Hari itu Rabu, 4 Juni 2025. Saya tiba sejak siang di ajang Eco Vibe Festival 2025, di kawasan Megamas, Manado. Di sana suasana sudah asyik dan ramai.
Di area sisi kanan dari panggung utama, dinaungi tenda-tenda kain yang tertata artistik, para pelukis nampak serius menuangkan imaji-imaji mereka ke atas kanvas yang tersandar pada sketsel.
Para muralis juga di sana, menyaput kuasnya ke atas kanvas, mengejar ide-ide visual yang berkelindan dalam perasaan mereka.
Saat saya menyapa pelukis Jaya Masloman, Emor Mingkit, Alfret Pontolondo, Melky Runtu, dan muralis Lutfhi, Jade, Sabrina, Ferdi, karya mereka semuanya belum seutuhnya jadi. Baru di atas sedikit dari sketsa dasar. Tapi saya menangkap cahaya estetika dari permainan warna, komposisi, obyek dan bentuk.
Mereka sedang mengabadikan semuanya, sebagaimana filosofi gambar. Mereka menyajikan sebuah permadani kehidupan yang dibangun dari kedalaman ekspresi dan perenungan. Sebuah kehidupan yang kompleks yang berisi beragam ketegangan, nafas, aliran waktu dan sejarah.
Beberapa waktu kemudian, saya sejenak terbenam dalam lukisan Sabrina dengan obyek perempuan yang tertidur di bawah pohon sambil tersenyum. Sebuah dunia ideal yang menampilkan kemesraan antara manusia dan lingkungan.
Tentang lukisan itu, saya tertarik mereferensi kembali karya-karya pelukis romantis Rusia yang hidup di abad 19, Ivan Aivazovsky yang kerap melukis lautan dengan pemandangan indah dan menakjubkan. Laut yang molek dan menyenangkan diarungi.
Lantas bagaimana seandainya Aivazovsky melukis ulang laut kita saat ini? Bagi saya:
“bila Aivazovsky melukis ulang laut kita
ia tak mampu membuat enam ribu lukisan indah
tentang laut yang koma
diterjang 8 juta ton limbah plastik setiap tahunnya
bila Aivazovsky melukis ulang laut kita
seperti yang telah ia wariskan ke peradaban dunia
itu tak lebih gambar laut berair mata
dengan mulut dipenuhi sampah
sejak kanvas pertama ia akan melukis amarah
lalu mencabikcabik kanvasnya dengan sapuan paling duka
paling luka”.
Di beberapa lukisan lain yang akhirnya selesai di malam hari, saya menemukan semacam mimesis dari perasaan kebencian saya pada ulah perusakan alam dan lingkungan.
Lukisan-lukisan dan mural itu begitu hidup bergerak dengan vitalitas symbol penuh kritik. Sangat kontekstual dan universal sebagai gambaran citra hati nurani pelukis yang peka terhadap problem aktual terkait Lingkungan hidup di sekitarnya.
Di tahun tahun 1990 silam, John Semuel adalah salah seorang pelukis Sulut yang banyak melahirkan karya-karya dengan latar laut, perahu, dan ikan tanpa daya, tanpa kekuatan, dan tanpa gizi. Ikan-ikan yang tinggal tulang belulang membisu dalam senyap dan kaku, tulis Uche Ismail.
Di lain waktu ia melukis objek ikan yang berdaya, ikan yang hidup. Ikan yang memiliki daya juang. Ikan yang tidak pasrah begitu saja pada takdir. Ikan yang tidak membiarkan dirinya mati atau dimatikan. Juga, ikan-ikan yang penuh cinta dan kasih sayang.
Begitulah saya menangkap ide-ide kreatif para perupa itu dalam menghayati problem lingkungan hidup kita saat ini di ajang Eco Vibe Festival 2025 yang ditaja Tamang Bae Lingkungan dan Serikat Pekerja PLN Suluttenggo. (*)
Penulis: Iverdixon Tinungki (Redaktur Barta1.com)


Discussion about this post