Manado, Barta1.com – Akhir-akhir ini, geliat motor klasik bukan sekadar soal gaya atau nostalgia semata. Di kalangan anak muda Manado, motor klasik kini menjadi medium kreatif dalam menjalankan usaha kecil, bahkan menjadi ikon dalam geliat UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah). Salah satu contohnya datang dari sepasang kekasih muda, Ijal Katili dan Mutiara Makawusi, yang memadukan semangat kewirausahaan dan sentuhan romansa lewat usaha yang mereka namakan “Legenda Cendol.”

Dari namanya saja, usaha ini sudah memikat. Ijal, sang penggagas, menyebut bahwa penamaan Legenda Cendol berasal dari motor klasik andalannya, Honda Astrea Legenda. “Saya jualan cendol dengan konsep ala-ala street kopi, tapi cendol yang dibawa keliling pakai motor klasik. Supaya orang gampang ingat, saya beri nama Legenda Cendol,” katanya sambil tersenyum.

Motor klasik itu pun dimodifikasi secara fungsional. Di bagian belakang, mereka menambahkan boks kayu khas berukuran kecil, yang disesuaikan dengan kebutuhan menyimpan bahan dasar cendol seperti santan, gula merah, dan es batu. Penampilan motor mereka pun menarik perhatian di tengah hiruk-pikuk Kota Manado.

Usaha cendol ini sejatinya bukan baru bagi Ijal. Ia sempat menjalankan bisnis serupa sebelumnya, namun sempat terhenti karena beberapa kendala. Kini, bersama Mutiara, ia kembali membangun usaha tersebut dengan konsep yang lebih menarik. “Sebenarnya ini usaha yang simpel, tapi kalau dikemas dengan baik bisa sangat menguntungkan. Apalagi dengan konsep klasik, orang yang tadinya nggak kenal bisa jadi kenal bahkan berteman,” ujarnya.
Legenda Cendol tak menetap di satu lokasi. Mereka mengusung konsep “jualan berpindah” atau mobile selling. Lokasi mangkal mereka berpindah-pindah, tergantung situasi dan peluang. Namun, bagi pelanggan yang ingin tahu keberadaan mereka, cukup mengikuti akun Instagram @LegendaCendol. “Kami aktif update di sana. Jadi bisa tahu hari ini kami jualan di mana,” ujar Mutiara.
Mereka juga memiliki jadwal kerja yang teratur dan saling berbagi tugas. Ijal, yang juga bekerja paruh waktu, biasanya mengisi slot pagi hingga pukul 13.00 WITA, lalu dilanjutkan oleh Mutiara hingga sore. Tempat mangkal mereka pun cukup strategis, seperti di depan sekolah atau toko Gramedia Sam Ratulangi, dan di akhir pekan sering terlihat di kawasan wisata Pantai Karangria, Boulevard Manado Utara.
Menariknya, dari hasil berjualan cendol, Ijal punya manajemen keuangan yang rapi. “Setiap hari, kami usahakan menyisihkan 50% untuk tabungan, 25% untuk modal putar, dan 25% sisanya untuk kebutuhan harian. Tapi kalau sedang tidak ada kebutuhan mendesak, bisa sampai 75% ditabung,” jelasnya.
Kisah Legenda Cendol bukan sekadar soal cendol atau motor klasik. Ini tentang bagaimana kreativitas, cinta, dan kerja keras bisa menyatu dalam satu gerobak kecil di atas dua roda tua. Sebuah usaha yang sederhana, namun punya semangat besar untuk terus melaju di jalanan Kota Manado. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post