Oleh: Iverdixon Tinungki
Puitika adalah risalah kuno tentang puisi dan acting. Dan, di sanalah, di ajang lomba Cipta Puisi bernafas Kristiani itu kami melihat bagaimana kata-kata dipilih dan disusun secara khas untuk memunculkan efek keindahan dan kabar baik dari Injil Kristus.
Bahkan di pekan yang mengasyikan itu, kami juga bersua estetika vocal, gestik, gestur meresonansikan sebuah visual artistik di atas panggung baca puisi.
Begitu, selama sepekan sejak 1 hingga 8 Agustus 2026, saya (penulis), Pitres Sombowadile, Denni Pinontoan dan Aldes Sambalao dia daulat menjadi pembicara dan Juri dalam workshop serta lomba Cipta Baca Puisi yang diselenggarakan Komunitas LCBP PKB GMIM 2026.
Lalu, saat lampu-lampu pelataran Gereja GMIM Sentrum Bitung belum sepenuhnya redup tatkala gema bait-bait puisi mengetuk sudut-sudut ruang, bagi saya, ada sesuatu yang terasa teramini yaitu: Rumah ibadah itu tak sekadar menjadi tempat menaikkan doa-doa terstruktur, melainkan sebuah gelanggang kultural tempat manusia menumpahkan gumul jiwa dan estetikanya.
“Menyuarakan kebaikan, perdamaian, cinta kasih, kemanusiaan, dan lingkungan lewat puisi adalah karunia Tuhan yang ditalentakan kepada para penyair,” tutur Penatua Reza Rumambi, –Sekretaris Komisi PKB Sinode– saat berdiri dipodium memberikan sambutan mewakili Komisi Pria Kaum Bapa GMIM.
Bagi Komisi PKB Sinode, kata dia lagi, karya puisi bukan hiasan tanpa makna, melainkan bagian utuh dari misi pelayanan gereja dalam memelihara peradaban dunia.
Dukungan serupa mengalir dari Ketua Komisi PKB GMIM, Penatua Maurits Mantiri. Sebelum panggung perlombaan resmi digulirkan, ia menitipkan sebuah pesan lugas namun penuh bobot etik. Ia berharap ajang ini menjadi wadah yang tulus, bukan sekadar etalase artifisial.
“Bersyukur saat ini Komisi PKB menyiapkan wadahnya agar lebih bernilai untuk kemuliaan nama Tuhan. Aturlah agar estetika perlombaan terjaga dengan rapi, bukan artifisial,” ujar Mantiri.
Di sudut juri, Pitres C. Sombowadile, mengamati dengan rasa haru. Bagi Pitres, perhelatan ini bukan sekadar ajang piala dan angka.
“Selamat yang juara dan bagi kita semua yang telah membangun komunitas kultural cipta dan baca puisi PKB. Saya bersukacita bisa terlibat dalam gerak awal ini,” tulisnya dalam catatan juri.
Demikian di gereja tua Sentrum Bitung malam itu, sebuah gerakan kultural baru saja mengetuk pintu sejarah pelayanan.
000
Sementara di luar sekat-sekat dogmatis, sebuah kata dalam puisi memiliki nyawa yang mandiri. Ia tidak sekadar berfungsi sebagai label untuk menamai benda atau alat komunikasi rutin harian, melainkan entitas aktif yang merajut cara manusia mengalami realitas dan menembus lorong-lorong rahasia di dalam batin.
Dalam ruang kedap di balik pembacaan puisi, kata-kata yang dipilih para penyair menyimpan daya aksi—sebuah illocutionary dan perlocutionary force—yang sanggup menggetarkan kesadaran, mengubah suasana jiwa, bahkan meretakkan kebekuan sosial pendengarnya.
Ada 12 orang peserta Cipta Puisi yaitu: Yorry Kalangi, Welly Mataliwutan, Boby H. Najoan, Steven H. Goni, Ronald Rambitan, Johnly Z Tumbelaka, Timmerman Ambat, Johny Lumempow, Alan Talumepa, Heard C.C. Runtuwene, Arthur Supit, Meidy Y Tinangon.
Bagi saya, mereka datang dalam semacam gambaran 12 rasul awal yang dipilih Yesus untuk menyampaikan firman lewat puisi.
Mereka memilah kata dengan teliti. Dari kata-kata biasa yang dipakai sehari-hari di pasar atau jalanan, mereka menyusunnya menjadi struktur yang memadat. Di dalamnya bertumpuk lapis-lapis arti: kritik terhadap ketidakadilan, cermin bagi kegagalan diri, hingga pergulatan iman yang sunyi dan rasa cinta terhadap tanah air.
Melalui metafora yang tajam, rima yang bergelombang, dan lambang-lambang yang puitis, panca indra pembaca dipaksa terbangun.
Sastra mengingatkan kita bahwa kata-kata yang diucapkan dengan jujur sanggup menjadi tempat perlindungan sekaligus martil yang memecahkan kebekuan hidup.
Ketika estetika dijaga dari kepalsuan yang artifisial, setiap kata yang meluncur dari podium bait puisi menjadi ruang perjumpaan antara yang fana dan yang ilahi.
000
Barangkali harus saya sebutkan di sini, sastra Indonesia tidak pernah berdiri sepenuhnya sekuler.
Di tengah riak besar sastra profetik Nusantara, puisi bernapas Kristiani hadir menempati ruang partikular yang memperkaya khazanah estetika transendental bangsa. Itulah setidak refleksi dari ucapan Pnt. Reza Rumambi saat memberi sambutan pada giat puisi di Gereja GMIM Sentrum Bitung itu.
Sosok Kristus dan nilai-nilai Injili tidak pernah terkunci di dalam bilik gereja; ia melompati batas-batas iman, diolah oleh para empu sastra lintas keyakinan.
Sejarah mencatat sejak pelopor awal seperti J.E. Tatengkeng, Marius Ramis Dayoh, hingga generasi Remmy Syalado (Yapy Tambayong), mereka telah menenun warna keimanan Kristen dengan latar alam dan rasa takjub pada penciptaan dalam sastra.
Jejak itu juga mekar secara universal di tangan para maestro. Chairil Anwar menulis “Isa”, W.S. Rendra memahat “Balada Penyaliban”, dan Sitor Situmorang terus-menerus menggeluti simbol salib.
Bagi mereka, figur Kristus bukan dogma yang beku, melainkan metafora kemanusiaan yang karam, penderitaan yang membebaskan, dan pergumulan eksistensial manusia di tengah zaman yang riuh.
Hadirnya tema-tema religius Kristiani dalam bentang sastra modern menjadi bukti nyata akan dialog yang hidup antara pengalaman rohani personal dan pergumulan sosial-historis bangsa.
Sastra Kristiani menolak anggapan bahwa estetika modern harus menanggalkan nilai ketuhanan. Sebaliknya, ketuhanan hadir secara konkret, menjadi cermin introspeksi bagi siapa saja yang bersedia membaca dengan hati terbuka.
000
Dan hari itu, di panggung baca puisi GMIM Sentrum Bitung, saat puluhan lelaki melangkah maju satu per satu, dari balik profesi dan keseharian mereka yang keras, bait-bait puisi menjadi sarana pengampunan dan peluapan batin.
Bagi orang percaya, puisi Kristiani bekerja sebagai media pujian yang mirip dengan riak Mazmur kuno. Ia adalah alat penginjilan yang lembut, sumber penenang batin saat hidup menghimpit, dan terapi jiwa di tengah sesaknya beban mental.
Menulis atau membacakan puisi menjadi sebuah proses katarsis—sebuah penyucian emosi untuk membuang kesedihan, kemarahan, dan kecemasan yang kerap tersembunyi rapat di balik ketegaran seorang pria.
Ketika kata-kata ditata secara jujur, ketegangan mereda. Perasaan yang tak sanggup diuraikan oleh percakapan biasa mendadak luluh di atas lembaran kertas. Lebih dari sekadar pelampiasan emosi, sastra melatih kepekaan empati.
Ia mengajak para pembacanya untuk peduli pada nasib orang lain yang terpinggirkan, memberi petunjuk moral, dan merekam identitas budaya agar tetap berdenyut.
Di ujung perhelatan itu, para pria yang berdiri di mimbar Bitung tidak hanya selesai membaca puisi. Mereka telah membiarkan jiwa mereka dibersihkan oleh kekuatan kata, membawa pulang keberanian baru untuk menjadi teladan kasih di tengah keluarga dan masyarakat.
Akhirnya ajang Workshop, Lomba Cipta Baca Puisi dari Komunita PKB GMIM 2026, bagi saya bukan semata cerita kemenangan orang perorang, tapi lebih elok dilihat sebagai peristiwa iman yang berangkat dari kesadaran estetika.
Terima kasih untuk 20 peserta Lomba Baca Puisi yaitu: Allan Talumepa, Michael Soroinsong, Steven Goni, Handry Mangengke, Yorry Kalangi, Welly Mataliwutan, Vecky Sentinuwo, Michael Sagay, Yani Sumilat, Victor Liow, Roland Weol, Fanny Walangitan, Elias Eman, Adri Marthinus, Billy Katuuk, Ronny Hariawan, Novie Runtukahu, Boby Najoan, Vecky Timbuleng, Betel Tongka.
Sebanyak 20 peserta ini telah menjadi peletak awal yang baik untuk berkembang ke depan.
Terima kasih yang tulus untuk Ketua PKB, Penatua Jensen Lomban, serta seluruh anggota jemaat, Pelsus dan Badan Pekerja Majelis Jemaat GMIM Sentrum Bitung yang telah memfasilitasi kegiatan serta pelayanan makan minum dan tak lupa ole-ole Biapong Tuna yang enak untuk kami sebagai Juri.
Terima kasih special untuk TIM Kerja Komunitas LCBP PKB GMIM 2026. Apa yang sudah Tim Kerja lakukan kiranya semata menjadi cerita kemuliaan bagi Tuhan. Salam kasih selalu untuk semua.(*)

Discussion about this post