Barta1.com – Thofan Rame adalah Dosen di IAKN Manado. Lahir pada 11 November 1988 di Desa Alo, Kabupaten Kepulauan Talaud yang merupakan Pulau Perbatasan Paling Utara NKRI yang titiknya berada di Daerah Tertinggal, Terdepan dan Terluar yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Filipina. Desanya adalah gambaran perjuangan. Rumah-rumah sederhana yang berdiri gagah melawan terpaan angin laut, dikelilingi ladang-ladang kering yang hanya bisa memberi panen seadanya. Ayahnya adalah seorang buruh tani, yang keringatnya tertumpah di tanah perbatasan, sementara ibunya merawat mimpi anak-anaknya di dapur yang penuh asap.
Sejak kecil, Thofan tahu bahwa satu-satunya perahu yang bisa membawanya keluar dari keterbatasan adalah pendidikan. Sambil membantu ayahnya mencangkul atau menanam, tangannya yang kasar tetap menggenggam buku. Cahaya lentera menjadi saksi bisu setiap malam di mana anak buruh tani itu berjuang melawan kantuk, melahap pelajaran demi pelajaran. Ia harus menempuh jarak yang jauh, terkadang menyeberang pulau dengan perahu nelayan, hanya untuk mencapai sekolah yang layak.
Keterbatasan ekonomi tak pernah memadamkan semangatnya, justru menjadikannya api. Ia berhasil meraih gelar Sarjana dan Master, melewati semua rintangan dengan bantuan beasiswa dan kerja keras tak kenal lelah. Keputusan terbesarnya, dan sebuah kehormatan bagi kampungnya, adalah ketika ia kembali ke tanah Sulawesi Utara, tidak sebagai pejabat, tetapi sebagai Dosen di Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Manado.
Di IAKN Manado, Thofan mengajar, menyalurkan ilmunya, dan yang terpenting, menyalakan semangat yang sama di mata mahasiswa-mahasiswi yang mungkin juga berasal dari latar belakang sederhana. Namun, ada satu mimpi yang belum tuntas, satu janji yang belum ia tepati pada dirinya sendiri dan orang tuanya yaitu meraih gelar Doktor.
Maka, dimulailah babak baru dalam perjuangannya, yaitu Seleksi Beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan). Baginya ini bukan sekadar ujian akademik, ini adalah pertarungan melawan keraguan diri, jarak, dan keterbatasan waktu. Sebagai dosen dengan jam terbang tinggi, Thofan harus membagi fokus antara mengajar, meneliti, melakukan pengabdian kepada masyarakat, mengurus administrasi LPDP yang begitu rumit dan belajar bahasa Inggris di sela-sela kesibukan. Thofan menyelesaikan esai dan proposal risetnya yang berjudul besar: “Model Pengembangan Fisik Motorik Anak Usia Dini Berbasis Kearifan Lokal Talaud di Daerah 3T”
Proposalnya bukan hanya tulisan di atas kertas, melainkan jeritan hatinya yang ingin membawa kemajuan nyata ke Talaud dan pulau-pulau perbatasan lainnya. Ia ingin beasiswa LPDP tidak hanya membuka pintu baginya, tetapi juga menjadi jendela bagi anak-anak buruh tani di seluruh Indonesia untuk melihat bahwa batas geografis dan ekonomi bukanlah akhir dari mimpi.
Saat tiba pada tahap wawancara LPDP, Thofan duduk tegap di depan layar Zoom 3 panelis yang mengujinya, ia mengenakan kameja batik sederhana, dengan mata yang memancarkan kejujuran dan tekad.
“Mengapa anda, seorang dosen, harus mengambil S3, sementara anda sudah memiliki pekerjaan yang stabil?” tanya salah satu pewawancara.
Thofan Rame menarik napas pelan. “Bapak dan Ibu yang terhormat,” katanya dengan suara bergetar namun tegas, “Saya adalah anak dari buruh tani di Kabupaten Kepulauan Talaud, pulau paling utara NKRI. Saya tahu bagaimana rasanya belajar tanpa listrik memadai, bagaimana rasanya melihat orang tua bekerja keras hanya untuk satu potong nasi. Jabatan dosen ini adalah sebuah anugerah, tetapi bukan akhir dari perjuangan.
Saya harus kembali membawa ilmu setinggi-tingginya ke IAKN Manado, dan lebih penting lagi, saya harus menjadi bukti nyata bagi setiap anak di perbatasan Talaud, bahwa asalmu bukan takdirmu. Saya ingin menunjukkan bahwa keringat buruh tani bisa menghasilkan seorang Doktor yang akan mengabdikan dirinya untuk memajukan daerah 3T. LPDP bukan hanya beasiswa, ini adalah investasi negara untuk masa depan anak-anak di perbatasan.”
Ruangan Zoom itu menjadi hening. Panelis menatapnya, tidak hanya mendengar kata-kata, tetapi merasakan ketulusan dari setiap perjuangan yang ia kisahkan dari Talaud yang jauh, hingga ruangan Zoom Wawancara Subtansi LPDP.
Selang beberapa detik seorang Penguji berkata, kami berdoa dan berharap anda bisa Lulus menjadi salah satu Awardee Penerima Beasiswa LPDP untuk menjadi Motor Penggerak Peningkatan Pendidikan dan Kemajuan SDM di Daerah Perbatasan Talaud.
Thofan Rame, menjawab dengan ramah, namun penuh dengan keyakinan bahwa: Amin, insya Allah semoga saya diberi kesempatan untuk Lulus. Jawabannya sederhana, namun mengandung makna harapan yang sangat dalam.
Thofan Rame, diakhir wawancara mengungkapkan bahwa mimpi yang lahir di tanah paling sederhana, asalkan dipupuk dengan ketekunan, integritas, dan pengabdian, pasti akan tumbuh menjulang tinggi, menembus batas-batas geografis, ekonomi, bahkan keraguan diri, hingga akhirnya membidik bintang-bintang di puncak Nusantara. Ia berharap bahwa dengan identitas yang dimilikinya sebagai seorang anak buruh tani dari perbatasan bisa menjadi lentera terang bagi masa depan bangsanya. Sehingga Pendidikan bukan hanya memberikan Cahaya di pusat perkotaan tapi sampai pada Daerahnya di Prebatasan, karena Pendidikan bukan hanya milik orang yang kaya tapi Pendidikan adalah milik semua anak bangsa yang tak pernah berhenti untuk berjuang.
Pada akhirnya, kerja kerasnya terbayar di Tanggal 27 November 2025, saat jadwal pengumuman Seleksi Beasiswa LPDP Tahap 2 Tahun 2025, dimana Thofan Rame dinyatakan Lulus sebagai penerima beasiswa. Tangis haru pecah di depan layar laptopnya memuat aplikasi pendafataran beasiswa LPDP dimana di dalamnya berisi Kelulusan dirinya sebagai penerima beasiswa LPDP.


Discussion about this post