Manado, Barta1.com — Gelombang protes peralihan lahan Taman Budaya Sulawesi Utara menjadi Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) kian menguat. Terpantau lebih dari 30 simpul kesenian nyatakan bergabung dalam gerakan turun ke jalan menyuarakan musibah budaya yang terjadi di daerah ini.
“Hingga Minggu (12/10/2025) malam sudah sekitar 34 kelompok yang bergabung, sebagian besar sanggar kesenian, komunitas budaya termasuk NGO dan kelompok penulis dan sastra, semuanya akan turun demonstrasi pekan ini di Manado,” kata Aldes Sambalao, koordinator aksi, pada Barta1 Senin (13/10/2025).
Kabar peralihan lahan Taman Budaya di Rike, Kecamatan Wanea, menjadi SPBU, telah memicu keresahan di kalangan pelaku seni dan kebudayaan Sulut. Gerbong protes pun tercipta. Aksi demo akbar nanti mempertemukan individu maupun kelompok dari 3 etnis besar di Sulawesi Utara; Minahasa, Totabuan dan Nusa Utara.
Mereka sepakat menghalangi peralihan tersebut. Bahkan menuntut kepedulian pemerintah daerah untuk unjuk keberpihakan pada kesenian dan kebudayaan—bukan hanya terpaku pada sektor perekonomian semata.
“Tuntutan besar adalah Taman Budaya Rumah Kami, Kembalikan! rencananya akan disampaikan langsung di hadapan Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus” kata perupa seni Alfred Pontolondo dan sutradara teater Vick Baule.
Puluhan simpul yang bergabung untuk menyampaikan sikap antara lain Asosiasi Seni Tradisional Daerah Sulut (ASTD), Wale Teater, Sanggar Kreatif, Komunitas Torang, Forum Perupa Sulut, Dewan Adat Talaud, Sanggar Seriwang-Sangihe, Aliansi Kabasaran Seluruh Indonesia (AKSI), Pusat Kajian Komunitas Adat dan Budaya Bahari, Sanggar Seni Kitawaya, Sanggar Seni Manguni Wenang Kauneran, Sanggar Karangmantra, Sanggar Budaya Matambor, Sanggar Seni Senggighilang, Sanggar Seni Kalamatra, Asosiasi Seni Tari Sulut dan Teater Monibi.
Juga, Persatuan Maengket dan Masamper Sulut, Batoe Toelis Kreatif, Kavirsigers Squad, Sanggar Tangkasi Bitung, Komunitas Budaya Tionghoa Sulut, ISBIMA, Teater Club Manado, Sanggar Seni Ma’sani Tomohon dan Teater Roda. Termasuk pula Center for Alternative Policy, Komunitas Mapatik, TamangBae Lingkungan dan Pusat Studi Sejarah Bolaang Mongondow Raya (PS2BMR).
Puluhan pelaku kesenian senior ikut memotori gerakan ini. Para ‘abang’ itu antara lain Eric Dajoh, Jhon Piet Sondakh, Inyo Rorimpandey, Pitres Sombowadile, Jaya Masloman, Tonny Mandak, Reiner Ointoe, Iverdixon Tinungki, Ferro Kuron, Ruland Wawoh, John Semuel, Melky Runtu, Arie Tulus, Joppy Sajouw termasuk antropolog Alex Jhon Ulaen dan praktisi budaya Jupiter Makasangkil.
“Kebudayaan dan kesenian adalah jatidiri yang sama pentingnya dengan sektor riil dan dunia olahraga, kami bergerak untuk melakukan penyelamatan dalam situasi darurat mengingat Taman Budaya adalah simbolisasi dan rumah bersama para seniman yang harusnya dirawat, bukan dialihfungsikan,” cetus Aldes Sambalao. (**)
Editor:
Ady Putong


Discussion about this post