masa lalu membuat ruang gerak produktif keluarganya sangat terbatas begitu matahari terbenam; anak-anak kesulitan membaca buku pelajaran dan aktivitas rumah tangga terpaksa dihentikan seiring meredupnya pelita minyak yang asapnya juga rentan mengganggu kesehatan.
Kini, raut wajah bahagia tak dapat disembunyikan oleh wanita tersebut saat melihat rumahnya benderang.
“Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada PLN. Dulu kami hanya berharap pada pelita minyak setiap malam. Sekarang rumah kami sudah terang benderang, anak-anak bisa belajar dengan tenang, dan kami bisa beraktivitas dengan jauh lebih nyaman,” tutur Ibu Gritje.
Kisah terangnya rumah Ibu Gritje di Desa Tule ini meneguhkan peran vital PLN yang kini telah bermutasi melampaui batas kewajibannya sebagai sekadar penyedia daya listrik. Lewat langkah-langkah inklusif dan kolaborasi pegawai di kawasan 3T, PLN terus membuktikan komitmen kuatnya sebagai mata rantai pendorong perubahan sosial yang nyata bagi masyarakat perbatasan. (**)
Editor: Ady Putong


Discussion about this post