NARASI DAN PUISI UNTUK IBADAH NATAL
Oleh: Iverdixon Tinungki
1.Pembuka
hari ini kita masih menyalakan beriburibu lilin Natal
merayakan kelahiran Kristus Juru Selamat
sambil membayangkan
di jalanan, di simpang-simpang sempit
di rumah-rumah gubuk berhimpit
hidup beriburibu kaum terjepit
di bentaran kali barangkali seorang rasul menggigil mendekap injil
memandang hidup kini yang kian dekil
orang-orang menangis saat harapan remuk di bayangan air
dengan cara apa kamu percaya
bila begitu mudah melupakan makna dari
seluruh isi kata-kata ditulis Injil,
disabdakan Kristus sejak bait Betlehem
hingga erangan suci Golgota
bukankah Ia datang mengetuk diri kita
saat kehilangan kata-kata untuk lahir dan hidup bersama
di antara dinding dinah dan sebuah kandang hina
tempat kaum gembala menyalakan unggun
merayakan malam luruh dalam semua kesakitan
mari kita hidupkan kembali kasih sayang
hingga Natal menemukan maknanya yang sebenarnya
2.Pengakuan dosa
Kami yang membiarkan mata
Menjadi sayap-sayap hilaf
yang membiarkan mulut
Menjadi pedang-pedang api
Yang membiarkan hati
Menjadi semak-semak duri
Tuhan ampunilah kami
Ampunilah kami
yang hidup dalam semangat menyakiti
yang alpa dan luput mengasihi
yang lalai dan tak peduli dengan yang pedih
Tuhan ampunilah kami
Jangan biarkan kami kering bagai tugu garam
Bagai fajar dan malam tanpa gembira
Bagai tanah dibelah tandus yang hampa
Kasihilah kami
Berilah kami kemenangan
Di atas bulir-bulir Firman
Yang menyegarkan tirus
Yang mengusap air mata
Yang menenangkan lolong
Yang menepis kehilangan
Karena hanya dalam KasihMu Tuhan
Hidup kami tak retak oleh waktu dan cuaca
3. Puisi Refleksi Natal
ANTARA BETLEHEM DAN HATI KITA
Karya: Iverdixon Tinungki
Bila yang kau petik di pucuk natal hanya kisah
Apa yang kau sarungkan di hatimu
Untuk suatu ketika kau acung sebagai pedang
Ketika duka atau musuh menghadang nafasmu
Pada rembang malam, pagi, jelang petang
Bukankah natal sebuah ladang
Tak saja burungburung membutuhkan gabah
Manusia pun hidup dari bijibiji putih maknanya
Antara Betlehem hingga hati kita
Jaraknya hanya seberapa mau kita menerima Dia
Tak lagi seperti bocah mungil yang lahir dari sang perawan
Tapi kekasih yang berbagi penghiburan di lengang dan air mata kita
Dan bila ajal tiba dikirimnya kereta kencana
Menjemput kita ke rumahNya dimana nestapa tak ada
Ia mencintai kita seperti bumi tak bertanya
Seberapa besar jahatnya kita padanya
Ketika kau berseru; aku cinta Yesus
Sebuah telaga tenang dibangunNya di hatimu
Di sana kau mandi, basah, dan berayun di atas riakNya
bersamaNya
laiknya bocah dalam gendongan ibu
tak pernah berkata benci meski ia lelah
“Yesus ini hatiku”
Katakan itu dengan suka dari dasar hatimu
Sebuah pelangi akan menyusur gelap malam
Hingga tiba di sebuah hari dimana matahari dan hujan
Akan menggambar sebuah tanda padamu;
Di tengah api pun cintaNya tak pernah pudar untukmu
Selamat Natal semua!
4.Puisi Penutup
MESIAS
Karya: Iverdixon Tinungki
ia tak menghunus kapak menebang kaki langit
mengambangkan bulan, menenggelamkan tangisan
ia tak memandang pohon
lalu mengatakan hiduplah seperti pucuk meninggi
mencinderai kabut yang membebat langit biru
tapi diperahnya anggur dari carangcarang kepedihan
ke dalam bulibuli penggenapan
kerena sedanau air tak menenggelamkan dahaga
mencekat kodrat manusia sebagai serigala
ke dalam zaman limbung
ia mendayung dengan serombongan nelayan
menjaring semua hati karam
dari roti dimintanya pada petani
dipecahpecahkannya tubuhnya sendiri
buat hati patah di tungkaitungkai dini hari yang latah
Namun lihatlah, tanahtanah lantak oleh peperangan
burungburung gagak berpesta di atas bangkai anak-anak
serombongan filsuf tiba dengan pedati
menampung seluruh peribahasa
ditumpahkannya di semua jalan lintasan sejarah
namun mencair seumpama lendir
pada muntahan kata-kata anyir dan bedil
pada semua kitab hancur itu
puingpuing kesedihan ini tumbuh kembali
Tapi Allah tak pernah berhenti mengasihi kita
Maka dikaruniakanNya AnakNya yang tunggal
Agar setiap orang yang percaya padaNya tidak binasa
Melainkan beroleh hidup yang kekal


Discussion about this post