Manado, Barta1.com – Sarfan Haliku, seorang pemuda yang mengunjungi lorong kesunyian sebagai gubuk penghidupan, tempat berlindung dari dinginnya malam, teriknya matahari, dan percikan air hujan, Kamis (22/05/2025).

Sekilas menatap kehidupan itu, Sarfan hanya mampu menggelengkan kepala, tak kuasa menahan air mata. Hatinya perih menyaksikan beberapa keluarga korban penggusuran yang diduga dilakukan oleh PN Manado terlihat berdesakan di sebuah lorong sempit yang mereka sebut Posko Aliansi Keraton Bersatu.
Sarfan menyebut bahwa ia datang bersama temannya Aim Lihawa, yang menjadi bagian dari pengurus BPkel Oi Hidup Manado untuk membawa sedikit berkah bagi kebutuhan masyarakat malam ini sembari berbagi cerita dan mendengarkan kisah dari seorang bapak, yang rumahnya juga ikut digusur.
“Bapak itu bercerita bahwa mereka telah lama tinggal di sini, tepatnya di Jalan Sam Ratulangi No. 45, Kelurahan Ranotana, Kecamatan Wenang, Kota Manado. Namun tiba-tiba rumah mereka digusur, tanpa ada ganti rugi dari pemerintah,” ujar Sarfan, menyampaikan kembali kesaksian sang warga.
Sampai saat ini pun, kata Sarfan, para korban masih kesulitan mendapatkan tempat tinggal yang layak. Bantuan atau donasi dari pemerintah pun nyaris tak kunjung datang.
“Untuk sementara, mereka bertahan hidup dengan apa yang ada, yaitu dari barang-barang yang sempat diselamatkan saat penggusuran terjadi. Sayangnya, banyak barang berharga yang tak sempat dibawa,” jelasnya.
Melihat kondisi ini, Sarfan berharap pemerintah segera memberikan perhatian yang layak bagi masyarakat di lokasi tersebut. Ia mengingatkan, mereka adalah warga negara Indonesia yang seharusnya dilindungi, sebagaimana tercermin dalam sila kelima Pancasila: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
“Teruntuk itu, mau mengucapkan banyak terima kasih kepada sesama anggota Oi Hidup Manado, yang sudah membantu untuk memberikan sedikit berkahnya kepada masyarakat korban Penggusuran,” pungkasnya. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post