BARTA1.COM– Di tengah birunya Samudra Sulawesi, tersembunyi sebuah permata hijau: Pulau Makalehi. Namun, bukan keindahan alamnya yang paling masyhur, melainkan kisah tentang penghuni terbesarnya.
Di sana, di sebuah danau berbentuk hati yang menyimpan ikan berlimpah, hiduplah sepasang raksasa purba yang ditakuti: Onding dan suaminya, Linsaha.
Rumah mereka adalah sebuah rumah apung sederhana, kontras dengan postur mereka yang menjulang tinggi. Onding, dengan sorot mata tajam dan tawa menggelegar, adalah raksasa wanita yang kekuatannya diyakini setara dengan badai tropis.
Linsaha, suaminya, memiliki perawakan yang tak kalah kolosal, dengan otot-otot yang seperti akar pohon raksasa.
Keduanya diberkahi — atau dikutuk — dengan kesaktian yang tak tertandingi oleh manusia biasa.
Legenda mengatakan, perahu mereka yang terbuat dari batang pohon utuh hanya perlu sekali atau dua kali kayuhan saja untuk menyeberang dari Makalehi ke Pulau Siau yang jauh. Sebuah bukti visual akan betapa besarnya tubuh pasangan suami istri ini.
Kekuatan fisik mereka juga terwujud dalam hal-hal yang tak masuk akal. Penduduk setempat berbisik, bahkan air kencing Onding konon begitu deras dan kuatnya hingga mampu menembus daun talas tanpa tertahan sedikit pun. Mereka adalah inkarnasi dari kekuatan alam yang liar dan tak terjamah.
Namun, seperti raksasa di masa purba, tabiat mereka gelap dan mengerikan. Onding dan Linsaha adalah pemakan manusia. Penduduk Makalehi hidup dalam ketakutan abadi, setiap terbit fajar adalah pengingat akan ancaman yang mengintai di danau hati yang sunyi itu.
Setiap malam sunyi, sering terdengar riak besar di danau, pertanda Linsaha atau Onding sedang beranjak. Jika mereka menuju ke Pulau Biaro, pulau asal Linsaha, waktu tempuh yang dibutuhkan hanya sekejap mata. Kecepatan itu sering digunakan untuk mencari “persediaan” makanan mereka.
Kekejaman dan keculasan pasangan raksasa ini akhirnya menembus batas toleransi. Kabar buruk itu sampai ke telinga yang paling berkuasa di kawasan tersebut: Raja Winsulangi dari Kerajaan Siau, seorang pemimpin bijaksana yang tak pernah membiarkan rakyatnya ditindas.
Mendengar kisah pilu dari Makalehi, amarah Raja Winsulangi memuncak. Ia segera memanggil prajuritnya yang paling tangguh dan cerdik, seorang laksamana yang reputasinya sebagai ahli strategi tidak diragukan: Laksamana Hengkengunaung.
“Hengkengunaung,” titah Raja dengan suara berat, “pergilah ke Makalehi. Tumpaslah dua raksasa itu. Rakyat kita harus bebas dari teror mereka. Aku percayakan tugas suci ini padamu, demi kedamaian Siau.”
Hengkengunaung menyambut perintah itu dengan busur tegak. Untuk operasi yang nyaris mustahil ini, ia menyusun dua versi rencana. Versi pertama, ia akan membawa adiknya, Sise, yang terkenal dengan keahlian bertempurnya.
Namun, Hengkengunaung memutuskan untuk melaksanakan Versi kedua, sebuah pendekatan yang lebih halus dan magis. Ia mengajak istrinya, seorang pemain musik Oļi yang memesona, beserta rombongan dua belas gadis remaja yang baru saja mereka rekrut dari Salurang setelah memerangi Makaampo.
Grup kecil yang dipimpin Laksamana itu berlayar sunyi menuju Makalehi. Saat mereka tiba, pemandangan itu terbentang jelas: di depan rumah apung di danau hati, Onding sedang duduk sendirian, memandang langit, mungkin sedang merenungkan kekuatannya yang tak terjangkau.
Hengkengunaung memberi isyarat. Istrinya dan kedua belas gadis remaja itu mulai mendendangkan musik Oļi. Irama yang lembut, merdu, namun memiliki daya magis yang kuat, mengalun membelai telinga sang raksasa.
Onding, yang tak pernah merasakan keindahan seperti itu, perlahan-lahan terbuai. Kekuatan sihir dari nada-nada itu membuai dan meninabobokannya. Kepala raksasa itu mulai terkulai, matanya tertutup rapat dalam tidur yang lelap dan damai, tak menyadari bahaya yang mengintai.
Itulah kesempatan emas yang dinanti Hengkengunaung. Dengan gerakan secepat kilat, Laksamana yang perkasa itu menghunus pedangnya dan memenggal kepala Onding. Tumpahlah darah raksasa, mengakhiri terornya selamanya.
Kabar kematian istrinya oleh tangan Hengkengunaung segera sampai ke telinga Linsaha, yang saat itu sedang berada di Pulau Biaro. Rasa gentar yang tak pernah ia kenal menyeruak dalam diri raksasa itu.
Ia, sang pemakan manusia, dilanda ketakutan luar biasa. Linsaha memilih untuk tidak pernah kembali ke Makalehi. Kepala Raksasa Onding, sebagai bukti kemenangan keberanian melawan kejahatan purba, konon masih tersimpan di Pulau Makalehi hingga hari ini. (*)
Editor:
Iverdixon Tinungki


Discussion about this post