Manado, Barta1.com – Para nelayan di Desa Pondol terpaksa “menggigit jari” selama tujuh bulan terakhir akibat merosotnya hasil tangkapan ikan. Kondisi ini terungkap dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan oleh Politeknik Negeri Manado (Polimdo), Sabtu (21/09/2025).
Kenyataan pahit itu terkuak ketika Dr. Efendy Rasjid, MM., M.Si, memulai kegiatan dengan observasi melalui diskusi langsung bersama para nelayan untuk menggali kondisi serta tantangan yang mereka hadapi sehari-hari di laut.
“Sebelum kita melangkah lebih jauh, saya ingin tahu, berapa banyak biasanya hasil tangkapan yang didapat? Dan ke mana ikan-ikan itu dijual?” tanya Dr. Efendy membuka percakapan.
Menanggapi pertanyaan tersebut, salah satu nelayan, Jhon Welcome, mengungkapkan bahwa hasil tangkapan sangat bergantung pada musim. Umumnya, panen melimpah terjadi pada Januari hingga Maret. Namun, di luar bulan-bulan tersebut, hasilnya tidak ada, adapun untuk konsumsi keluarga, itupun tidak selalu.
“Sekarang ini, kami kesulitan mendapatkan ikan. Dulu masih mudah ditemukan, sekarang makin langka,” kata Jhon lirih, sembari menyampaikan bahwa kelompok nelayan di Pondol ada 9, setiap kelompok berisikan 10 sampai 12 orang.
Ia menjelaskan bahwa pada musim puncak seperti bulan Maret, tangkapan bisa mencapai 100 hingga 200 ekor ikan, jumlah yang langsung diserap oleh pelaku usaha rumah makan. Namun setelah Maret, hasil tangkapan praktis nihil.
“Sejak bulan Maret hingga sekarang, sudah tujuh bulan kami tak mendapatkan apa-apa. Ikannya seperti lenyap,” sambungnya.
Mendengar kondisi tersebut, Dr. Efendy menyampaikan keprihatinan mendalam. Ia menekankan bahwa problem ini tidak bisa dipandang sebelah mata dan perlu menjadi perhatian serius dari pemerintah serta kalangan akademisi.
“Saya baru-baru ini menghadiri seminar mengenai kondisi perikanan di Teluk Manado yang disampaikan oleh seorang profesor dari Jepang. Salah satu temuan pentingnya adalah bahwa reklamasi di pesisir Manado telah mengubah arus laut, sehingga mengganggu pola pemijahan ikan. Akibatnya, populasi ikan menurun drastis, dan nelayan lokal pun kesulitan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Dr. Efendy juga menyoroti efek domino lainnya, seperti pencemaran di kawasan Taman Laut Bunaken akibat arus laut yang membawa sampah dari wilayah kota, serta ketimpangan teknologi tangkap antara nelayan lokal dan kapal asing.
“Indonesia ini kaya akan sumber daya ikan, tapi justru negara lain yang lebih banyak menikmatinya berkat teknologi canggih yang mereka miliki. Mereka bahkan bisa melacak migrasi ikan secara akurat. Ini tekanan besar bagi nelayan tradisional kita,” tegasnya.
Di akhir diskusi, Dr. Efendy menyerukan agar pemerintah daerah lebih tanggap dalam mencari solusi konkret, termasuk membuka jalan bagi diversifikasi usaha yang lebih berkelanjutan bagi masyarakat pesisir.
“Sudah tujuh bulan mereka tanpa penghasilan tetap. Ini bukan sekadar masalah ekonomi, tapi juga soal keberlanjutan hidup. Kami dari dunia akademik hadir untuk memberikan masukan dan harapan, agar ada langkah nyata yang bisa diambil,” pungkasnya. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post