Manado, Barta1.com – Dalam renungan Kristen hari ini Minggu, 24 Maret 2024 diberi judul: Yesus Harus Menjalani Jalan Salib sesuai bacaan Alkitab Markus 15:20.
Bagaikan anak domba yang akan dibawa ke pembantaian, Yesus tidak berdaya dan hanya pasrah saja kepada para kepala pasukan dan pengawal Bait Allah yang menyeret-Nya atas suruhan imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua Yahudi untuk membawa Dia ke bukit Golgota untuk digantung, disalibkan dan dibunuh secara mengenaskan dan mengerikan. Dia diseret seperti layaknya bukan manusia lagi. Tak ada belas kasihan sama sekali.
Baik di istana Imam besar Kayafas maupun di hadapan Herodes dan Pilatus, Yesus diolok-olokkan, diludahi, dihina, dipukul dengan buluh, ditinju, dicambuk dengan kejam hingga bermandikan darah, tubuh tercabik-cabik. Kepala-Nya dipakaikan mahkota duri yang tajam sehingga menusuk kepala dan dahi-Nya membuat darah tiada henti mengucur dengan derasnya. Sungguh sangat mengerikan, wajah-Nya sudah tidak seperti manusia lagi.
Dalam keadaan demikian kemudian Dia dipaksa harus berjalan sekitar 3 kilometer jarak-Nya menuju Golgota. Dia juga dipaksa harus memikul salib-Nya sendiri yang membuat Dia berjalan terseok-seok dan jatuh terjerembab ke jalan. Kondisi ini membuat Dia tidak sanggup lagi memanggil salib-Nya yang beratnya sekitar 30 kg itu. Sungguh sangat menderita dan sengsara Yesus menanggung siksa yang tiada bertara itu. Dia harus berjalan terseok-seok dan berulang kali terjatuh dan tak sanggup berdiri lagi.
Dia menanggung semuanya itu demi kita umat manusia, agar selamat dan beroleh kehidupan kekal yang bahagia dan sukacita bersama-Nya di sorga mulia selamanya. Dia tidak bersalah sama sekali. Dia orang benar Dia Tuhan yang amat sangat maha baik. Kemuliaan diri-Nya justeru ditukar dengan Barabas si pemberontak. Mereka lebih memilih si penjahat bernama Barabas yang jahat dan sarat dengan tindakan kriminal serta pemberontakan dari pada memilih Yesus yang terang-terangan adalah pahlawan sejati bagi mereka. Tetapi Yesus memilih menerima siksaan keji tanpa perikemanusiaan yang tergolong biadab itu untuk diri-Nya, karena sayang-Nya akan kita.
Orang-orang yang dulunya menyanjung-nyanjung-Nya berubah jadi benci karena provokasi dari para imam kepala, ahli Taurat dan tua-tua Yahudi. Mereka yang dulunya mengagungkan Dia, kini merekalah yang berteriak-teriak salibkan Dia, salibkan Dia. Itu juga yang terjadi pada Yudas, si orang kepercayaan-Nya. Yesus yang tiada berdaya, kehabisan tenaga dan tak mampu berbuat apapun, selain hanya pasrah. Dalam kondisi antara hidup dan mati, antara sadar dan tidak sadar, menjadi sangat lemah. Fisiknya menurun sangat drastis. Akan tetapi mereka tetap memaksa diri-Nya memikul salib-Nya sendiri dalam perjalanan yang penuh tekanan fisik, fisik dan kejiwaan itu.
Yesus pun mengawali Jalan Salib yang adalah jalan sengsara-Nya yang amat sangat berat itu di bawa pengawalan dan pengawasan ketat diiringi dengan penyiksaan para pengawal dan kepala pasukan Bait Allah yang ambisius dan brutal itu.
Pasukan yang ganas, tak berimbang dan tak terkendali itu membuat Yesus terseret-seret baik oleh tekanan berat badan-Nya hingga jatuh maupun tertindih oleh beban-Nya yang berat. Namun, Yesus terus dipaksa supaya tetap berdiri untuk melanjutkan perjalanan menuju tempat pembinasaan-Nya di Bukit Tengkorak. Dia berjalan diiring para pendengki itu dalam kesabaran, ketenangan dan kekuatan kasih-Nya untuk menyelamatkan dunia yang sudah kehilangan kemuliaan Allah. Jadi Yesus mengawali Jalan Salib dalam ketaatan kepada Allah, demi misi-Nya yang agung dan mulia bagi kepentingan umat manusia.
Ia dibawa keluar kemudian terus dipaksakan berjalan dengan beban yang berat. Dia sangat kelelahan. Tetapi harus melakukan semuanya dalam ketidakadilan karena kebencian dan keserakahan dari orang-orang yang sudah dibutakan oleh hawa nafsu duniawinya. Yesus menerima dan menjalani semua keharusan untuk keselamatan umat-Nya, karena hanya itu satu-satunya jalan agar manusia kembali memperoleh kemuliaan-Nya, dibaharui dan diselamatkan. Yesus pun melewati Jalan Salib, Jalan Sengsara, jalan penuh penderitaan dan disalibkan, hingga mati merenggang nyawa tetapi pada hari ketiga Dia bangkit.
Demikian firman Tuhan hari ini: Sesudah mengolok-olokkan Dia mereka menanggalkan jubah ungu itu dari pada-Nya dan mengenakan pula pakaian-Nya kepada-Nya. Kemudian Yesus dibawa ke luar untuk disalibkan, (ayat 20).
Kristus rela berkorban segalanya demi kita. Renungkan dan hayatilah penderitaan-Nya bagi kita. Responsya dengan hidup mengasihi Dia lebih sungguh lagi.
Introspeksi diri dan datanglah pada-Nya. Pikul Salib dan ikutlah Dia. Senangkan hati dan lakukan segala perintah-Nya. Pasti kita diberkati untuk jadi berkat bagi banyak orang, amin.
Penulis : Agustinus Hari
Sumber : RHK GMIM


Discussion about this post