Manado, Barta1. com – Sofiana Kesya Ishak (15) adalah salah satu anak perempuan yang suaranya terdengar nyaring di antara anak-anak lainnya. Setiap hari Sabtu, sejak pukul 13.00 hingga 15.30 WITA, suaranya menggema dari lantai 3 Gedung Pasar Bersehati, tepatnya di Jl Nusantara no 17, Calaca, Kecamatan Wenang, Kota Manado, Sulawesi Utara.

Suara itu ternyata berasal dari anak-anak yang sedang bernyanyi lagu Summer Camp, sebagai pembuka sebelum mengikuti kelas yang diselenggarakan oleh Komunitas Dinding Manado. Dengan hanya berbekal terpal dan tikar, serta perlengkapan sederhana seperti meja belajar dan alat tulis seadanya, semangat Sofiana dan anak-anak lainnya tak surut untuk tetap belajar dan menimba ilmu.

Seperti biasanya, pembelajaran yang dikenal dengan metode non-formal ini dilakukan secara lesehan dan terbagi dalam tiga kelas, yaitu kelas PAUD, kelas kecil, dan kelas besar. “Saya dan anak-anak lainnya diajarkan oleh kakak-kakak relawan tentang pembelajaran dasar, seperti membaca, menulis, menghitung, berbahasa Indonesia, berbahasa Inggris, membuat kreativitas, dan ditutup dengan kelas mengaji,” ungkap Kesya saat diwawancarai Barta1.com di sekitar Pasar Bersehati Manado, Sabtu (10/05/2025).

“Untuk itu, peran kakak-kakak relawan Dinding Manado sangat membantu kami, anak-anak yang keberadaannya di sekitar Pasar Bersehati. Sebagian besar dari kami tidak bersekolah dan kerap menerima hinaan dari beberapa orang. Bahkan, ada yang menyebut kami anak terlantar dan kurang kasih sayang dari orang tua,” ungkap Sofiana dengan mata yang tampak berkaca-kaca.
Mendengar berbagai hinaan tersebut, siswi MAN Model 1 Manado ini bertekad untuk menjadi orang yang sukses di masa depan, agar tidak ada lagi yang meremehkan atau menyebut mereka anak-anak terlantar. “Di antara kami yang ada di Pasar Bersehati ini, harus ada yang sukses dan berhasil — dan saya akan berusaha untuk menjadi salah satunya,” tegasnya.
Relawan Komunitas Dinding Manado, Victor Edwin Ohoiwutun, terlihat bersemangat mengatur kesiapan anak-anak untuk mengikuti pembelajaran, sekaligus mengabdikan diri tanpa menerima imbalan sejak tahun 2018.
“Iya, saya bergabung di Komunitas Dinding Manado sejak tahun 2018. Saya hadir karena keterpanggilan untuk memberikan waktu, pikiran dan tenaga bersama teman – teman relawan untuk mengajarkan anak – anak yang ada di sini, dengan tujuan membentuk karakter anak, memerangi buta huruf, serta mengasah minat dan bakat mereka,” ungkap Viktor.
Mengingat kembali, tambah seorang alumni dari Universitas Sam Ratulangi Manado, bahwa anak-anak di Pasar Bersehati tidak semuanya mengenyam pendidikan formal. Bahkan, pada tahun 2018 saat pertama kali bergabung untuk mendidik mereka, hampir 70% anak-anak di sana tidak bersekolah.
“Ada beberapa faktor mengapa mereka tidak mengenyam pendidikan formal. Pertama, kurangnya pemahaman dari para orang tua mengenai pentingnya sekolah formal bagi masa depan anak-anak mereka. Kedua, sebagian besar orang tua di sini menganggap bahwa ketika anak-anak sudah bisa berjualan, itu sudah menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Mereka merasa anak-anak sudah cukup berkontribusi untuk keluarga,” jelasnya.
“Kedua, tanpa adanya administrasi seperti Kartu Tanda Kependudukan, Kartu Keluarga, akta kelahiran, atau karena orang tua mereka tidak menikah secara resmi, atau pun sudah menikah namun lebih dari satu kali, hal ini sangat berdampak pada masa depan anak-anak,” tutur Ketua Komunitas Dinding Manado periode 2022–2023.
Pemuda berkulit sawo matang itu melanjutkan, bahwa kehadiran relawan Dinding Manado bertujuan untuk mencegah anak-anak tersebut agar tidak salah jalan, seperti terlibat dalam tindakan premanisme.
“Namun, Alhamdulillah, puji syukur, selama ini tidak ada anak-anak bimbingan kami yang tersandung masalah hukum, baik yang masih mengikuti pembelajaran maupun yang sudah dewasa dan tidak lagi mengikuti pembelajaran karena kesibukan mereka bekerja, seperti di rumah makan atau berjualan di pasar,” jelasnya.

Salah satu staf Perpustakaan De La Salle Manado menjelaskan bahwa sebelumnya terdapat sekitar 100 anak binaan dalam program mereka. Namun, seiring bertambahnya usia, banyak dari anak-anak tersebut mulai fokus pada pekerjaan sampingan karena keterbatasan akses pendidikan. Saat ini, jumlah anak yang masih terdata hanya 43 orang. Dari jumlah tersebut, 32 anak sudah bersekolah secara formal, sementara 11 lainnya sebelumnya belum mengenyam pendidikan.
“Berkat upaya para relawan dari Komunitas Dinding Manado, tiga dari sebelas anak tersebut kini sudah bisa bersekolah. Hal ini dimungkinkan setelah relawan membantu proses administrasi dengan menginisiasi agar data anak-anak ini dimasukkan ke dalam Kartu Keluarga kerabat terdekat. Dengan begitu, akta kelahiran mereka dapat diterbitkan, sehingga mereka bisa didaftarkan ke sekolah terdekat,” terang dia.
Viktor, selaku Humas Dinding Manado, menambahkan bahwa jika administrasi anak-anak ini sudah lengkap, sebetulnya pendidikan formal bukan lagi menjadi persoalan utama. Tantangan terbesarnya justru terletak pada mengubah pola pikir para orang tua, yang membutuhkan pendekatan emosional dan waktu yang panjang. Oleh karena itu, kolaborasi dengan pihak pemerintah menjadi sangat penting.
Komunitas Dinding Manado hingga hari ini terus berupaya melakukan pendekatan kepada keluarga-keluarga ini agar anak-anak mereka bisa mendapatkan hak yang sama dalam pendidikan. “Perlu diketahui bahwa sebagian besar orang tua anak-anak di Pasar Bersehati ini merupakan pendatang dari daerah Gorontalo. Mereka telah menetap bertahun-tahun di Manado, sebagian besar dengan kondisi ekonomi yang sangat terbatas. Ada yang masih menyewa tempat tinggal, bahkan ada seorang ibu yang harus bertahan hidup di bawah Jembatan Soekarno bersama anak-anaknya,” ujar Viktor.
“Sejak tahun 2012, perhatian pemerintah terhadap Dinding Manado lebih banyak terfokus pada pemberian izin penggunaan tempat untuk kegiatan belajar-mengajar bagi anak-anak. Namun, hari ini, perhatian itu mulai hadir, semoga bukan hanya sekedar berkunjung saja,” imbuh pemuda berdarah Kei itu.
Baru-baru ini, tambah Viktor, lokasi pembelajaran Dinding Manado telah dikunjungi oleh berbagai instansi pemerintah, termasuk Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinas P3A), Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil), serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Diknas) Kota Manado. Kepala lingkungan setempat juga turut hadir dalam kunjungan tersebut. Mereka melakukan pendataan terhadap orang tua dan anak-anak yang belum bersekolah dan tidak memiliki administrasi kependudukan, dengan tujuan untuk memberikan bantuan hingga anak-anak bisa mengenyam pendidikan formal. “Ini merupakan langkah yang baik.”
Dalam kegiatan itu, Pemerintah Kota Manado melalui Dinas P3A yang diwakili oleh Donny Rakian dan Frieke Lejlej, serta dibantu oleh para mahasiswa magang yang juga memberikan pendampingan dan edukasi kepada anak-anak mengenai perlindungan serta hak-hak anak.
“Hari ini, selain melakukan pendampingan dan sosialisasi kepada anak – anak, kami juga bertemu dengan pengurus dari Komunitas Dinding Manado untuk mendapatkan data yang lengkap kedua orang tua beserta anak-anaknya, baik yang tidak bersekolah maupun tidak memiliki administrasi, yang kemudian nantinya akan diserahkan kepada Dukcapil Manado, berikutnya data-data anak akan dimasukan ke Diknas agar mereka yang tidak bersekolah, secepat bisa bersekolah,” terang Donny.
Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kota Manado, Erwin Kontu, melalui Kepala Bidang Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan, Julia Sanger SSTP, menyatakan komitmennya untuk segera melakukan pendampingan dalam pembuatan dokumen kependudukan bagi anak-anak dan orang tua yang membutuhkan.
“Hari ini kami melihat langsung sekaligus melakukan observasi terhadap keadaan anak-anak beserta orang tua yang bisa ditemui. Sambil menunggu data lengkap dari para pendamping, kami sudah bersiap. Begitu data lengkap, kami akan segera turun untuk menyelesaikan seluruh administrasi yang dibutuhkan, agar hak anak-anak ini untuk bersekolah bisa segera terpenuhi,” pungkas Sanger. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post