• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Selasa, Januari 13, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Kultur Budaya
Cerita rakyat dari pulau Makalehi, Kabupaten Sitaro tentang Raksasa Linsaha dan Onding. (Gambar: Ilustrasi AI)

Cerita rakyat dari pulau Makalehi, Kabupaten Sitaro tentang Raksasa Linsaha dan Onding. (Gambar: Ilustrasi AI)

Raksasa Linsaha dan Onding, Cerita Rakyat Dari Makalehi

by Iverdixon Tinungki
11 Desember 2025
in Budaya
0
0
SHARES
35
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

BARTA1.COM– Di tengah birunya Samudra Sulawesi, tersembunyi sebuah permata hijau: Pulau Makalehi. Namun, bukan keindahan alamnya yang paling masyhur, melainkan kisah tentang penghuni terbesarnya.

Di sana, di sebuah danau berbentuk hati yang menyimpan ikan berlimpah, hiduplah sepasang raksasa purba yang ditakuti: Onding dan suaminya, Linsaha.

Rumah mereka adalah sebuah rumah apung sederhana, kontras dengan postur mereka yang menjulang tinggi. Onding, dengan sorot mata tajam dan tawa menggelegar, adalah raksasa wanita yang kekuatannya diyakini setara dengan badai tropis.

Linsaha, suaminya, memiliki perawakan yang tak kalah kolosal, dengan otot-otot yang seperti akar pohon raksasa.

Keduanya diberkahi — atau dikutuk — dengan kesaktian yang tak tertandingi oleh manusia biasa.

Legenda mengatakan, perahu mereka yang terbuat dari batang pohon utuh hanya perlu sekali atau dua kali kayuhan saja untuk menyeberang dari Makalehi ke Pulau Siau yang jauh. Sebuah bukti visual akan betapa besarnya tubuh pasangan suami istri ini.

Kekuatan fisik mereka juga terwujud dalam hal-hal yang tak masuk akal. Penduduk setempat berbisik, bahkan air kencing Onding konon begitu deras dan kuatnya hingga mampu menembus daun talas tanpa tertahan sedikit pun. Mereka adalah inkarnasi dari kekuatan alam yang liar dan tak terjamah.

Namun, seperti raksasa di masa purba, tabiat mereka gelap dan mengerikan. Onding dan Linsaha adalah pemakan manusia. Penduduk Makalehi hidup dalam ketakutan abadi, setiap terbit fajar adalah pengingat akan ancaman yang mengintai di danau hati yang sunyi itu.

Setiap malam sunyi, sering terdengar riak besar di danau, pertanda Linsaha atau Onding sedang beranjak. Jika mereka menuju ke Pulau Biaro, pulau asal Linsaha, waktu tempuh yang dibutuhkan hanya sekejap mata. Kecepatan itu sering digunakan untuk mencari “persediaan” makanan mereka.

Kekejaman dan keculasan pasangan raksasa ini akhirnya menembus batas toleransi. Kabar buruk itu sampai ke telinga yang paling berkuasa di kawasan tersebut: Raja Winsulangi dari Kerajaan Siau, seorang pemimpin bijaksana yang tak pernah membiarkan rakyatnya ditindas.

Mendengar kisah pilu dari Makalehi, amarah Raja Winsulangi memuncak. Ia segera memanggil prajuritnya yang paling tangguh dan cerdik, seorang laksamana yang reputasinya sebagai ahli strategi tidak diragukan: Laksamana Hengkengunaung.

“Hengkengunaung,” titah Raja dengan suara berat, “pergilah ke Makalehi. Tumpaslah dua raksasa itu. Rakyat kita harus bebas dari teror mereka. Aku percayakan tugas suci ini padamu, demi kedamaian Siau.”

Hengkengunaung menyambut perintah itu dengan busur tegak. Untuk operasi yang nyaris mustahil ini, ia menyusun dua versi rencana. Versi pertama, ia akan membawa adiknya, Sise, yang terkenal dengan keahlian bertempurnya.

Namun, Hengkengunaung memutuskan untuk melaksanakan Versi kedua, sebuah pendekatan yang lebih halus dan magis. Ia mengajak istrinya, seorang pemain musik Oļi yang memesona, beserta rombongan dua belas gadis remaja yang baru saja mereka rekrut dari Salurang setelah memerangi Makaampo.

Grup kecil yang dipimpin Laksamana itu berlayar sunyi menuju Makalehi. Saat mereka tiba, pemandangan itu terbentang jelas: di depan rumah apung di danau hati, Onding sedang duduk sendirian, memandang langit, mungkin sedang merenungkan kekuatannya yang tak terjangkau.

Hengkengunaung memberi isyarat. Istrinya dan kedua belas gadis remaja itu mulai mendendangkan musik Oļi. Irama yang lembut, merdu, namun memiliki daya magis yang kuat, mengalun membelai telinga sang raksasa.

Onding, yang tak pernah merasakan keindahan seperti itu, perlahan-lahan terbuai. Kekuatan sihir dari nada-nada itu membuai dan meninabobokannya. Kepala raksasa itu mulai terkulai, matanya tertutup rapat dalam tidur yang lelap dan damai, tak menyadari bahaya yang mengintai.

Itulah kesempatan emas yang dinanti Hengkengunaung. Dengan gerakan secepat kilat, Laksamana yang perkasa itu menghunus pedangnya dan memenggal kepala Onding. Tumpahlah darah raksasa, mengakhiri terornya selamanya.

Kabar kematian istrinya oleh tangan Hengkengunaung segera sampai ke telinga Linsaha, yang saat itu sedang berada di Pulau Biaro. Rasa gentar yang tak pernah ia kenal menyeruak dalam diri raksasa itu.

Ia, sang pemakan manusia, dilanda ketakutan luar biasa. Linsaha memilih untuk tidak pernah kembali ke Makalehi. Kepala Raksasa Onding, sebagai bukti kemenangan keberanian melawan kejahatan purba, konon masih tersimpan di Pulau Makalehi hingga hari ini. (*)

Editor:
Iverdixon Tinungki

Barta1.Com
ADVERTISEMENT
Iverdixon Tinungki

Iverdixon Tinungki

Jurnalis dan sastrawan. Pendiri dan Editor senior di Barta1.com

Next Post
Pemkot Kotamobagu Dorong Sistem Informasi Demografi untuk Pastikan Program Tepat Sasaran

Pemkot Kotamobagu Dorong Sistem Informasi Demografi untuk Pastikan Program Tepat Sasaran

Discussion about this post

Berita Terkini

  • AMSI dan PWI Desak Penghapusan Pajak Pengetahuan Untuk Keberlanjutan Media Nasional 12 Januari 2026
  • KMPA Tansa dan KPA Tulap Bagikan Bibit Rica Gratis di Girian Bitung 11 Januari 2026
  • MUSCAB IBI Bolsel ke-IV Jadi Ruang Peningkatan Kapasitas Bidan melalui Sosialisasi PMB UM Manado 10 Januari 2026
  • UM Manado Sosialisasikan PMB di DINKES Boltim – Puskesmas Tutuyan 10 Januari 2026
  • Bupati Michael Thungari Hadiri Peresmian dan Pentahbisan GMAHK Jemaat Aha Patung 10 Januari 2026

AmsiNews

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In