Manado, Barta1.com – Padang savana alun-alun suryakencana menjadi cerita bagi setiap pengunjung, yang melakukan pendakian di Gunung Gede Pangrango, Salah satunya adalah Allan Musa Oley.
Pendaki asal Sulawesi Utara ini, menceritakan padang savana di Gunung Gede Pangrango dihiasi dengan bunga abadi atau edelweis. Dan memikat mata dari setiap pendaki, untuk bisa mengambil gambar maupun bersantai sambil menikmati keindahannya.
Bahkan Gunung yang memiliki ketinggian 3.019 mdpl itu, yang Keberadaannya di Provinsi Jawa Barat memiliki jenis fauna Owa Jawa. Fauna ini kadang ditemui oleh kebanyakan orang, sekalipun penduduk sekitar. “Barang siapa yang bisa melihat Owa Jawa, pada saat melakukan pendakian ke Gunung Gede Pangrango, berarti dia seorang yang beruntung,” ungkap Allan.
“Saya melakukan pendakian mengikuti jalur via Putri, yang medannya tidak terlalu menantang, tetapi ketika sampai di alun-alun suryakencana, setiap pendaki akan disuguhi kabut tebal, itu di siang hari. Ketika malamnya, ada hujan disertai dengan badai ringan,” ujar pemuda kelahiran Sawangan, 16 September 1998.
Anggota dari MPA Tarsius Politeknik Negeri Manado ini menambahkan, Gunung Gede Pangrango memiliki 5 pos dengan waktu perjalanan 6 sampai 7 jam untuk mencapai puncaknya.
“Pendakian saat itu sangat berkesan, karena bisa memanfaatkan waktu dan kesempatan sebaik mungkin, kemudian bisa bertemu dangan berbagai pendaki dari daerah yang berbeda-beda, serta suasananya yang begitu tenang, apalagi disuguhkan dengan keindahan alun-alun suryakencana,” tuturnya.
Suryakencana, tambah Allan, sebuah nama yang diambil dari cerita rakyat di sini, di mana Gunung Gede Pangrango ini dikenal sebagai tempat persemayamnya Raden Suryakencana. Sehingga, kawasan Suryakencana dianggap suci dan dilarang untuk melakukan hal yang di luar normal sosial.
“Maka dari itu, setiap perjalanan bukan sekedar mempersiapkan fisik, perlengkapan yang safety, tapi juga harus memiliki pengetahuan tentang daerah yang dituju, baik itu berkaitan dengan cerita lokalnya, seperti batasan-batasan atau ada hal-hal apa yang tidak bisa dilakukan, dan hal itu harus dihormati,” terangnya.
Apalagi masyarakat di bawah kaki Gunung Gede Pangrango, yang juga bagian dari kawasan taman nasional sangat terbuka dengan setiap pendatang. Dalam hal ini pendaki, mereka ramah dan bisa diajak berkomunikasi, apalagi berkaitan dengan apa saja yang tidak bisa dilakukan saat melakukan pendakian.
Allan ketika ditanya kesulitan apa yang didapatkan ?, jika medannya disebut tidak terlalu menantang. Dia menyebut, selain kabut yang tebal, ada juga cuaca yang berubah-rubah. Untuk menghadapinya, hanya cukup menyiapkan perlengkapan yang safety.
“Inti dari pendakian sebenarnya, ketika kita mendapatkan ketenangan, pengalaman dan pembelajaran hidup, serta bisa kembali dengan selamat,” singkatnya.
Anak ketiga dari tiga bersaudara. Dari pasangan Laurensius dan Olga, mengatakan aktivitas Pendakiannya itu dimulai sejak dirinya duduk di sekolah menengah Kejuruan (SMK).
“Dari SMK, Mahasiswa, sampai sudah bekerja ada beberapa Gunung yang sudah saya daki, seperti Gunung Lawu Jatim dan Gunung Gede Pangrango Jabar. Sedangkan di Sulut, ada Gunung Klabat, Soputan, Lokon dan Tampusu,” ucapnya.
Untuk menuju Gunung Gede Pangrango, kata Allan, dirinya menghabiskan uang sebesar 1,5 Juta, untuk kapasitas 2 orang. Itu sudah mencakup transportasi, logistik, simaksi dan sewa perlengkapan.
“Perjalanan saya dimulai dari menaiki Kereta Api dari Pondok Ranji menuju Bogor, kemudian dari Bogor naik angkot ke pasar Ciawi. Dan dari Pasar Ciawi, menuju Cibodas menggunakan Bus hingga bisa mencapai kaki Gunung Gede Pangrango,” imbuhnya.
Menurutnya, jika ada yang mau melakukan pendakian ke Gunung Gede Pangrango, setiap pendaki akan kembali dengan cerita dan pengalaman yang baru, apalagi setelah melihat keindahan padang savana alun-alun suryakencana. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post