BERTA1.COM– Jauh dari hingar-bingar pusat pergerakan. Di sebuah pulau kecil bernama Siau, tersembunyi benih nasionalisme yang ditaburkan oleh sebuah novel.
Sosok pemuda bernama Gustaf Erens Dauhan—yang kelak menjadi tokoh kunci pergerakan kemerdekaan Indonesia di tanah utara—sebenarnya tak bermula dari mimbar politik, melainkan dari panggung seni.
Ia adalah pengarang roman berjudul “Rahasia Utara,” sebuah kisah yang tanpa disadari, membuka gerbang penting bagi sejarah bangsanya.
Tahun 1927. Sebuah kebetulan manis mempertemukan karya sastra itu dengan mata teater paling tajam di Hindia Belanda: Stambul Dardanella. Pemimpin kelompok tonil (teater) terkemuka ini jatuh hati pada alur “Rahasia Utara” dan segera mengirim surat perizinan kepada sang pengarang di Siau.
Pementasan. Itulah kata kuncinya. Dan demi menyaksikan karyanya di atas panggung, Dauhan pun berlayar menuju Bandung, kota kembang yang tengah mekar dengan gagasan-gagasan radikal.
Di Bandung, pada usianya yang baru 27 tahun, Dauhan bukan hanya bertemu dengan panggung Dardanella, tapi juga dengan pemuda cerdas yang namanya akan tercatat abadi: Ir. Soekarno.
Soekarno, sang arsitek bangsa, memiliki ketertarikan mendalam pada seni drama. Bagi Bung Karno, tonil adalah medium yang paling ampuh, panggung rakyat yang bisa menyulut api kesadaran pembebasan.
Pertemuan dua peminat seni ini segera beralih dari diskusi estetika menjadi perbincangan nasib bangsanya.
“Kami berdua, sebagai seniman dan pemuda, prihatin melihat kondisi rakyat. Kami sadar, seni harus punya peran yang lebih besar,” kenang seorang kawan lama Dauhan itu.
Perkenalan itu menjadi pertautan ideologi, karena di tahun yang sama, Soekarno baru saja mendirikan Perserikatan Nasional Indonesia (PNI), sebuah organisasi yang setahun kemudian, pada 1928, berganti nama menjadi Partai Nasional Indonesia (PNI).
Soekarno melihat ada potensi besar pada pemuda berdarah Siau ini.
Dauhan, yang juga memiliki garis keturunan dari tokoh-tokoh Majelis Kerajaan Siau, adalah jembatan ideal antara pergerakan nasional di Jawa dengan kerinduan kemerdekaan di tanah utara.
Setelah berbulan-bulan diskusi dan menyepakati perjuangan bersama, Dauhan kembali ke Siau pada 1928 dengan membawa sesuatu yang jauh lebih berharga daripada pundi-pundi uang pementasan.
Ia membawa sebuah mandat suci: surat pendirian PNI Cabang Siau.
Di Ulu Siau, pusat perdagangan pala, sambutan terhadap gagasan PNI sungguh hangat. Dauhan, dengan latar belakangnya yang terpandang, dengan mudah menarik hati para pemuda yang mendambakan kebebasan dari cengkeraman Belanda.
Sejarawan H.B. Elias mencatat perkembangan yang sungguh fantastis. Hanya dalam waktu satu minggu sejak cabang PNI itu resmi dibuka, jumlah anggotanya sudah mencapai 50 orang dan terus bertambah.
Angka ini luar biasa, mengingat bergabung dengan PNI sama dengan mengibarkan bendera perlawanan. Itu berarti kesiapan untuk berhadapan langsung dengan aparatur polisi reserse Belanda yang bengis.
Pergerakan di Siau tumbuh subur di bawah pengaruh Soekarno dan kepemimpinan Dauhan, dan hal ini tidak luput dari pengamatan pemerintah kolonial. Aparat Belanda was-was. Mereka tahu, gerakan ini adalah perpanjangan tangan tokoh nasionalis yang sedang naik daun di Jawa.
“Kami harus memperketat kontrol keamanan, jangan sampai peristiwa di Jawa atau Sumatera terjadi di Siau,” demikian pikiran para controleur Belanda saat itu, sebagaimana tertuang dalam arsip kolonial.
Maka, kontrol pun diperketat. Tulis Adrianus Kojongian, pasca wafatnya Raja Aling Janis pada 1935, Residen Manado Anton Philip van Aken menempatkan Frans Pieter Parengkuan, seorang pejabat asal Minahasa, sebagai raja ad interm Siau.
Sebuah langkah politik yang disengaja. Penempatan ini, menurut catatan dosen politik Sudirno Kaghoo, S.Sos., bertujuan untuk “mengontrol jalannya pemerintahan di tengah situasi politik Indonesia yang lagi memuncak saat itu.”
Puncak ketegangan terjadi tak lama setelah PNI Siau berdiri. Kontrolir pemerintah Hindia Belanda di Tahuna memerintahkan razia.
Secara terburu-buru, kantor PNI di Ulu Siau digerebek pada malam 20 Desember 1929—mendahului razia nasional PNI yang baru ditetapkan sembilan hari kemudian. Kantor PNI itu, kebetulan, berdiri persis di sebelah kantor marsose (polisi militer) Belanda.
Malam itu, saat rapat dipimpin GE Dauhan, sepasukan marsose bersenjata lengkap mengepung.
“Kami sempat lari dari pintu belakang, menyelamatkan diri dan dokumen penting,” ujar salah seorang saksi mata yang selamat.
Namun, pelarian itu tak berlangsung lama. Keesokan harinya, Dauhan bersama rekannya, Bawengan, ditangkap, diperiksa, dan dijebloskan ke dalam penjara.
Penangkapan itu bukan akhir, melainkan simbol bahwa api nasionalisme telah menyala.
Sejak peristiwa 20 Desember 1929, satu regu marsose dan veltpolitie (polisi lapangan) selalu siaga di Ulu Siau.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa sebuah roman sederhana telah berhasil menyatukan dua pulau, Siau dan Jawa, dalam satu semangat pergerakan menuju Indonesia merdeka, menjadikan kisah hidup Gustaf Erens Dauhan sebagai babak penting yang tak boleh terlupakan dalam sejarah kebangsaan. (*)
Penulis/Editor:
Iverdixon Tinungki


Discussion about this post