• #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial
Selasa, Juni 23, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Kultur Seni

Merawat Alam Dalam Kebenaran Puitik, Catatan dari Eco Vibe Fest PLN (III)

by Iverdixon Tinungki
10 September 2025
in Seni
0
Nuansa seni dalam Eco Vibe Fest awal Juni 2025 di kawasan Mega Mas Manado. (foto Pan Eco Vibe Fest)

Nuansa seni dalam Eco Vibe Fest awal Juni 2025 di kawasan Mega Mas Manado. (foto Pan Eco Vibe Fest)

0
SHARES
27
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Kebenaran puitik adalah kebenaran yang tak dapat dilihat oleh logika. Ketika rasio manusia buntu mencapai kebenaran, maka puisi dan seni pada umumnya memperlihatkan sejatinya wujud kebenaran itu.

Begitulah saat Jamal Rahman Iroth, Inggrit Pangkey, Aldes Sambalao, Rahadi Ie Gedoan, Harlie Mamonto, tampil di panggung Eco Vibe Festival 2025 saya merasa teringkus, dan puisi yang mereka bacakan nampak lebih mulia dari khutbah bahkan pidato politik saat bicara tentang alam dan lingkungan hidup.

Bukan karena mereka memang deklamator, aktor dan penyair terbaik di Sulut saat ini, tapi puisi telah menghadirkan kebenaran sejati dan menampilkan alam hayatan yang jauh dan sublim tentang persoalan actual dan berbahaya masa kini yaitu tentang matinya rasa cinta pada alam lingkungan hidup kita sendiri.

Dengan air mata dan ekspresi mendalam, mereka mendobrak kebuntuan rasio dan logika dalam ruang hidup masa kini yang begitu jumawa menjarah dan merusak alam dengan sebegitu rakusnya yang berdampak pada malapetaka lingkungan hidup kita.

Kemudian dengan cara yang sangat estetik mereka menghadirkan nubuat-nubuat pertobatan ekologis dan ajakan lembut mencitai bumi sebagai rumah tinggal kita.

Pada titik itu, puisi telah tampil dalam semacam gerakan di arena revolusi penyadaran. Revolusi yang tak menggunakan senjata atau pentung, tapi revolusi yang mengunakan kata sebagai peluru yang lebih tajam.

Pada sesi inilah di antaranya saya melihat urgensi mulia itu pada kegiatan yang diselenggarakan Tamang Bae Lingkungan dan Serikat Pekerja PLN Suluttenggo pada Rabu, 4 Juni 2025 lalu di Kawasan Megamas Manado dalam memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

Dan benarlah sebuah frasa yang mengatakan: “Bila politik pembangunan itu kotor, maka seni yang membersihkannya”.

Ini pula sebabnya bagi saya Eco Vibe Festival 2025 PLN dapat diresepsi sebagai peristiwa kebudayaan dan peradaban yang monumental.

Untuk menyemarakan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni 2025 itu, berikut ini tampil beberapa puisi karya Iverdixon Tinungki yang ditulis saat berkunjung ke Hutan Lindung Dumoga Bone.

PUISI DARI HUTAN LINDUNG

cempaka agathis dan kenanga
adalah puisi
adalah mata ibu
tempat benih cinta itu tumbuh

sudahkah kaubaca sajak Tuhan
pada bisu selembar daun
sejak kuncup hingga luruh
ia kalam untukmu

kayukayu besi menjejar
kelelawarkelelawar mengantungkan liarnya
burung rangkong dan kumbang, seperti kupu
ingin berumah di bebas bumi teduh
engkau pun bernafas
menyesap udara segar pori daun
helaihelai ikhlas kisut lantak menapis racun
karena paruparumu seharga gugurnya yang luhur

dan seekor maleo menetas di tanah pasir
memanggilmu menafsir
sesuci apa puisi angin dan air
lahir dan mengalir

saat malam hutan bernyanyi
satwasatwa mengendurikan mimpi
adakah kaudengar pesan alam
ditetas riang hati menyimpan gerimis

di taman nasional Bogani Nani Wartabone
hampar matayangan adalah puisi keagungan Tuhan
bagaimana tangan tanah yang sabar
merias manusia dan alam
karena kehidupan
tak sekadar luka dan geram

ARCANGELISIA FLAVA

jangan tancapkan kami kapak
dan luka gergaji
sebagai pohon
kami pun ingin menikmati matahari
sebagai hutan
kami pun ingin hidup lestari

mendakilah ke gunung poniki
di sana kita bisa berbagi riang dan mimpi
mendakilah ke puncak damar
di sana engkau bisa teduhkan letih dan memar

aku hanya sebatang pohon
tanpa tangan atau kaki
untuk melawan atau berlari
jangan tancapkan kami kapak
dan luka gergaji

sebagai pohon aku hanya punya teduh
dan gema daun yang mengolah udara untukmu
sebagai pohon aku hanya punya rindang
dan ricik tanah basah tempat satwa bernaung

suatu ketika engkau akan mengenang tubuh kuningku
dan seekor tarsius bertengger di cabang. cabangku
kau akan menulis
atau bercerita
di poniki, di bentang gunung damar
di sebatang arcangelisia flava
ada tepi surga yang kaffah

jangan tancapkan kami kapak
dan luka gergaji
karena luka pohonan
luka jiwamu sendiri

LAGU SERIBU KUMBANG DUMOGA BONE
UNTUK ALAM LESTARI

kami bernyanyi dalam dengung
kami bernyanyi untuk sebuah renung
seperti gombloh, seperti gombloh
lelaki tirus menyanyikan lestari alamku:

“Lestari Alamku, Lestari Desaku
Di mana Tuhanku Menitipkan Aku
Nyanyi Bocah-bocah Di Kala Purnama
Nyanyikan Pujaan Untuk Nusa”

kami bernyanyi dalam getar sayapsayap kecil
memuja sungaisungai mengalir
memuja pohonpohon teguh tumbuh untukku
memuja hati para musafir
memuisikan megah orkhestrasi nyanyi lestari
bening doa kumbang di semak sepi

dari Kasinggolan ke Lombongo
saat bungabunga hutan menetas dari kandung bumi
kami bernyanyi, menyanyikan hutanhujan tropis
lumut dan rumput paku di bawah pohon waru
adalah lagu pencari nyanyian jiwa yang gaharu

kami bernyanyi dalam dengung
kami bernyanyi untuk sebuah renung
seperti gombloh, seperti gombloh
lelaki pemuja persaudaran manusia dan alam semesta
serupa ruelia, manusia butuh seteguk air
buat tubuh letih dahaga
maka kami bernyanyi di hutan hujan tropis
di gunung damar, di gunung padang, di danau tumpah
di cadas batubatu berkamar
memanggilmu wahai para musafir;
mari teduhkan segala memar

burungburung, anggrek, dan belukar bunga
adalah lirik nyanyianku, sepotong sajak hutan hujan tropis
mamalia, reptilia, amfibia, musang, anoa, babirusa
semua kunyanyikan dengan megah, dengan getar sayap kecilku
kumbang bernyanyi untuk sebuah renung; lestari alamku

SUARA RIMBA RAYA

di halimun suara itu
suara pohonpohon
gumam air
percakapan kupu
dengan setangkai bunga ungu

di ricik sungai
di sinar suci mata fauna
di cabangcabang flora menggapai
suara itu
sebening doa tergerai

suara itu, suara rimba raya
desis gema tipis
berkesiuran
seakan sayap putih
gema kalbu

suara itu
suara taman kehidupan
suara hening
suara yang mengecup kita
dengan cinta
tanpa
sepatah kata

MALEO SENKAWOR

di padang pasir hangat
bumi kadang melukis
apa yang patut kukenang
tak saja gerimis menetes di alis
atau senandung dunia hijau
imaji daun dan riap doa bergaung

padang pasir hangat
kadang rahim dan gamis
tempat burungburung terseduh menangis
tempat telur ditetas bumi puitis
dan seekor maleo senkawor kecil
lahir dengan jambul keras berwarna hitam
seperti puisi alit di ranjang suasa bumi
kubaca hingga angin lelah mendetaki nadi

ketika manusia dan alam tak berjarak
tak ada senja berakhir beku
kita selalu bagai kekasih tak alpa berkecupan
membiarkan wangi berjatuhan ke dalam hati

dan seekor maleo senkawor barangkali telah membesar
dengan paruh berwarna jingga
ia kembali menetaskan setumpuk sajak
memaknai padang hati dengan hangatnya

SUATU KETIKA DI MENGKANG

andai aku bisa bernyanyi
kunyanyikan cahaya sejuk hutan
andai aku bisa mencair
kusyairkan getar air mengkang

batubatu hitam
maknamakna bersemayam
mengaliri curam kehidupan
tapi aku ingin terjun dan tetap berjalan
aku ingin menjelma bunga
di jarijari air mata kumbang

aku ingin menjelma cuaca
di jeriji kehidupan
biar aku mengalir dalam sabdasabda cahaya
biar aku berembus dalam kabung suara tak berdaya
akan kuteguk embunMu di tubir tafsir
bila hutan adalah kitab
pada sepucuk daunMu aku belajar mencinta

KOLASE HIJAU

seonggok bayang kelelawar
dan sepasang kuskus berpelukan
melawat kegembiraan jiwaku
saat malam seakan gambar abadi
menabuh nyala api di tungku nafas lincah
memetik pesan rumputan saat hujan selesai

dan bangkai kesedihan lesap ke akar dalam
dan kurebahkan tidurku pada setangkai mawar
saat ia menegak paling muka
dalam kawanan impian bunga dikalungkan langit
di selembar hutan yang kudekap
dan yang mendekapku dengan wangi

di pagi, aku dan rimbah bagai zirah dan ksatria
lahir kembali dengan kemenangan saat hujan selesai
dan matahari berdenyar
di derak pohon yang mengibar senyuman

*). Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, merupakan salah satu kawasan konservasi seluas 297,11 ha yang sebagian wilayahnya terletak di Provinsi Sulut dan sebagian lagi terletak di Provinsi Gorontalo. Memiliki berbagai keunikan ekologi sebagai kawasan peralihan geografi daerah Indomalayan di sebelah Barat dan Papua-Australia di sebelah Timur (Wallaceae Area).

Kawasan ini memiliki potensi flora yang beraneka ragam yang didominasi oleh kelompok (genus) ficus. Beberapa jenis flora yang dapat anda temui di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi antara lain: nantu (Palaqium obtusifolium), kayu hitam (Diospyros spp), kayu besi (Metrosiderus vera), kayu inggris (Eucalyptus deglupta), cempaka (Elmerrillia ovalis) dan metayangan (Pholydacarpus ihur). Selain ini anda masih dapat menemukan berbagai flora lain seperti paku-pakuan, palem, rotan, hanjuang hijau dan bunga bangkai.

Juga memiliki berbagai potensi fauna yang terdiri dari 24 jenis mamalia, 125 jenis aves, 11 jenis reptilia, 2 jenis amfibia, 38 jenis kupu-kupu, 200 jenis kumbang, dan 19 jenis ikan.
Sebagian besar satwa yang ada di taman nasional merupakan satwa khas/endemik pulau Sulawesi seperti monyet hitam/yaki (Macaca nigra nigra), monyet dumoga bone (M. nigrescens), tangkasi (Tarsius spectrum spectrum), musang Sulawesi (Macrogalidia musschenbroekii musschenbroekii), anoa besar (Bubalus depressicornis), anoa kecil (B. quarlesi), babirusa (Babyrousa babirussa celebensis), dan berbagai jenis burung. Satwa burung yang menjadi maskot taman nasional adalah maleo (Macrocephalon maleo), dan kelelewar bone (Bonea bidens) merupakan satwa endemik taman nasional.(*)

Penulis: Iverdixon Tinungki (Redaktur Barta1.com)

Barta1.Com
ADVERTISEMENT
Iverdixon Tinungki

Iverdixon Tinungki

Jurnalis dan sastrawan. Pendiri dan Editor senior di Barta1.com

Next Post
Pelukis Jaya Masloman di arena, Eco Vibe Festival 2025

Citra Nurani Dalam Lukisan, Catatan Dari Eco Vibe Fest PLN 2025 (4)

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Gratis 40 hari! Nasdem Bitung Gelar Nobar World Cup 2026 di Pusat Kota 23 Juni 2026
  • Plt Bupati Sitaro Lakukan Audiensi dengan Kemendagri Bahas Produk Hukum Daerah 22 Juni 2026
  • Louis Schramm Soroti SPMB 2026, Ingatkan Kesempatan Putra Daerah Jangan Tergerus 22 Juni 2026
  • Mengabdi ke Masyarakat, 5 Akademisi Perempuan Unima Turun Gunung Menuju Tapal Batas Indonesia 22 Juni 2026
  • Kolaborasi Teknik Sipil dan Elektro Polimdo Hadirkan PJU Tenaga Surya untuk Warga Kairagi Satu 20 Juni 2026

AmsiNews

  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In