Sesuatu yang mendalam dan menakjubkan dari calon Bupati Talaud Irwan Hasan adalah pemahaman dia tentang negeri kepulauan itu.
Calon bupati dari koalisi partai Golkar, Gerindra dan Perindo (GGP) ini mengatakan, andaikata tak dicemari fenomena korupsi, status disclaimer, kelompok-kelompok kepentingan dan fenomena oligarki, Kabupaten Talaud sejatinya telah berada di rel pembangunan yang cukup menjanjikan terjadinya kesejahteraan sejak dimekarkan pada tahun 2002.
“Dengan pengelolaan sumber daya pembangunan yang masih terbatas, di tengah kelimpahan sumber daya yang tersedia, dalam 10 tahun terakhir, pemerintah Talaud telah mampu menggenjot pertumbuhan ekonomi dari sebelumnya sebesar 4 persen menjadi 5,29 persen,” ungkap dia.
Hal tersebut kata Irwan Hasan, sangat baik. Dikatakan dia, sejak tahun 2019 hingga 2020, tren pertumbuhan ekonomi terus naik.
Salah satu penyebab menaiknya pertumbuhan ekonomi ini sebelumnya, ungkap Irwan Hasan mengutip data BPS Kabupaten Talaud adalah dampak dari keberhasilannya menggenjot sektor listrik, gas, jasa keuangan serta asuransi.
Sementara hasil penelitian terkini yang dilansir Jurnal Berkala Ilmiah Efisiensi Volume 21 Nomor 02 September 2021 menyebutkan sektor pertanian menjadi pemicu utama pertumbuhan ekonomi Talaud.
“Mayoritas penduduk di Talaud saat ini memang bergantung pada mata pencaharian sebagai petani tradisional. Ini sebabnya, sektor pertanian merupakan sektor yang menjadi pusat perhatian dalam pembangunan ekonomi di sana saat ini,” ujarnya.
Di Kabupaten Kepulauan Talaud sektor pertanian merupakan sektor yang masih menjadi andalan, hal ini didukung lahan pertanian yang masih luas dan produktif, dan sebagai sumber mata pencaharian penduduk sehingga hal tersebut membuat sektor pertanian itu menjadi sangat penting di daerah Kabupaten Kepulauan Talaud.
Kontribusi pertanian pada pembentukan PDRB atas dasar harga konstan baru mencapai 51,64 persen dengan nilai ekonomi Rp 176 milyar.
“Angka ini bisa naik signifikan bilamana pemerintah bisa membuat terobosan pasar bagi komodinas unggulan agar harga bisa naik,” kata Irwan Hasan.
Sementara sebaran area pertanian pangan seperti padi sawah dan ladang di Talaud saat ini terdapat di kecamatan Tampanamma, Melonguane, dan Rainis. Selebihnya tanaman palawija seperti jagung, ubi kayu dan ubi jalar.
Hasil perkebunan seperti pisang produksinya 1.271,3 ton terkonsentrasi di daerah Gemeh, Melonguane dan Kalongan. Hasil tanaman kelapa 11.675,6 ton terkonsentrasi di Kecamatan Beo, Nunasa. Cengkeh 113 ton terdapat di Kecamatan Beo dan Kalongan. Pala 1.618 ton di Kecamatan Kalongan. Kakao 532 ton di Kalongan dan Melonguane.
Sektor peternakan nyaris belum banyak bisa diharapkan. Jumlah populasi Sapi di Kepulauan Talaud hanya 2.126 ekor tersebar di Melonguane, Beo dan Tampanamma. Populasi Kambing dan Babi 2.678 ekor terdapat di Essang, Rainis dan Beo. Ayam Ras 13.750 ekor, Ayam Kampung 34.272 ekor dan Itik 1.835 ekor.
Kabupaten Talaud juga mengalami pertumbuhan di bidang Industri Pengolahan mencapai 1751 perusahaan dan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 3903 orang.
Sementara IPM periode 2014 – 2017 terus mengalami peningkatan dan semakin baik dari angka 66,14 di tahun 2013 menjadi 67,74 pada tahun 2017. Secara Regional, pada tahun 2017 IPM Kepulauan Talaud berada pada peringkat ke-10 dari 15 kabupaten / kota yang ada di Provinsi Sulawesi Utara.
Peringkat ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan Kabupaten Bolaang Mongondow dan beberapa Kabupaten lain di wilayah daratan Sulawesi Utara. Sementara PDRB ( ADHB ) Kepulauan Talaud pada tahun 2016 naik mencapai 1,920 triliun Rupiah.
Di sektor Pariwisata, dari data Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Talaud, sejak 2017 di Kabupaten Kepulauan Talaud bertambah 4 menjadi 18 hotel non bintang dengan 178 kamar dan 280 tempat tidur.
Pada tahun 2017 tercatat ada 105 wisatawan mancanegara yang berkunjung. Sementara itu, kunjungan wisatawan nusantara tercatat sebanyak 3000 orang dimana angka tersebut mengalami peningkatan dari tahun 2016 yang berjumlah 2700 wisatawan. Pada tahun 2018 kunjungan wisatawan nusantara kembali meningkat menjadi 3259 orang, dan wisatawan mancanegara 57 orang.
Untuk sektor perikanan dan kelautan, sejak 2014 sasaran target produksi ikan Tuna sebanyak 500 ton per hari, hingga kini, sebagaimana data di Dinas Perikanan dan Kelautan, target produksi tersebut mulai berjalan lancar dan terus naik.
Di sektor perikanan, Talaud sebagai negeri ikan memang bukan julukan yang baru. Sepanjang tahun kawasan laut utara Sangihe Talaud ini disemaraki pemandangan takjub dan fantastik dari hempasan tuna.
Dari data yang ada potensi lestari sektor perikanan kawasan ini pertahun sekitar 100 ribu ton. Sementara sekitar 80 persen tuna di Filipina berasal dari laut Talaud. Kemaharayaan sektor perikanan di Selatan Filipina, semisal pelabuhan perikanan di kawasan Gensan pun sangat bergantung pada hasil tangkapan dari laut kepulauan ini.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah mamasukan Talaud dalam Program Pengembangan Kawasan Kelautan dan Perikanan Terintegrasi (PK2PT) di 5 pulau terdepan, yaitu Kabupaten Merauke (Papua), Simeulue (Aceh), Natuna (Riau), Maluku Tenggara Barat (Maluku), dan Sangihe Talaud (Sulawesi Utara).
Data terakhir kata Irwan Hasan, menyebutkan, selama tahun 2010-2019 terdapat 13 sektor yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat yaitu sektor pertambangan dan penggalian, sektor pengadaan listrik dan gas, sektor konstruksi, sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor, sektor transportasi dan pergudangan, sektor penyedia akomodasi dan makan minum, sektor informasi dan komunikasi, sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor real estate, sektor jasa perusahaan, sektor jasa pendidikan, sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial, sektor jasa lainnya.
Dari 17 sektor lapangan usaha, terdapat 4 sektor yang memiliki daya saing kuat (differential shift) yakni Sektor pengadaan listrik dan gas, sektor konstruksi, sektor informasi dan komunikasi, sektor jasa keuangan dan asuransi.
Sepanjang tahun 2010-2019 sektor yang memiliki pertumbuhan cepat, yakni sektor pengadaan listrik dan gas, Sektor konstruksi, Sektor informasi dan komunikasi, Sektor jasa keuangan dan asuransi.
Sektor yang terus berkembang, yakni sektor pertambangan dan penggalian, Sektor perdagangan besar dan enceran, reparasi mobil dan sepeda motor, Sektor transportasi dan pergudangan, Sektor penyedia akomodasi dan makan minum, Sektor real estate, Sektor Jasa perusahaan, Sektor jasa pendidikan, Sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial, Sektor jasa lainnya.
Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan ekonomi daerah itu, baik yang dilakukan oleh pemerintah daerah maupun swasta dalam rangkaian peningkatan kesejahteraan penduduknya dapat dinilai melalui Produk Domestik Bruto (PDRB).
Adapun PDRB adalah jumlah nilai produksi barang dan jasa yang dihasilkan dari berbagai sektor lapangan usaha pada suatu daerah tertentu tanpa memperhatikan pemilikan atas faktor produksi.
Dengan demikian menurut Irwan Hasan, perekonomian suatu daerah dapat dikatakan mengalami pertumbuhan apabila terdapat peningkatan nilai tambah dari hasil produksi barang dan jasa pada periode tertentu, atau dengan kata lain pertumbuhan ekonomi daerah tercermin melalui pertumbuhan angka PDRB.
“Pertumbuhan ekonomi adalah suatu kondisi di mana terjadinya perkembangan GNP yang mencerminkan adanya pertumbuhan output per kapita dan meningkatnya standar hidup masyarakat,” kata Irwan Hasan, calon Bupati berlatar pengusaha dan sarjana ekonomi ini. (*)
Penulis:
Iverdixon Tinungki dan TIM Poros Baru Porodisa


Discussion about this post