Manado, Barta1.com -Anggota DPRD Provinsi Sulut, Yongkie Limen di depan Nelayan Karangria Manado mengatakan berkaitan dengan penolakan reklamasi ini bukan dia berdiam, cuman pribadi sendiri tak mau diekspos.
“Setiap hari saya menelfon Amir Liputo dan mengatakan bagaimana dengan harga diri kita ini, mau taru di mana idealis kita ini. Bapak-Ibu yang ada di sini, anggota DPRD Sulut dapil Manado ada 8 yang terpilih, tapi hanya 2 orang yang mau bertemu dengan Bapak-Ibu di sini,” ungkap Yongkie.

Dirinya menyebut tidak anti dengan pembangunan kota.Tapi satu, membangun untuk nilai tambah bagi masyarakat. Jika tidak ada nilai tambah, ia paling depan untuk menolak.
“Di Sindulang sana saya sampaikan ke nelayan kalian jangan berkelahi, tapi tahan saja alat jangan sampai mereka bekerja. Karena apa ? ada tusa dalam karung,” ujarnya.

Lanjut Yongkie, pada rapat sudah ia sampaikan kepada Ketua DPRD Provinsi Sulut, Fransiskus Andi Silangen stop gerakan-gerakan zaman dahulu, ketika terjadi reklamasi ditutup dengan seng, saat masyarakat datang untuk bertanya diperhadapkan dengan Polri maupun TNI.
“Kedua, saya mau meminta kepada pimpinan dan angota DPRD Sulut stop menjadikan Kota Manado ini menjadi Kota mati, karena apa ? mulai dari Boulivard hingga Marina apa nilai tambahnya bagi masyarakat, tidak sama sekali,” tegasnya.
Ia menambahkan, banyak dari luar daerah datang ke Kota Manado untuk membeli ruko, tidak berselang lama, kemudian ditutup. Di situ tidak ada nilai tambah untuk daerah, termasuk masyarakat, jadi buat apa untuk membangun di sini.
“Mereka yang melakukan reklamasi ini dekat dengan petinggi-petinggi, jadi mudah untuk mendapatkan izin. Sedangkan kita berjuang dengan kemuliaan Tuhan,” terang Yongkie sembari disambut tepuk tangan oleh masyarakat yang tergabung dalam himpunan nelayan Tongkol kelurahan Bitung Karangria Manado.
Di tempat yang sama, Amir Liputo, yang juga anggota DPRD Provinsi Sulut dapil Kota Manado meminta doa masyarakat nelayan agar anggota DPRD diberikan penguatan dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi oleh masyarakat Karangria ini.
“Sebab saya yakin masalah seperti ini. Ada jalan menuju Roma, yang pasti mencari jalan keluar yang terbaik. Kami tidak anti pengembang, tapi pengembang tidak boleh menyusakan masyarakat setempat. Untuk itu, jangan ada dusta di antara kita,” tuturnya.
Pada pemberitaan sebelumnya juga, masyarakat nelayan juga menolak adanya reklamasi di Pantai Karangria Manado.
Roy Runtuwene, salah satu nelayan Pantai Karangria Manado dengan penuh semangat menyampaikan aspirasinya kepada pimpinan dan anggota DPRD Provinsi Sulut, terkait persoalan reklamasi.
“Ketika pantai karangria ini ditimbun dampaknya sangat besar, yang pertama ikan-ikan di sini akan puna, secara bersamaan nelayan kecil seperti kami ini akan tergusur.Tolong kami Bapak, kehidupan kami bergantung dengan laut yang indah ini,” pinta ketua Himpunan Nelayan Tongkol Karangria Manado ini di depan ketua DPRD Provinsi Sulut, Fransiskus Andi Silangen, yang saat itu didampingi oleh anggotanya Berty Kapojos, Amir Liputo, Yongkie Limen, Tonao Jangkobus dan James Tuuk.
Banyak sekali nelayan melalui hasil laut ini, kata Roy bisa menyekolahkan anak-anaknya sampai perguruan tinggi, bahkan ada yang menjadi Polri, Jaksa, TNI bahkan Pendeta. “Tapi, semuanya itu tidak kami banggakan, yang kami banggakan itu adalah Allah kami yang menciptkan laut yang indah ini,” ujarnya.
“Kami nelayan di sini akan sangat kecewa ketika aspirasi ini tidak dilanjutkan oleh Bapak-Bapak Dewan,” jelasnya.
Penasehat Nelayan Tongkol, Veki Caroles, menyebut berkaitan dengan kehidupan nelayan di sini dirinya banyak tahu, karena kurang lebih 10 tahun berada di sini.
“Saya ingin menyampaikan berkaitan dengan reklamasi ini ada dampak yang bisa digantikan, ada juga dampak yang tidak bisa digantikan. Apa yang tidak bisa digantikan, yaitu hidup di perairan mata kaki dengan kedalaman sampai 25 meter, di situ ada banyak spesies laut yang hidup,” jelasnya.
Kemudian di tempat itu, menurut Veky, terjadi titik timbunan, yang tentunya mahkluk-mahkluk laut ini tidak akan hidup lagi di spesiesnya, kemudian akan puna.
“Apakah ini tidak akan mengubah ekosistem laut kita, sebab mahkluk yang diciptakan Tuhan, sekecil apapun itu memiliki andil untuk menyeimbangkan alam ini,” terangnya.
Ketika spesies laut ini sudah musnah di perairan, ke depannya nanti apa yang nelayan dapati. “Jika ada cerita surat kabar ada perijinan, yang katanya kami menandatangani karena mengikuti sosialisasi. Di dalam sosialisasi itu, kami menyampaikan akan dampak terhadap lingkungan dan tidak menyatakan dukungan akan reklamasi ini,” tegasnya.
“Saat itu kita bicarakan persoalan dampak lingkungan, karena yang terasa adalah kita semua masyarakat nelayan dan pesisir. Dan kami sangat jelas menolak adanya reklamasi ini, kemudian kenapa masih akan dilakukan,” imbuhnya.
Dia kemudian menceritakan, sebelumnya banyak nelayan yang mencari ikan di daerah selatan, ketika itu belum direklamasi. Di sana banyak jenis ikan yang bisa didapatkan.
“Saat direklamasi para nelayan sudah tidak lagi menemukan beberapa jenis ikan, yang sering meraka tangkap. Sangat terlihat mata rantai makanannya sudah putus, kemudian ikan-ikan itu berpindah di laut depan pantai Karangria ini,” kata Veky.
Dengan besarnya dampak reklamasi terhadap kehidupan sosial dan lingkungan, secara terang-terangan masyarakat nelayan dan pesisir Pantai Karangria Manado ini tidak menyetujui adanya reklamasi ini.
“Mari kita melihat dampak reklamasi ini, yang sangat mengerikan terhadap kami masyarakat di sini,” singkatnya. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post