Surabaya, Barta1.com – TNI Angkatan Laut (TNI AL) mengambil langkah maju dalam mendukung agenda transisi energi dan komitmen Indonesia menuju Net Zero Emissions (NZE) 2060. Melalui kerja sama dengan PT PLN (Persero), operasional kapal perang yang bersandar di dermaga Komando Armada (Koarmada) II Surabaya kini ditopang oleh listrik PLN melalui layanan onshore electric connection, menggantikan penggunaan genset berbahan bakar solar.
Layanan inovatif ini akan menghilangkan deru bising genset di dermaga militer dan secara signifikan memangkas emisi karbon. Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dilakukan di Markas Besar (Mabes) TNI AL pada Rabu (17/9) oleh Kepala Dinas Fasilitas Pangkalan TNI AL Laksamana Pertama TNI Yusep Wildan dan General Manager PLN UID Jawa Timur Ahmad Mustaqir.
Asisten Logistik Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana Muda TNI Eko Sunarjanto, menekankan bahwa keputusan ini bukan sekadar soal efisiensi biaya, melainkan bagian dari visi yang lebih besar. Ia melihat elektrifikasi dermaga ini sebagai wujud dukungan TNI AL terhadap aspek lingkungan dan keberlanjutan.
“Selain efisiensi biaya, solusi ini juga mendukung aspek lingkungan serta mengurangi beban logistik peralatan,” tegas Laksda Eko Sunarjanto. Dengan memanfaatkan listrik dari jaringan PLN, kapal perang, termasuk frigate terbesar KRI Brawijaya-320, secara otomatis mengurangi konsumsi bahan bakar fosil saat berlabuh.
Direktur Retail dan Niaga PLN, Adi Priyanto, secara spesifik menjelaskan dampak konkret dari peralihan energi ini terhadap lingkungan. Ia mengapresiasi penuh kepercayaan TNI AL yang turut serta dalam program elektrifikasi maritim. “Pemanfaatan listrik PLN mampu mengurangi penggunaan solar hingga 56% saat kapal TNI AL bersandar,” ungkap Adi Priyanto, menyoroti besaran pengurangan bahan bakar yang berdampak langsung pada penurunan emisi.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menyatakan bahwa proyek perdana ini menjadi simbol penting dalam diversifikasi layanan perusahaan dan komitmen PLN dalam transisi energi nasional. Ia bangga PLN kini dapat memperluas perannya ke sektor pertahanan dengan solusi yang ramah lingkungan.
Meskipun berdampak positif pada lingkungan, PLN harus memberikan layanan khusus karena kebutuhan energi kapal perang sangat berbeda dari pelanggan konvensional. “Kebutuhan kapal ini unik, dayanya besar, 1.500 kW, dengan tegangan 690 Volt serta frekuensi 60 Hz,” jelas Adi Priyanto, menunjukkan penyesuaian teknologi yang dilakukan PLN demi mendukung operasi kapal perang modern.
Elektrifikasi dermaga Koarmada II ini menandai sebuah lompatan signifikan. PLN melihat elektrifikasi maritim sebagai bagian integral dari roadmap transisi energi perusahaan. “Kolaborasi ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat pertahanan maritim Indonesia, sekaligus menjadi landasan kerja sama yang lebih luas di masa mendatang,” tutup Adi Priyanto, memastikan sinergi ini akan berlanjut demi mencapai target Indonesia bebas emisi. (**)
Editor:
Iverdixon Tinungki


Discussion about this post