Sitaro, Barta1.com – Rikhardi Kasumbala, salah satu warga Kepulauan Siau, mengungkapkan rasa prihatin dan empatinya atas musibah banjir bandang yang melanda wilayahnya. Bencana tersebut terjadi setelah hujan deras yang turun secara terus-menerus disertai angin kencang, yang diduga kuat menjadi penyebab banjir bandang pada Senin dini hari, 5 Januari 2026.

Selain menelan korban jiwa, Rikhardi menyebutkan bahwa kerugian material akibat bencana ini juga cukup besar. Sejumlah rumah warga mengalami kerusakan parah, termasuk Markas Komando (Mako) Polres Kepulauan Sitaro yang tertimbun material berupa bebatuan, tanah, dan pepohonan.

“Beberapa akses jalan juga lumpuh total akibat sisa material pascabanjir bandang, seperti bebatuan besar dan pohon-pohon yang tumbang, di antaranya Kecamatan Siau Barat, Siau Barat selatan dan Kecamatan Siau timur,” ujarnya singkat.

Ia menambahkan, kelurahan dan perkampungan yang dia ketahui terdampak banjir bandang hingga saat ini meliputi Kelurahan Paniki, Kelurahan Paseng, Kampung Bumbiha, Kampung Peling, Kampung Laghaeng, Kampung Batusenggo, serta Kelurahan Ulu.
Sementara itu, dalam rilis resmi yang dikeluarkan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sitaro disebutkan bahwa banjir bandang terjadi di wilayah Sondang Lindongan III, Kelurahan Bahu, Kecamatan Siau Timur (Sitim), pada Senin dini hari sekitar pukul 02.30 WITA. Bencana ini dipicu oleh curah hujan tinggi yang berlangsung secara terus-menerus disertai angin puting beliung.
Akibat kejadian tersebut, akses jalan yang menghubungkan Kelurahan Bahu dengan wilayah Siau Timur Selatan tertutup total oleh material longsor berupa tanah, batu, dan pohon tumbang. Aliran air dari perbukitan juga membawa material berat yang menghantam langsung permukiman warga.
Berdasarkan data sementara di lapangan, lima unit rumah dilaporkan hilang terseret banjir. Selain itu, terdapat sepuluh warga yang menjadi korban, dengan rincian enam orang ditemukan meninggal dunia dan empat lainnya masih dalam proses pencarian oleh tim gabungan.
Data Korban Jiwa (6 Orang):
Ratmon Bangsa, Fardelin Tamalonggehe, Yance Tamalonggehe, Lorensi Bawolce, Yoan Bangsa dan Santi Diamanis.
Data Orang Hilang (4 Orang):
Swinggli Dalending, Adris Pianaung, Leon Pianaung, dan Kairi Kansil (bayi)
Data Orang Luka (4 Orang):
Dhea Pinamagun, Marlis Sanggili, Onal Kansil, dan Abo Pandaeng.
Untuk sementara, warga Lingkungan III dan IV mengungsi di Kantor Kelurahan Bahu dan direncanakan akan dipindahkan ke Museum Kelurahan Tarorane, Kecamatan Siau Timur.
Data Pengungsi Sementara: 35 Kepala Keluarga di dalamnya sebanyak 108 Jiwa
Menanggapi peristiwa tersebut, Bupati Kepulauan Sitaro, Chyntia Ingrid Kalangit, S.K.M, menyampaikan bahwa pemerintah daerah telah menetapkan langkah-langkah penanganan darurat dengan mengerahkan seluruh sumber daya yang tersedia.
“Pemerintah daerah bergerak cepat dengan menurunkan tim gabungan untuk melakukan pencarian korban, evakuasi warga terdampak, serta membuka kembali akses jalan yang tertutup material longsor. Keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama,” ujar Bupati.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tetap meningkatkan kewaspadaan, mengingat kondisi cuaca masih berpotensi hujan dengan intensitas tinggi.
“Kami mengimbau masyarakat, khususnya yang berada di wilayah rawan bencana, agar menghindari area perbukitan dan aliran sungai, serta segera melaporkan kepada pemerintah setempat atau aparat apabila terjadi kondisi darurat,” tambahnya.
Seraya menyampaikan belasungkawa yang mendalam, Bupati berharap keluarga korban diberikan kekuatan dan penghiburan dari Tuhan Sang Pemilik Kehidupan.
Hingga saat ini, BPBD Kabupaten Kepulauan Sitaro bersama unsur TNI, Polri, pemerintah kecamatan, pemerintah kelurahan, serta para relawan masih terus melakukan pencarian terhadap korban yang belum ditemukan dan bersiaga mengantisipasi kemungkinan banjir serta longsor susulan.
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sitaro akan terus menyampaikan informasi terbaru sesuai perkembangan di lapangan. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post