Sepatutnya Eco Vibe Fest 2025 disebut sebagai panggung yang semarak dan menginspirasi gerakan penyelamatan lingkungan.
Hajatan yang ditaja Tamang Bae Lingkungan dan SP PLN Suluttenggo, di kawasan Megamas, Manado, hari Rabu, 4 Juni itu adalah sebuah festival seni dalam memperingati Hari Lingkungan Hidup Se-dunia.
Di sana, tampil beragam performing arts di antaranya pembacaan puisi musical dan teaterisasi puisi. Dan Puisi pada kesempatan itu tak sekadar karya sastra yang dipandang mengedepankan estetika dan filsafat. Puisi adalah juga sebuah perlawanan.
Setiap angkatan kepenyairan dunia, selalu melahirkan karya-karya penting dan gemilang yang bermakna perlawanan sebagai upaya membangun kesadaran umat manusia dalam menjaga keberlangsungan peradaban dan kehidupan dunia.
Sejak lama pula sebagai penulis puisi, saya memilih ikut berada di jalan perlawanan itu. Berusaha konsisten melawan aksi perusakan lingkungan laut dunia oleh sampah plastik yang tak terkendali saat ini.
Ada 8 juta ton limbah plastik berakhir di lautan dunia setiap tahunnya saat ini adalah sebuah malapetaka peradaban dan nasib bumi.
Dengan puisi saya ingin berbagi suara untuk gerakan kesadaran umat manusia di mana betapa pentingnya kelestarian alam laut kita. Betapa pentingan kehidupan biota laut.
Betapa pentingnya kehidupan plankton sebagai organisme yang menyumbang 80% kebutuhan oksigen yang ada di bumi.
Berikut ini, beberapa puisi karya Iverdixon Tinungki yang ikut menyemarakan Eco Vibe Festival 2025:
PERJALANAN KEMATIAN SEBUAH KANTONG PLASTIK
sebuah kantong plastik yang kita buang di pinggir jalan
suatu ketika akan sampai di laut
mengambang, menipu ikanikan
seakan uburubur, seakan plankton,
seakan ikanikan kecil yang mengkilap
sebuah kantong plastik yang kita buang di pinggir jalan
suatu ketika akan dilahap ikanikan
dan kita melahap ikanikan yang melahap kantong plastik
yang kita buang di pinggir jalan
sejak itu perjalanan kematian sebuah kantong plastik
merambah tubuh kita,
mematikan selsel dan merusak pencernaan
lewat kotoran kita, lewat mayatmayat kita
yang dikonsumsi mahkluk lainnya
perjalanan kematian itu terus berulang
mengedari rantai makanan
dalam lima ratus tahun menuju titik urainya
SEAFOOD DAN MIKROPLASTIK
sambil menyantap sebelas ribu mikroplastik
di piring seafood yang kita telan pertahunnya
mari menafsir jumlah ikan
dan jumlah plastik yang mengisi lautan
karena lebih dari 99 persen mikroplastik diekskresikan
dan terperangkap dalam jaringan tubuh udang kerang dan ketam
bila engkau mengkonsumsi atau mencintai penyu
lebih dari setengah penyu dunia merayakan pesta
plastik dalam tubuhnya
sebab di lautan sana
jumlah plastik kini lebih banyak
dari jumlah ikan
mari menafsir perjalanan plastik
dari seafood ke tubuh manusia
bukankah yang terbaca adalah catatan kebodohan kita
yang membiarkan senyawa kimia
menyebar racun mematikan semua
seekor kerang yang lucu
yang makan dengan menyaring 20 liter air laut perhari
dapat menelan sejumlah mikroplastik tanpa sengaja
dan dengan tolol kita menyantap sampah kita
di dalam piring seakanakan itu kelezatan yang berguna
mengapa hewan memakan plastik di lautan?
karena plastik beraroma seperti makanan
itu sebabnya ikan lebih suka makan plastik
daripada plankton yang disajikan Tuhan untuknya
kini dari kota ke kota
manusia selalu menyumbang sampah ke laut dunia
sampah sebuah kota diatas 175.000 ton perhari
sampah sebuah negara seperti Indonesia
mencapai 64 juta ton perhari
maka jangan heran
bila kini engkau melihat laut
lihatlah di sana ada lima triliun partikel plastik
mengambang bagai maut yang mengintai kita
bila engkau bertanya sejahat apa kita pada lautan dunia
jawabnya setara dengan satu truk penuh sampah pastik
yang dibuang ke laut tiap menitnya
MELUKIS ULANG LAUT KITA
bila Aivazovsky melukis ulang laut kita
ia tak mampu membuat enam ribu lukisan indah
tentang laut yang koma
diterjang 8 juta ton limbah plastik setiap tahunnya
bila Aivazovsky melukis ulang laut kita
seperti yang telah ia wariskan ke peradaban dunia
itu tak lebih gambar laut berair mata
dengan mulut dipenuhi sampah
sejak kanvas pertama ia akan melukis amarah
lalu mencabikcabik kanvasnya dengan sapuan paling duka
paling luka
GADIS PLASTIK DARI JIAMEI
lima ratus tahun kemudian
saat kotakota lama ditata ulang,
samudera dibersihkan,
bongkahan es kutub didinginkan
dan tanah kembali digemburkan
keturunan kita akan menemukan
berjutajuta gadis plastik dari Jiamei
dari pabrikpabrik seantero dunia,
terjengkang, memperlihatkan
betapa buruknya nilai hidup kita
dan mereka berkata: sekesepian itukah leluhur kita,
sesunyi itukah kehidupan mereka, sedatar itukah
akhlak mereka
karena lima ratus tahun sebelumnya,
kita memang diganyang gelombang plastik yang membabi buta
serbuan yang tak terlawankan, bahkan plastik dianggap pahlawan
menjaga bayibayi kita tidur, menemani mereka bermain.
dan mereka tumbuh berkembang dalam dunia plastik yang ramai,
menghadirkan pesta nilai artifisial dari segala bentuk kehidupan
samar di kamarkamar yang diplastikkan dengan teramat gemar
karena lima ratus tahun sebelumnya
kita hidup dalam kebudayaan plastik yang paling edan
kita bergantung pada plastik, daya hidup kita didikte oleh plastik
kemudahan memplastikkan segalanya tak terasa telah merampas
semua kebanggaan kita sebagai manusia, sebagai bagian dari alam
yang harus dicintai dan diselamatkan
dengan buasnya kita biarkan plastik memangsa alam kita
memangsa tumbuhan dan hewan, memangsa diri kita,
keseharian kita, bahkan cinta kita
lima ratus tahun kemudian
dengan begitu malu keturunan kita
mencakapkan kebejatan kita yang tiada taranya
menyampahi samudera, menyampahi tanah,
menyampahi udara dengan plastik, dengan gadis plastik dari Jiamei,
dari Dreamdoll Duppigheim,
dari Strasbourg
menyampahi makna kehidupan dengan robotrobot plastik pemuas nafsu,
dengan tas, dengan kondom modif, dengan payudara silikon,
dengan pinggul silikon, dengan cincin penggeli, dengan penis karet,
dengan vagina getar, dengan alatalat rumah tangga, dengan
kemasankemasan barang dan mesin, dengan bunga, dengan segala
sampah plastik yang tak perlu dan tak berguna
dan mereka akan menyumpahi kita sebagai nenek moyang yang terkutuk
mewariskan bumi rusak akibat nafsu plastik yang tak terkendali
pemimpinpemimpin bangsa kita akan dicemooh sebagai para idot yang
tak mampu menghadirkan kebijakan yang berpihak pada kelestarian hidup
alam semesta
dan mereka akan menulis ulang sejarah manusia
dari kesadaran yang lebih cerah
tentang makhluk yang mencintai planet mereka,
lalu menempatkan kita sebagai kerakera tua yang berotak tumpul
yang hidup di sebuah masa yang begitu buas
saling memangsa,
juga sebagai makhluk yang paling terobsesi dengan plastik
sebagai dunianya
saat keturunan kita memulai kembali hidup mereka
dengan awal yang bijaksana
mereka akan membongkar tulangbelulang dan abu kita
dan menarunya di lubang sampah
bersama plastikplastik yang tak bermakna
CATATAN KEMATIAN ALBATROS
seekor albatros terbang ke surga
mencari Nuh, Junus, dan Musa
wahai nabinabi laut yang perkasa, katanya,
kini aku mau tinggal di laut surga saja,
laut di bumi telah menjadi tempat berbahaya
di sana anakku mati siasia
tenggorokannya tercekat plastik buatan manusia
ia menyangka plastik itu cumi,
atau ikan yang baik untuk dicerna
Nuh, Junus, dan Musa tersenyum
menimang linang airmata albatros yang duka
dulu aku bertengkar dengan Tuhan, kisah Junus,
Tuhan memaksaku membawa kembali manusia
kembali dari khilaf dan salahnya
dulu aku sampai membelah laut, ujar Musa,
Tuhan memilihku membawa kembali manusia
kembali dari perbudakan hidupnya
dulu aku membawamu ke dalam bahteraku
kau tahu karena apa? kata Nuh
karena kau pelajaran terakhir dipilih Tuhan
untuk memperingatkan manusia
dari bencana ketololannya
pulanglah ke bumi albatros, lanjut Nuh
kebumikan anakmu di sana,
karena Tuhan pun pernah mati dibunuh manusia
kini tahulah kau, tambah Junus
betapa tinggi cinta Tuhan pada manusia
lebih setinggi dan lebih jauh dari tatapmu yang tajam
pulanglah albatros, bujuk Musa
terbanglah lagi setinggi
dan sejauh tatapan mata manusia
hingga keanggunanmu mengajari mereka
makna cinta
setelah kembali dari surga
albatross menganyam sarangnya
menyongsong kembali hidupnya yang kedua
dan di Midway
di suatu hari yang saga
kembali kudengar kabar duka
seekor albatros mati tercekat sampah
dan ketololan kita
TEROR SIKAT GIGI
ini sikat gigi siapa
menancapi karang
meneror kita dengan pesan suram
aku mual membayangkan kumal mulutmu
mencemari indah terumbu yang kusajakkan
aku membayangkan gadis cantik
melemparkan sikat gigi tuanya ke selokan
aku membayangkan lendirnya yang tajam
menggertakiku dengan bau serigala yang edan
aku membayangkan miliaran sikat gigi
menyisihkan lendir dari enamel dan gusi
menyelusup ke liangliang rumah ikan di bumi
menyihir dengan batang dan bulunya yang duri
dalam impian bumi yang kukenduri
ini bumi siapa
tertusuk sikat gigi
tercekik aroma polimer dioksin
gas rumah kaca
dan bayangan hantu kotor rongga mulut kita
dari zaman Babilonia
orangorang membersihkan giginya dengan stik kunyah
tanaman Salvadora Persica
di zaman China kuno mereka menggunakan stik bambu
dengan bulu babi hutan Siberia
di zaman Yunani mereka memakai linen,minyak sulfur
dan larutan garam
tapi, di zaman ini
kita tergilagila dengan polimer termoplastik
yang sulit terurai
ini sikat gigi siapa
menciderai bumi dengan makna paling sampah
IKAN KERANG DAN BURUNG LAUT JUGA INGIN HIDUP
ikan kerang dan burung laut juga ingin hidup
mereka butuh keseimbangan oksigen
nutrisi dan air bersih
bukan 500 milyard kantong plastik
bukan 100 juta ton polusi plastik
wahai,
penyupenyu tersedak plastik
anjing laut dan ikan paus
mati dalam polusi plastik
bisphenol A dalam botol plastik
telah menyebabkan kanker gangguan hormon
diabetes dan kegemukan
jalinan plastik yang mengapung di laut
telah meningkatkan pemanasan global
wahai,
dimana kalian para pembuat undang-undang
bertindak sekarang!
bicara dengan suara keras
ciptakan masyarakat peduli
memulihkan bumi
agar kembali indah seperti semula
HANTU PLASTIK DARI EMPAT SAMUDERA
dari empat samudera
50 miliar botol plastik mengancam kita
dalam bayangan mati yang siasia
dalam seribu tahun yang tak berdaya
50 miliar botol plastik setiap tahunnya
menghujam bumi dengan polusi
dengan racun kimiawi
50 miliar botol plastik
mematikan jutaan mamalia
ikan, burung, dan reptil
50 miliar botol plastik
mengotori wajah bumi
dan planet ini seakan kuburan untuk mati
laut dan sungai teraniaya
dari San Francisco hingga Hawaii
plastik telah jadi bencana
bahkan plankton tak bisa hidup karenanya
50 miliar botol plastik
500 milyard kantong plastik
meneror bumi
lewat gaya hidup kita setiap hari
SAMPAH PLASTIK DAN ANAK SEKOLAH
pabila guruguru merasa
pendidikan kebersihan lingkungan
bukan pelajaran penting diajarkan di sekolah
ketika itu bumi kian terancam bencana sampah
anakanak sekolah akan merasa
membuang sampah plastik bekas tempat
makanan atau minuman ke jalanjalan, dan selokan
bukan tindakan berbahaya
lihatlah di manamana, anakanak sekolah
melemparkan kantong dan botol plastik seenaknya
mereka tak merasa bersalah, mereka tak mengira
hal itu tindakkan bodoh mengancam kehidupannya
barangkali di sekolahsekolah kita, guruguru merasa
pendidikan kebersihan lingkungan
pendidikan mencintai alam tempat hidup kita
tak lebih penting dari matematika, biologi, kimia,
ekonomi, bahasa, sejarah, dan olah raga
apalagi agama
barangkali guruguru mengira masa depan manusia
hanya bergantung pada ilmuilmu pelajaran sekolah
yang punya ujian nasionalnya
sedang, pengajaran mencintai alam dan lingkungan
bukan ilmu istimewa untuk mendidik anakanak kita
menjadi manusia
ketika selekon tersumbat, ketika sungaisungai meluap
dan banjir menggenang dan melumat lingkungan
kita justru mempersalahkan hujan dan cuaca
lalu mengeluh pada Tuhan untuk mengakhirinya
padahal setiap hari kita sendiri menanam bencana
lewat sampah plastik yang kita buang ke manamana
karena sejak dulu pula sekolah tak mengajari kita
cara sebenarnya mencintai dan menghargai alam semesta
KEBIJAKAN KAMPRET
pemerintah mengira
kebijakan kantong plastik berbayar
di toko, mall, dan supermarket
menjawab perkara sampah
justru ini kebijakan kampret
persoalan sampah plastik kian mampet
toko, mall, dan supermarket
mendapatkan peluang lebih
meraih untung masuk dompet
bila dulu mereka menghemat kantong plastik
sebagai service, kini mereka lebih leluasa meringsek
karena selain tak rugi, malah untungnya kian lengket
setiap barang dibungkus kantong tipis
lalu digambung di kantong tebal hingga dua lapis
jangan heran produksi sampah bukannya menipis
malah naik berlapislapis
kebijakan ini benarbenar bikin pipis!
(*)
Penulis: Iverdixon Tinungki (Redaktur Barta1.com)
Barta1.Com


Discussion about this post