Jakarta, Barta1.com — PLN mengerahkan puluhan ribu personel dan ribuan peralatan mobile untuk memastikan pasokan listrik tetap aman selama periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), khususnya dalam mengantisipasi potensi cuaca ekstrem.
PT PLN (Persero) mengambil langkah sigap dengan mengerahkan total 69.000 personel siaga lapangan yang akan didukung oleh 3.392 posko yang tersebar secara nasional. Kesiapan ini difokuskan untuk menjaga keandalan listrik di tengah potensi gangguan akibat cuaca ekstrem yang sering terjadi di penghujung tahun.
Personel ini akan berfungsi sebagai National Special Force yang ditempatkan di lokasi-lokasi strategis.
Pasukan khusus ini disiagakan di titik vital seperti tempat ibadah, bandara, stasiun, terminal, rumah sakit, dan pusat perbelanjaan, dengan jaminan pasokan listrik berlapis. Dukungan peralatan mobile menjadi kunci dalam respons cepat, terutama untuk perbaikan mendadak dan mitigasi bencana.
Untuk menunjang mobilitas dan penanganan cepat, PLN menyiapkan 1.917 mobile genset sebagai sumber daya darurat bergerak, serta 737 unit Uninterruptible Power Supply (UPS) sebagai “power bank” besar yang dapat berpindah.
Selain itu, 1.338 gardu bergerak, 434 truck train untuk kondisi bencana, 4.414 mobil operasional, dan 4.412 motor operasional turut disiapkan.
Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PLN, Suroso Isnandar, menegaskan komitmen perusahaan.
“Kami mempersiapkan 69.000 personil on duty dan ada 3.392 posko siaga yang tersebar secara nasional, 1.917 mobile genset, in case ada emergency, dan juga kami mempersiapkan uninterruptible power supply sebanyak 737. Ini adalah power bank yang besar yang bergerak,” ujar Suroso di Jakarta, Senin (01/12/2025).
Dari sisi sistem kelistrikan, PLN memastikan cadangan daya berada pada level yang aman. Perusahaan memproyeksikan beban puncak saat Natal mencapai 46,8 GW, sementara daya mampu masuk pembangkit listrik secara nasional mencapai 53,9 GW. Artinya, cadangan sistem atau reserve margin mencapai 7 GW atau setara dengan 15 persen.
Lebih lanjut, Suroso Isnandar menambahkan bahwa cadangan energi primer juga sangat mencukupi.
“Untuk cadangan energi primer atau bahan bakar pembangkit listrik untuk batu bara rata-rata lebih dari 21 hari operasi di semua pembangkit listrik batu bara di Indonesia, dan untuk gas melebihi 22 hari dari operasi, dan untuk bahan bakar punya lebih dari 10 hari,” kata dia, meyakinkan masyarakat.
Editor:
Ady Putong


Discussion about this post