• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Jumat, April 24, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Kultur Seni

Citra Nurani Dalam Lukisan, Catatan Dari Eco Vibe Fest PLN 2025 (4)

by Iverdixon Tinungki
10 September 2025
in Seni
0
Pelukis Jaya Masloman di arena, Eco Vibe Festival 2025

Pelukis Jaya Masloman di arena, Eco Vibe Festival 2025

0
SHARES
42
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Hari itu Rabu, 4 Juni 2025. Saya tiba sejak siang di ajang Eco Vibe Festival 2025, di kawasan Megamas, Manado. Di sana suasana sudah asyik dan ramai.

Di area sisi kanan dari panggung utama, dinaungi tenda-tenda kain yang tertata artistik, para pelukis nampak serius menuangkan imaji-imaji mereka ke atas kanvas yang tersandar pada sketsel.

Para muralis juga di sana, menyaput kuasnya ke atas kanvas, mengejar ide-ide visual yang berkelindan dalam perasaan mereka.

Saat saya menyapa pelukis Jaya Masloman, Emor Mingkit, Alfret Pontolondo, Melky Runtu, dan muralis Lutfhi, Jade, Sabrina, Ferdi, karya mereka semuanya belum seutuhnya jadi. Baru di atas sedikit dari sketsa dasar. Tapi saya menangkap cahaya estetika dari permainan warna, komposisi, obyek dan bentuk.

Mereka sedang mengabadikan semuanya, sebagaimana filosofi gambar. Mereka menyajikan sebuah permadani kehidupan yang dibangun dari kedalaman ekspresi dan perenungan. Sebuah kehidupan yang kompleks yang berisi beragam ketegangan, nafas, aliran waktu dan sejarah.

Beberapa waktu kemudian, saya sejenak terbenam dalam lukisan Sabrina dengan obyek perempuan yang tertidur di bawah pohon sambil tersenyum. Sebuah dunia ideal yang menampilkan kemesraan antara manusia dan lingkungan.

Tentang lukisan itu, saya tertarik mereferensi kembali karya-karya pelukis romantis Rusia yang hidup di abad 19, Ivan Aivazovsky yang kerap melukis lautan dengan pemandangan indah dan menakjubkan. Laut yang molek dan menyenangkan diarungi.

Lantas bagaimana seandainya Aivazovsky melukis ulang laut kita saat ini? Bagi saya:

“bila Aivazovsky melukis ulang laut kita
ia tak mampu membuat enam ribu lukisan indah
tentang laut yang koma
diterjang 8 juta ton limbah plastik setiap tahunnya
bila Aivazovsky melukis ulang laut kita
seperti yang telah ia wariskan ke peradaban dunia
itu tak lebih gambar laut berair mata
dengan mulut dipenuhi sampah
sejak kanvas pertama ia akan melukis amarah
lalu mencabikcabik kanvasnya dengan sapuan paling duka
paling luka”.

Di beberapa lukisan lain yang akhirnya selesai di malam hari, saya menemukan semacam mimesis dari perasaan kebencian saya pada ulah perusakan alam dan lingkungan.
Lukisan-lukisan dan mural itu begitu hidup bergerak dengan vitalitas symbol penuh kritik. Sangat kontekstual dan universal sebagai gambaran citra hati nurani pelukis yang peka terhadap problem aktual terkait Lingkungan hidup di sekitarnya.

Di tahun tahun 1990 silam, John Semuel adalah salah seorang pelukis Sulut yang banyak melahirkan karya-karya dengan latar laut, perahu, dan ikan tanpa daya, tanpa kekuatan, dan tanpa gizi. Ikan-ikan yang tinggal tulang belulang membisu dalam senyap dan kaku, tulis Uche Ismail.

Di lain waktu ia melukis objek ikan yang berdaya, ikan yang hidup. Ikan yang memiliki daya juang. Ikan yang tidak pasrah begitu saja pada takdir. Ikan yang tidak membiarkan dirinya mati atau dimatikan. Juga, ikan-ikan yang penuh cinta dan kasih sayang.

Begitulah saya menangkap ide-ide kreatif para perupa itu dalam menghayati problem lingkungan hidup kita saat ini di ajang Eco Vibe Festival 2025 yang ditaja Tamang Bae Lingkungan dan Serikat Pekerja PLN Suluttenggo. (*)

Penulis: Iverdixon Tinungki (Redaktur Barta1.com)

Barta1.Com
ADVERTISEMENT
Iverdixon Tinungki

Iverdixon Tinungki

Jurnalis dan sastrawan. Pendiri dan Editor senior di Barta1.com

Next Post
Mengapa Perilaku Kerja Inovatif Menjadi Kunci Keberlangsungan UMKM di Era Kompetisi Global

Mengapa Perilaku Kerja Inovatif Menjadi Kunci Keberlangsungan UMKM di Era Kompetisi Global

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Petinggi BSG ‘Dikuliti’ Kejati Sulut Soal Dugaan Korupsi CSR, Kapan Dirut? 24 April 2026
  • Gubernur Yulius Angkat Isu Lingkungan di Paripurna, 5.000 Warga Koha Krisis Air Bersih 24 April 2026
  • PLN UP3 Gorontalo Gelar Apel Serentak, Akselerasi Layanan dan Jamin Keandalan Pasokan Listrik 24 April 2026
  • PLN UID Suluttenggo Perkuat Mitigasi dan Keandalan Listrik di Desa Siaga Bencana Kinilow 24 April 2026
  • Paripurna DPRD Sulut, Feramitha Serukan Pembangunan Talud Muntoi dan Jalan Dumoga 23 April 2026

AmsiNews

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In