Manado, Barta1.com – Suasana Focus Group Discussion (FGD) pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Kepemudaan yang digelar di Ruang Paripurna DPRD Provinsi Sulawesi Utara, Rabu (2/7/2025), memanas setelah pernyataan kontroversial dari Natanael Pepah, perwakilan HIPMI Sulut.
FGD yang diselenggarakan oleh Panitia Khusus (Pansus) Kepemudaan DPRD Sulut ini sejatinya menjadi ruang aspirasi berbagai elemen, termasuk organisasi yang tergabung dalam Cipayung Plus. Namun, komentar Pepah soal “dramatisasi” dari para aktivis menuai reaksi keras.
“Perkenalkan saya Natanael Pepah dari HIPMI Sulut. Saya melihat para aktivis ini mendramatisir. Padahal, poinper poin, butir per butir sebenarnya sudah jelas. Kenapa harus mendramatisir lagi? Apa kalian tidak melihat bahwa butir A dan B sudah jelas?” ujarnya dalam forum tersebut.
Pernyataan itu langsung mendapat tanggapan dari sejumlah perwakilan organisasi kepemudaan.
Sekretaris Umum Badko HMI SulutGo, Radinal Muhdar, menyatakan ketidaksetujuannya. “Saya berlatar belakang sosiologi, khususnya sosiologi kesehatan. Dalam ilmu yang saya pelajari, orang yang mudah terpengaruh itu biasanya karena dua hal: otaknya kosong atau perutnya kosong,” katanya.
Ia pun menolak anggapan bahwa para aktivis tengah ‘mendramatisir’. “Forum ini adalah ruang diskusi, dan dinamika itu wajar terjadi. Saya tidak sepakat dengan pernyataan Bang Pepah.”
Hal senada disampaikan Ketua DPD IMM Sulut, Moh. Fikli Olola. Ia menyebut tudingan dramatisasi justru menunjukkan kemalasan berpikir. “Mengatakan aktivis mendramatisir adalah bentuk kemalasan berpikir,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua DPD GMNI Sulut, Taufik Poli, menyayangkan narasi yang dibangun Pepah. Menurutnya, masukan yang diberikan oleh GMNI justru menyasar isu-isu strategis pemuda Sulut.
“Kami tidak mendramatisir. Kami bicara soal pengangguran, informalisasi kerja anak muda, serta akses pendidikan yang masih jauh dari harapan. Itu hal-hal konkret yang perlu dijawab Ranperda ini,” kata Poli.
Ia juga menilai pernyataan Pepah bisa saja dilihat sebagai candaan. “Anggap saja itu lucu-lucuan. Mungkin dia sedang bercanda,” tambahnya.
FGD ini dipimpin oleh Ketua Pansus Ranperda Kepemudaan, Eldo Wongkar, didampingi oleh Wakil Ketua Angel Wenas dan Sekretaris Dea Lumenta. Forum dihadiri berbagai elemen pemuda yang berupaya memberi kontribusi kritis terhadap arah kebijakan kepemudaan di Sulawesi Utara. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post