Oleh: Dra. Endah Pangestuti Haryono, M.Ed
Dosen Politeknik Negeri Manado
Sulawesi Utara (Sulut) dikenal sebagai daerah dengan tenaga kerja yang tangguh, gigih dan terampil.
Tak sedikit putra-putri daerah ini yang merantau ke luar negeri untuk mencari nafkah.
Menjadi pekerja migran di berbagai sektor mulai dari perhotelan, kapal pesiar, konstruksi hingga pekerja rumah tangga.
Keahlian teknis mereka tidak perlu diragukan lagi. Namun, ada satu hal yang kerap jadi batu sandungan di negeri orang: kemampuan berbahasa Inggris.
Banyak cerita datang dari pekerja migran asal Sulut yang di lapangan harus bekerja lebih keras karena terkendala komunikasi.
Padahal, dalam dunia kerja internasional, bahasa adalah kunci pertama untuk memahami instruksi, berinteraksi dengan atasan, hingga menghadapi kondisi darurat.
Skill atau keahlian teknis yang sudah baik, akan lebih efektif bila ditopang kemampuan berbahasa yang memadai. Kenyataannya, persaingan global semakin ketat.
Negara-negara tujuan kerja kini mengutamakan tenaga kerja yang tak hanya cekatan, tetapi juga cerdas berkomunikasi.
Dengan penguasaan bahasa Inggris, pekerja migran bisa naik kelas: dari tenaga kasar menjadi tenaga terampil dengan gaji lebih tinggi.
Mereka juga punya peluang promosi atau kontrak kerja lebih panjang karena dinilai mampu berkoordinasi dengan tim multinasional.
Sebagai pendidik di institusi vokasi, saya melihat urgensi ini sebagai tantangan sekaligus
peluang.
Politeknik Negeri Manado (Polimdo) misalnya, telah menyiapkan kurikulum Bahasa Inggris Teknik yang aplikatif, menyesuaikan dengan konteks kerja lintas negara.
Namun, upaya ini tidak cukup hanya di bangku kuliah. Perlu ada sinergi antara pemerintah daerah, lembaga pelatihan kerja, dan keluarga calon pekerja migran untuk mendorong anak-anak muda belajar bahasa Inggris sejak dini.
Solusi ke depan harus konkret: menambah jam praktik bahasa, mendirikan pusat pelatihan bahasa di desa-desa kantong pekerja migran, serta menyediakan tenaga pengajar bahasa yang kompeten hingga di tingkat komunitas.
Selain itu, membangun kerja sama dengan agen penyalur resmi pun sangat penting agar calon pekerja migran benar-benar siap secara teknis dan linguistik sebelum berangkat. Pekerja migran adalah pahlawan devisa.
Sudah saatnya kita memberdayakan mereka tidak hanya dengan keterampilan tangan, tetapi juga kecakapan berbicara.
Karena pada akhirnya, skill saja tak cukup melainkan bahasa Inggris lah yang akan menentukan sejauh mana nasib pekerja untuk bisa bersaing dan sejahtera di negeri orang lain. (*)


Discussion about this post