Manado, Barta1.com – Jajaran Pemerintah Kelurahan Malalayang Dua, Kota Manado, bersama masyarakat menyambut hangat kehadiran Tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Politeknik Negeri Manado (Polimdo), Kamis (6/8/2026).

Tim Pengabdian yang diketuai oleh Dr. Christien Adriani Karambut, S.E., M.M., bersama anggota Jacob Tateol S. Makapedua, S.E., MTDev., Arthur L. M. Karwur, S.E., M.Si., dan Priyono, S.ST., M.T., mengangkat tema “Penguatan Kesadaran Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah Organik dan Plastik sebagai Upaya Pemberdayaan di Kelurahan Malalayang Dua.”

Dalam pemaparannya, Dr. Christien menjelaskan berbagai cara mengelola sampah agar memiliki nilai guna dan dapat dimanfaatkan kembali.

“Sisa botol plastik yang diisi dengan sampah anorganik lainnya, seperti kulit permen, bungkus sabun, dan dipadatkan, ternyata dapat dimanfaatkan menjadi kursi,” ujar dosen Administrasi Bisnis (AB) Polimdo tersebut sambil memperlihatkan tayangan hasil pengolahan sampah menjadi kursi.

Tak hanya itu, ia juga memaparkan berbagai inovasi lain yang memanfaatkan sampah plastik menjadi produk bernilai ekonomi.

“Sampah plastik juga dapat diolah menjadi paving block, bahkan batako yang bisa digunakan sebagai material dinding rumah, begitupun juga bisa dijadikan minyak bakar dan lainnya. Lalu, apa aksi nyata kita hari ini? Mari mulai dari rumah masing-masing dengan memilah sampah. Ke depan, semoga kelurahan dapat memfasilitasi pengelolaan sampah melalui bank sampah, sementara sampah organik dipisahkan agar Ibu-ibu PKK dapat mengolahnya menjadi kompos atau eco-enzyme. Dari sini diharapkan dapat lahir peluang usaha baru bagi masyarakat,” jelasnya.

Menurutnya, masyarakat perlu mulai mengurangi produksi sampah sekaligus membiasakan penggunaan produk yang dapat didaur ulang demi menjaga kelestarian lingkungan.
Mantan Sekretaris Jurusan Administrasi Bisnis Polimdo itu juga menawarkan adanya pelatihan selanjutnya, misalnya pengelolaan sampah dengan membuat bank sampah di kelurahan Malalayang Dua ini.
“Saya berharap kegiatan hari ini bukan sekadar seremonial, tetapi menjadi awal komitmen dari diri kita masing-masing. Apalagi di sini hadir para kepala lingkungan yang diharapkan dapat menyampaikan kepada warganya mengenai pentingnya pengelolaan sampah plastik,” tuturnya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Lingkungan VII, Endrico Mamoto, meminta agar Polimdo dapat memberikan pelatihan praktik langsung mengenai pengolahan sampah menjadi produk yang bermanfaat.
“Kami ingin belajar langsung membuat paving block, papan berbahan dasar sampah, sekaligus melihat teknologi yang digunakan. Sampah akan terus ada, sehingga dalam jangka panjang ini bisa menjadi solusi pengurangan sampah sekaligus peluang usaha bagi masyarakat,” ungkap Endrico.
Ia menambahkan, apabila tersedia peralatan yang sederhana dan terjangkau, masyarakat berpeluang memproduksi paving block secara mandiri.
“Kalau itu bisa terlaksana, sampah yang ada tidak perlu semuanya berakhir di TPA. Kami di tingkat lingkungan bisa mengelolanya sendiri dan mencetak paving block. Masyarakat tentu akan senang jika sampah dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat,” katanya.
Menanggapi hal tersebut, Priyono menjelaskan bahwa pembuatan paving block memang membutuhkan alat press dengan investasi yang cukup besar.
“Namun, paving block tidak hanya dibuat dari plastik. Jika hanya plastik, saat terkena air akan mengapung. Karena itu harus dicampur dengan kerikil. Prosesnya, plastik dilelehkan terlebih dahulu, kemudian dicampur kerikil dan dipress. Produk ini sudah pernah diuji di Laboratorium Teknik Sipil dan memiliki kekuatan yang melebihi standar SNI, yakni di atas 40 MPa,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa berbagai produk lain dapat dihasilkan dari limbah plastik, seperti penutup botol yang diolah menjadi gantungan kunci maupun bolpoin.
“Tinggal bagaimana kreativitas kita. Gantungan kunci bisa dibuat, bahkan cetakannya juga dapat disiapkan,” ujarnya.
Priyono turut mengundang masyarakat untuk melihat langsung proses pengolahan sampah di kampus Polimdo.
“Kalau ingin melihat proses pembuatannya, termasuk alat-alat yang digunakan, bisa datang ke Kampus Polimdo yang memiliki pusat daur ulang. Di sana tersedia berbagai peralatan pengolahan sampah. Alatnya cukup besar sehingga sulit dibawa ke sini, tetapi masyarakat dapat belajar langsung di kampus,” imbuhnya.
Sementara itu, Arthur mempraktikkan secara langsung cara membuat kerajinan sederhana, seperti gantungan kunci dan tas berbahan limbah plastik yang berpotensi mendukung perkembangan UMKM.
“Ini contoh gantungan kunci. Cara membuatnya cukup mudah. Penutup botol dipotong kecil-kecil, kemudian dilelehkan menggunakan setrika, setelah itu dicetak menggunakan cetakan kue hingga menjadi gantungan kunci. Prosesnya sederhana dan mudah dipelajari,” terangnya.
Jacob Tateol S. Makapedua kemudian memberikan materi mengenai strategi promosi hasil produk daur ulang sampah plastik agar memiliki nilai jual dan mampu menunjang perekonomian masyarakat.
Lurah Malalayang Dua, Corneidy H.S. Posuma, S.IP., mengapresiasi kegiatan pengabdian tersebut dan menyampaikan terima kasih kepada Politeknik Negeri Manado.
“Apa yang diberikan hari ini sangat selaras dengan program Pemerintah Kota Manado, mulai dari pemilahan sampah, pengelolaan sampah, hingga bagaimana sampah dapat memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat,” ungkapnya.
Ia berharap kegiatan pengabdian ini mampu memberikan manfaat nyata, baik dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pengelolaan sampah maupun membuka peluang peningkatan pendapatan, khususnya bagi pelaku UMKM.
“Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut melalui kerja sama yang berkesinambungan sehingga harapan masyarakat Kelurahan Malalayang Dua dapat terwujud,” pungkas Priyono yang memperlihatkan hasil karya plastik dijadikan minyak, maupun papan untuk dijadikan meja maupun kursi.
Sebagai penutup kegiatan, Tim Pengabdian kepada Masyarakat Polimdo menyerahkan bantuan berupa tempat sampah kepada sembilan lingkungan di Kelurahan Malalayang Dua, Kota Manado.
Bantuan tersebut diharapkan dapat mendukung upaya pemilahan sampah sejak dari lingkungan masyarakat sekaligus memperkuat gerakan pengelolaan sampah berbasis pemberdayaan. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo

Discussion about this post